GOSIPGARUT.ID — Nama KH Usep Romli HM tidak hanya dikenang sebagai ulama, sastrawan, dan wartawan nasional. Bagi masyarakat Garut Utara, sosok yang wafat pada 24 Juli 2021 itu juga dipandang sebagai figur yang memberikan inspirasi moral dan keteladanan dalam perjalanan panjang perjuangan daerah, termasuk dalam tumbuhnya aspirasi pembentukan Daerah Otonom Baru (DOB) Kabupaten Garut Utara.
Empat tahun setelah kepergiannya, pemikiran dan nilai-nilai yang diwariskan KH Usep Romli HM masih hidup di tengah masyarakat. Karya-karyanya terus dibaca, pandangannya masih menjadi rujukan, dan semangat pengabdiannya tetap dikenang oleh berbagai kalangan, mulai dari tokoh agama, budayawan, akademisi, hingga aktivis masyarakat.
Ketua Umum Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM Gatra), Holil Aksan Umarzen, menilai KH Usep Romli HM merupakan salah satu tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam membangun kesadaran sosial dan budaya masyarakat Garut.
“Beliau bukan hanya seorang ulama atau budayawan. Beliau adalah guru kehidupan yang mengajarkan pentingnya ilmu, akhlak, budaya, dan pengabdian kepada masyarakat. Pemikiran beliau menjadi bagian dari fondasi moral perjuangan masyarakat Garut Utara,” ujar Holil.
Memadukan Dakwah, Sastra, dan Kebudayaan
KH Usep Romli HM lahir di Limbangan, Garut, pada 16 April 1949. Sejak usia muda, ia dikenal memiliki minat besar terhadap dunia literasi, pendidikan, dan kebudayaan.
Perjalanan hidupnya menghadirkan perpaduan yang jarang dimiliki banyak tokoh. Ia aktif sebagai ulama yang berdakwah di tengah masyarakat, sekaligus menekuni dunia sastra, jurnalistik, dan pendidikan.
Dalam berbagai kesempatan, KH Usep Romli HM kerap menyampaikan bahwa dakwah tidak hanya dilakukan melalui mimbar dan ceramah, tetapi juga melalui tulisan, pendidikan, dan keteladanan hidup sehari-hari.
Pandangan tersebut menjadikan dirinya dikenal sebagai ulama yang mampu membumikan nilai-nilai Islam secara sejuk dan dekat dengan budaya masyarakat Sunda.
Ia meyakini bahwa nilai-nilai Sunda seperti silih asih, silih asah, dan silih asuh sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan kasih sayang, pembelajaran, dan kepedulian sosial.
Karena itu, banyak kalangan menilai KH Usep Romli HM berhasil menjembatani harmoni antara agama dan budaya tanpa mempertentangkan keduanya.
Sastrawan yang Menulis untuk Mendidik
Di dunia sastra, nama KH Usep Romli HM menempati posisi penting dalam perkembangan sastra Sunda modern. Berbagai karya yang ditulisnya tidak hanya menghadirkan keindahan bahasa, tetapi juga sarat pesan moral, pendidikan, dan nilai kemanusiaan.
Beberapa karya yang dikenal luas di antaranya Si Ujang Anak Peladang (1973), Pahlawan-Pahlawan Hutan Jati (1974), Nyi Kalimar Bulan (1982), Aki Dipa (1983), hingga kumpulan puisi Sebelas Tahun (1979) dan Nu Lunta Jauh (1992).
Selain buku-buku tersebut, ia juga menulis ratusan artikel, esai budaya, tulisan keagamaan, serta karya jurnalistik yang tersebar di berbagai media nasional dan daerah.
Bagi KH Usep Romli HM, sastra bukan sekadar sarana hiburan, melainkan media pendidikan yang mampu membentuk karakter masyarakat.
Wartawan yang Menyuarakan Nurani Publik
Di bidang jurnalistik, KH Usep Romli HM dikenal sebagai wartawan senior yang memiliki integritas dan kepedulian tinggi terhadap persoalan masyarakat.
Melalui tulisan-tulisannya, ia banyak mengangkat isu pendidikan, kebudayaan, kehidupan umat, hingga persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.
Rekan-rekannya mengenang sosok KH Usep Romli HM sebagai penulis yang kritis, namun tetap santun dalam menyampaikan gagasan.
Baginya, media bukan hanya alat penyebaran informasi, tetapi juga sarana pencerahan dan pendidikan publik.
Karena konsistensinya itu, ia mendapat penghormatan dari berbagai kalangan, baik di lingkungan pers nasional maupun komunitas budaya Sunda.
Jejak dalam Perjuangan Garut Utara
Dalam catatan sejarah PM Gatra, KH Usep Romli HM juga menjadi salah satu tokoh yang memberikan dukungan moral terhadap perjuangan masyarakat Garut Utara.
Bersama sejumlah ulama dan tokoh masyarakat lainnya, seperti KH Rd. Amin Muhyiddin, Prof. Dr. KH Adang Hambali, dan Rd. H. Didin Umarzen, ia menjadi bagian dari figur yang memberikan legitimasi moral terhadap lahirnya gerakan masyarakat yang memperjuangkan pemerataan pembangunan di wilayah utara Kabupaten Garut.
Sebagai Dewan Penasehat PM Gatra pada masa awal perjuangan, ia kerap mengingatkan agar setiap langkah perjuangan dilakukan dengan ilmu, kesabaran, persatuan, serta tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan akhlak.
Menurut Holil, pesan-pesan tersebut masih relevan hingga saat ini.
“Beliau selalu mengingatkan bahwa perjuangan harus dilandasi niat untuk kemaslahatan masyarakat, bukan kepentingan pribadi atau kelompok. Nilai itu yang terus kami pegang,” katanya.
Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu
Bagi banyak orang, warisan terbesar KH Usep Romli HM bukan hanya buku-buku yang ditinggalkannya, melainkan nilai-nilai kehidupan yang terus menginspirasi.
Ia mengajarkan bahwa ilmu harus menjadi cahaya kehidupan, budaya harus menjadi penjaga jati diri, agama menjadi penuntun moral, dan pendidikan menjadi jalan menuju kemajuan.
Jejak pengabdiannya menunjukkan bahwa seseorang dapat memberikan manfaat luas melalui berbagai jalan sekaligus—melalui dakwah, tulisan, pendidikan, maupun kebudayaan.
Di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat, sosok KH Usep Romli HM menjadi pengingat bahwa kemajuan masyarakat tidak hanya dibangun oleh infrastruktur dan pembangunan fisik, tetapi juga oleh kekuatan pemikiran, keteladanan, dan nilai-nilai moral yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bagi masyarakat Garut Utara, KH Usep Romli HM bukan sekadar nama dalam catatan sejarah. Ia adalah mata air inspirasi yang terus mengalir, menghidupkan semangat untuk mencintai ilmu, menjaga budaya, memperkuat iman, dan membangun masa depan yang lebih baik. ***



.png)




























