GOSIPGARUT.ID — Dentuman kendang berpadu dengan lengking tarompet Sunda memecah keheningan. Seorang penari melangkah mantap, menggigit sebongkah jubleg kayu seberat puluhan kilogram, lalu menggoyangkannya dengan rahang terkatup kuat. Inilah gegel jubleg, kesenian tradisional ekstrem khas Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, yang bukan hanya menyuguhkan tontonan, tetapi juga menyimpan kisah perlawanan.
Gegel jubleg merupakan seni tradisi Sunda yang sejak lama hidup di tengah masyarakat Cisewu. Kesenian ini lazim dipentaskan dalam hajatan kampung dan acara kebudayaan. Namun, di balik gerakannya yang atraktif, gegel jubleg pernah menjadi simbol kekuatan warga yang membuat penjajah berpikir ulang untuk memasuki wilayah tersebut.
Nama kesenian ini berasal dari bahasa Sunda, gegel yang berarti menggigit dan jubleg yang merujuk pada alat tradisional untuk menumbuk padi atau rempah. Sesuai namanya, daya tarik utama gegel jubleg terletak pada kemampuan pemain menggigit jubleg kayu dengan bobot mencapai 30 kilogram, lalu mengangkat dan menggerakkannya sambil menari.
Sebelum tampil, para pemain yang telah dipilih oleh sesepuh kampung biasanya menjalani doa khusus. Mereka kemudian mengenakan pakaian adat Sunda lengkap dengan totopong atau ikat kepala. Alunan kendang dan tarompet Sunda mengiringi setiap langkah, menciptakan suasana sakral sekaligus menegangkan.
Pada masa penjajahan, atraksi ini kerap dipertontonkan kepada orang luar. Ketangguhan para pemain yang mampu mengangkat dan menggoyangkan jubleg dengan gigi dianggap mencerminkan kekuatan fisik masyarakat Cisewu. Cerita turun-temurun menyebutkan, pemandangan itu membuat penjajah mengurungkan niat memasuki wilayah tersebut karena menganggap warganya luar biasa kuat.

Kesenian gegel jubleg pertama kali diciptakan oleh Ukri, seorang seniman asal Cisewu yang lahir sebelum kemerdekaan Republik Indonesia. Ukri dikenal memiliki kepedulian besar terhadap pengembangan potensi seni di kalangan pemuda desa.
Inspirasi gegel jubleg muncul secara tidak sengaja. Suatu ketika, Ukri tengah berada di hutan mencari kayu bakar. Ia dikejutkan oleh seekor babi besar yang menggigit sebatang kayu sambil mengoyang-goyangkannya. Peristiwa itu membekas dan memunculkan gagasan untuk menciptakan seni tradisi baru yang unik dan fenomenal.
Ukri kemudian bereksperimen menggunakan jubleg sebagai properti utama. Dari eksperimen tersebut, lahirlah atraksi menggigit dan mengangkat jubleg yang kelak dikenal sebagai gegel jubleg. Kesenian ini berkembang pesat dan akhirnya terwadahi dalam Kelompok Seni Giri Mekarsewu, yang hingga kini terus melestarikannya.
Memainkan gegel jubleg bukan perkara mudah. Dibutuhkan teknik khusus, kekuatan rahang, serta ketahanan fisik. Jubleg tidak hanya harus diangkat, tetapi juga digoyangkan sambil berjalan mengikuti irama musik tradisional.
Seiring waktu, gegel jubleg mulai rutin dipentaskan dalam berbagai acara, mulai dari hajatan warga hingga peringatan hari besar kemerdekaan. Respons positif dari masyarakat membuat nama “Gegel Jubleg” kian dikenal dan bertahan hingga kini.
Dalam setiap pementasan, gegel jubleg kerap dikolaborasikan dengan kesenian lain, seperti reog Sunda, angklung, dan kendang pencak. Tak jarang pula diselipi atraksi gesrek atau debusan, bahkan saat para pemain mengalami kesurupan, menambah nuansa magis sekaligus memperkuat daya tarik kesenian khas Garut ini. ***

.png)


















