Tokoh

Atlet PON Asal Garut Terbaring Lemah dengan Kolostomi, Siti Nur Rahayu Merasa Ditinggalkan

×

Atlet PON Asal Garut Terbaring Lemah dengan Kolostomi, Siti Nur Rahayu Merasa Ditinggalkan

Sebarkan artikel ini
Siti Nur Rahayu.

GOSIPGARUT.ID — Prestasi yang pernah mengharumkan nama daerah kini terasa jauh dari ingatan. Siti Nur Rahayu (22), atlet rugby dan karate asal Kabupaten Garut yang sempat tampil di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh dan Sumatera Utara, kini terbaring lemah setelah dua bulan berjuang melawan sakit serius akibat usus buntu pecah.

Siti harus menjalani operasi besar dan kini hidup dengan kolostomi sementara, kondisi medis yang memaksanya menggunakan kantong di bagian perut untuk pembuangan sisa pencernaan. Kondisi fisiknya belum pulih, bahkan untuk sekadar berjalan pun tubuhnya kerap kembali demam keesokan hari.

“Sekarang agak baikan, cuma kalau misalnya belajar jalan, besoknya panas lagi. Badan enggak kuat,” ujar Siti saat ditemui di rumahnya di Kampung Senibaru, Kelurahan Jayawaras, Kecamatan Tarogong Kidul. Suaranya pelan menahan lelah.

Baca Juga:   Disukai Pembeli, Ekspor Kunyit Asal Garut Terus Ditingkatkan

Sejak 2021, Siti aktif sebagai atlet di dua cabang olahraga, rugby dan karate. Ia mengaku berangkat ke PON sebagai atlet tunggal asal Garut, membawa nama daerah dengan segala keterbatasan. Namun ironisnya, ketika jatuh sakit, perhatian dari pihak-pihak yang selama ini menaunginya justru nyaris tak ada.

“Enggak ada yang ke sini. Pernah satu menjenguk, tapi malah minta persyaratan buat pertandingan, padahal posisi saya lagi di rumah sakit, belum normal,” kata Siti.

Ia menuturkan, baik dari pemerintah daerah, KONI, maupun cabang olahraga terkait, tidak ada bantuan berarti selama dirinya sakit. Bahkan, ia menyebut dukungan dari sesama atlet pun nyaris tak dirasakan.

Persoalan kian rumit ketika BPJS Kesehatan miliknya diketahui tidak aktif. Selama menjalani perawatan pascaoperasi, Siti mengandalkan bantuan orang-orang di luar lingkaran resmi keolahragaan.

Baca Juga:   Asep Lukman Asal Garut Masuk Lingkar Elite Kadin Jabar, Resmi Jabat Waketum Bidang Sosial dan Kebencanaan

“BPJS saya mati. Yang ngurus malah orang-orang baik di rumah sakit, dibantu supaya bisa dirawat,” ucapnya.

Siti memastikan, selama ini tidak pernah ada fasilitas jaminan kesehatan yang disediakan oleh Pemda maupun KONI. Bantuan finansial pun tak pernah diterima, meski kondisinya jelas membutuhkan perawatan lanjutan.

Kini, dokter menyarankan operasi lanjutan untuk menyambung kembali ususnya. Prosedur tersebut membutuhkan biaya besar, sesuatu yang terasa semakin berat di tengah minimnya dukungan.

“Pengen sembuh lagi, pengen cepat operasi lagi,” katanya lirih.

Lebih dari rasa sakit fisik, kondisi ini juga berdampak besar pada mentalnya. Dokter kerap mengingatkan pentingnya menjaga kondisi psikis, namun dukungan itu justru minim datang dari lingkungan terdekat dalam dunia olahraga.

Baca Juga:   Mantan Korwil Pendidikan di Garut Akan Ikut Bertarung di Pemilu Legislatif 2024, Siapa Dia?

“Support itu penting. Karena kadang sudah punya kolostomi gitu, enggak bisa lari-lari lagi, enggak kuat,” ujar Siti.

Dengan suara berat, ia akhirnya mengungkap keputusan pahit soal masa depannya sebagai atlet.

“Berhenti saja. Karena support balik ke kita itu enggak ada,” katanya.

Kisah Siti Nur Rahayu menjadi potret lain dunia olahraga daerah, ketika prestasi kerap dielu-elukan, tetapi nasib atlet justru terabaikan saat mereka terjatuh dan membutuhkan uluran tangan. Sebuah ironi yang kembali mempertanyakan sejauh mana sistem benar-benar hadir untuk para atletnya. ***

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *