GOSIPGARUT.ID — Kreativitas santri di Pondok Pesantren Al Yumna melahirkan sebuah produk kuliner berbahan dasar singkong yang kini mulai dikenal masyarakat, yakni Bolu Sampeu Garut (BSG). Produk tersebut tidak hanya menjadi inovasi olahan pangan lokal, tetapi juga diharapkan mampu menopang operasional pondok pesantren sekaligus meningkatkan kesejahteraan santri dan para guru.
BSG lahir dari upaya pesantren memanfaatkan hasil pertanian yang selama ini dikelola secara mandiri. Di lingkungan pesantren yang berada di Leuweunggaha, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut itu, para santri tidak hanya dibekali pendidikan tahfidz Al Quran dan ilmu agama Islam, tetapi juga diajarkan keterampilan bertani dan berwirausaha.
Pimpinan Pondok Pesantren Al Yumna, Iip Abdul Malik, mengatakan bahwa pendidikan kewirausahaan sengaja diperkenalkan agar para santri memiliki bekal hidup ketika kembali ke masyarakat.
“Selain belajar tahfidz dan ilmu agama, santri juga diajarkan berkebun serta berwirausaha. Tujuannya agar lulusan pondok memiliki kemampuan mandiri dan bisa menciptakan peluang usaha,” ujar Iip, beberapa hari lalu.
Menurut dia, mayoritas santri di Ponpes Al Yumna merupakan yatim piatu dan berasal dari keluarga dhuafa. Karena itu, pengelolaan pesantren kerap menghadapi tantangan, terutama dalam memenuhi kebutuhan operasional dan honor para guru honorer.
Meski demikian, kata dia, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat pengurus pesantren untuk terus menjalankan pendidikan dan kegiatan sosial.
“Berbagai cara kami lakukan untuk membantu biaya operasional pondok, di antaranya bertani durian, pepaya, pisang, hingga singkong. Hasil panen dijual untuk menutupi kebutuhan pondok,” katanya.
Dari hasil pertanian itulah kemudian muncul gagasan mengolah singkong menjadi produk kuliner bernilai tambah melalui Bolu Sampeu Garut. Singkong dipilih karena menjadi salah satu komoditas pertanian yang melimpah di Kabupaten Garut dan telah lama dikenal masyarakat sebagai bahan pangan alternatif.
Iip berharap BSG dapat menjadi identitas kuliner baru dari Kecamatan Banyuresmi. Ia mencontohkan Kecamatan Lewo yang telah dikenal dengan produk Endog Lewo.
“Kalau daerah Lewo punya Endog Lewo, mudah-mudahan Banyuresmi juga punya ciri khas melalui Bolu Sampeu Garut ini,” ucapnya.
Kehadiran BSG turut mendapat perhatian dari anggota DPRD Kabupaten Garut Fraksi PKS, Muhammad Nur Jamaludin. Ia mengapresiasi kreativitas para santri dalam mengembangkan produk olahan pangan lokal yang dinilai memiliki potensi ekonomi.
“Alhamdulillah, Bolu Sampeu Garut mendapatkan dukungan dan apresiasi agar produk santri ini bisa maju dan berkembang menjadi salah satu usaha untuk meningkatkan kesejahteraan santri dan para guru,” kata Iip menirukan dukungan yang disampaikan Muhammad Nur Jamaludin.
Saat ini, proses produksi BSG dikelola para santri kelas X dan XI. Selain belajar membuat produk, para santri juga terlibat dalam pemasaran dengan rutin mengikuti bazar dan berbagai kegiatan masyarakat.
Bagi para santri, kegiatan tersebut bukan sekadar praktik usaha, melainkan bagian dari proses belajar tentang kerja keras, tanggung jawab, dan pentingnya kemandirian ekonomi.
Pihak pesantren pun optimistis usaha tersebut dapat berkembang lebih luas seiring meningkatnya kualitas produk dan pelayanan kepada konsumen.
“Kami terus berusaha meningkatkan kualitas dan pelayanan. Insya Allah, dengan kerja keras dan dukungan masyarakat, usaha kuliner ini bisa terus berkembang,” pungkas Iip. (Ai Karnengsih)



.png)




























