Oleh: Ricky Priyatno
BERDIRINYA negeri ini tak bisa dilepaskan dari momentum historis yang menyalakan bara nasionalisme: Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Dari ruang-ruang kecil pertemuan para pelajar, mahasiswa, dan pejuang muda di berbagai daerah, lahirlah kesadaran kolektif bahwa bangsa ini harus bersatu di bawah satu nama: Indonesia.
Mereka bukan sekadar anak muda biasa. Mereka adalah kaum terdidik — baik yang mengenyam pendidikan di tanah air maupun di luar negeri — yang sadar betul bahwa kemerdekaan tidak akan datang jika hanya ditunggu.
Nama-nama seperti Soegondo Djojopoespito, Soenario Sastrowardoyo, Moh. Yamin, Amir Sjarifuddin Harahap, Johanes Leimena, hingga W.R. Supratman, menjadi saksi lahirnya semangat baru. Semangat untuk mengakhiri penjajahan dan menegakkan harga diri bangsa.
Tiga ikrar monumental — satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa — menjadi kompas arah perjuangan. Sumpah Pemuda bukan sekadar teks sejarah, melainkan fondasi bagi terbentuknya bangsa yang menyadari dirinya sendiri.
Tantangan Pemuda di Era Revolusi 4.0
Umar bin Khattab pernah berpesan, “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka akan hidup di zaman yang berbeda dengan zamanmu.”
Pesan ini terasa relevan di era digital yang serba cepat, di mana teknologi bukan hanya alat bantu, tetapi juga penentu arah peradaban.
Di tengah derasnya arus disrupsi, pemuda dituntut tak sekadar melek digital, tetapi juga bijak digital. Artificial Intelligence (AI), big data, dan otomatisasi telah mengubah cara manusia bekerja, berpikir, bahkan berinteraksi. Jika pemuda hari ini tak mampu beradaptasi, ia akan terlempar dari lintasan sejarah yang sedang berlari kencang.
Namun teknologi juga menyimpan jebakan. Dalam pusaran informasi tanpa batas, pemuda bisa kehilangan nalar kritis. Di sinilah pentingnya kemampuan memilah informasi, berpikir reflektif, dan tetap berpegang pada nilai-nilai kebangsaan di tengah globalisasi.
Menguatkan Nalar Kritis dan Karakter Kepemimpinan
Para penggagas Sumpah Pemuda adalah kaum intelektual muda yang gemar berdiskusi, membaca, dan berdebat. Mereka ditempa bukan oleh like dan followers, melainkan oleh gagasan, literasi, dan idealisme. Dari tangan mereka lahir cendekiawan, aktivis, hingga pemimpin bangsa.
Pemuda masa kini perlu meneladani ruh itu. Tidak cukup menjadi penonton sejarah atau sekadar partisipan di media sosial. Pemuda harus menjadi subjek perubahan. Ia mesti peka terhadap isu sosial, kritis terhadap kebijakan publik yang tidak berpihak kepada rakyat, dan berani menyuarakan kebenaran.
Tan Malaka pernah berkata, “Pemuda bukan hanya bagian dari masyarakat, mereka adalah napas yang menghidupkannya.” Dan napas itu hanya akan tetap kuat jika pemuda membangun diri dengan karakter, integritas, dan semangat kepemimpinan yang lahir dari pengalaman nyata di masyarakat.
Mengembalikan Identitas dan Spirit Nasionalisme
Pemuda adalah masa pergolakan batin dan pencarian jati diri. Di fase ini, pendidikan dan pengalaman menjadi fondasi, namun spiritualitas dan moralitas adalah penuntunnya. Ketika pemuda mengenal Tuhannya, ia mengenal dirinya; dan ketika ia mengenal dirinya, ia tahu ke mana arah hidupnya.
Maka, membangun pemuda bukan hanya urusan akademik atau ekonomi, tetapi juga tentang membentuk kesadaran eksistensial — bahwa hidupnya harus memberi makna bagi bangsa dan sesama.
Menyalakan Kembali Obor Sumpah Pemuda
Ikrar Sumpah Pemuda adalah janji suci tentang persatuan dan nasionalisme. Ia bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi semestinya menjadi roh perjuangan di setiap generasi. Perjuangan belum selesai, karena tantangan hari ini jauh lebih kompleks: korupsi moral, polarisasi digital, hingga hilangnya identitas kebangsaan.
Pemuda harus berani melabrak batas dirinya. Meng-upgrade kapasitas, memperkuat daya saing, namun tetap berpijak pada akar budaya bangsa. Jangan alergi terhadap modernitas, tapi juga jangan kehilangan jati diri di dalamnya.
Hanya dengan pemuda yang tangguh, cerdas, dan berkarakterlah obor Sumpah Pemuda akan terus menyala, menerangi perjalanan bangsa menuju Indonesia yang benar-benar berdaulat dan bermartabat.
Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-97.
***



.png)











