oleh

Kejari Garut akan Jemput Paksa Kades Karyajaya Tersangka Korupsi ADD

GOSIPGARUT.ID — Kejaksaan Negeri (Kejari) Garut akan menjemput paksa Kepala Desa Karyajaya, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, inisial ES tersangka tindak pidana korupsi Anggaran Dana Desa (ADD) untuk menjalani pemeriksaan hukum karena sudah tiga kali tidak memenuhi panggilan penyidik.

“Jika tak datang, kami akan jemput paksa, kalau dia kabur, maka masuk daftar pencarian orang,” kata Kepala Seksie Pidana Khusus Kejari Garut, Deny Marincka Pratama kepada wartawan, Rabu (4/12/2019).

Ia menuturkan, Kejari Garut telah menetapkan ES sebagai tersangka kasus tindak pidana korupsi ADD sebesar Rp414 juta dari berbagai sumber anggaran program desa di antaranya pembangunan fisik.

Kejari Garut, kata Deny, belum melakukan penahanan tersangka, dan kasus tersebut akan terus dikembangkan untuk mengungkap fakta lain berdasarkan keterangan dari tersangka.

Baca Juga:   Kuras Saldo Orang Lain, Tukang Service Tas Asal Garut Ini Dipolisikan

Namun tiga kali pemanggilan oleh penyidik, tersangka tidak memenuhinya, tanpa memberikan alasan yang jelas kepada penyidik. “Kami panggil, tapi dia tidak datang, tidak ada alasannya juga,” ujarnya.

Deny mengingatkan, tersangka ES dapat kooperatif dengan memenuhi panggilan penyidik untuk pemeriksaan hukum terkait tindak pidana korupsi ADD di Desa Karyajaya.

Penyidik Kejari Garut, kata dia, telah memberikan kesempatan beberapa kali, bahkan tidak dilakukan penahanan selama proses penyidikan kasus yang menjeratnya itu.

Baca Juga:   Seorang Guru Ngaji di Cisewu Diduga Cabuli Belasan Gadis di Bawah Umur

“Memang belum kami tahan meski sudah ditetapkan tersangka, masih ada beberapa proses yang harus dilalui sebelum menahan tersangka,” kata Deny.

Ia menambahkan, Kejari Garut telah memeriksa sejumlah saksi ahli dari Inspektorat dan Dinas Perumahan dan Pemukiman, bahkan meminta keterangan dari kecamatan dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Garut.

Tersangka ES dilaporkan masyarakat telah menggelapkan uang program desa dari berbagai sumber anggaran desa dengan total anggaran sebesar Rp414 juta. “Tersangka sempat mengembalikan uang Rp160 juta, namun bukan berasal dari dana pribadi tapi dari dana desa tahun 2018,” kata Deny. (Ant/Fj)

Komentar

Berita Terkait