Oleh: Yudi Muhammad Aulia
Majelis Pakar DPW PPP Jawa Barat
MUKHTAMAR X PPP sudah usai. Namun, bukannya menghadirkan rekonsiliasi, pesta demokrasi internal itu justru kembali melahirkan dua kubu yang sama-sama mengklaim sah. Di satu sisi, Mardiono mengantongi legitimasi dari Kemenkumham. Di sisi lain, Agus Suparmanto, pendatang baru yang disokong Romahurmuzy alias Romy, menggugat dengan keyakinan diri membawa payung Mahkamah Partai.
Sebagai kader yang sudah lama mengikuti denyut PPP, saya hanya bisa merasa sedih sekaligus geram. Partai yang dulu menjadi rumah politik saya dan banyak umat, kini terus-menerus diguncang intrik. Bukan sekali-dua kali, tetapi sudah lebih dari satu dekade. Akibatnya tragis: Pemilu 2024 kemarin menjadi catatan terburuk sepanjang sejarah PPP—partai Islam tertua itu gagal menembus Senayan.
Di balik semua drama itu, sulit menutup mata dari satu nama: Romahurmuzy.
Saya tidak menutup mata bahwa Romy pernah saya kagumi. Ia cerdas, komunikatif, bahkan sempat menjadi harapan wajah muda PPP. Namun, perjalanan waktu menunjukkan sisi lain dirinya. Saat masih menjadi Sekjen mendampingi Surya Darma Ali (SDA), justru ia yang kemudian mendorong jatuhnya sang mentor. Dengan cara licik, SDA tersingkir dan Romy naik ke kursi ketua umum.
Belum lama menikmati kursi, publik pun tahu bagaimana Romy akhirnya terjerat kasus korupsi dan mendekam di balik jeruji besi. PPP sempat selamat karena kepemimpinan digantikan Suharso Manoarfa, meski dengan capaian suara yang terus merosot.
Alih-alih belajar dari kesalahan, Romy justru semakin bernafsu. Saat Suharso tergelincir dalam kasus “amplop kiai”, Romy Cs bergerak cepat menghasut Majelis Partai untuk menurunkan Suharso—ironisnya dilakukan ketika ia tengah berada di luar negeri. Mardiono pun naik menjadi Plt. Ketum.
Tidak berhenti di situ, kabar beredar Romy kemudian mencoba menggoyang Mardiono, lagi-lagi dengan dalih manajemen internal yang buruk dan pilihan capres yang salah. Lalu pada Mukhtamar X kemarin, ia “menjual” kursi ketua umum, menawarkan kepada banyak tokoh—dari jenderal purnawirawan hingga pengusaha—seperti pedagang keliling mencari pembeli. Agus Suparmanto akhirnya dipasangkan sebagai caketum.
Jika melihat jejak langkahnya, saya jadi teringat tokoh pewayangan: Sengkuni, penghasut ulung yang menebar fitnah dan memutarbalikkan fakta demi kepentingan pribadi. Begitulah peran Romy di tubuh PPP—selalu hadir di balik drama, selalu mengadu domba, dan selalu ingin kembali berkuasa.
Padahal, apa hasil dari semua itu? Suara PPP terus anjlok, dari pemilu ke pemilu. Dari partai yang pernah berjaya, kini kita bahkan tidak punya kursi di Senayan. Luka ini bukan hanya milik elit, melainkan milik seluruh kader dan simpatisan yang mencintai PPP dengan tulus.
Saya percaya, PPP masih bisa bangkit. Tapi syaratnya jelas: partai harus berani membebaskan diri dari permainan Romy Cs. Intrik, hasutan, dan dagang sapi politik harus dihentikan. Kita perlu kembali ke jati diri sebagai partai umat, bukan partai yang menjadi arena ambisi personal segelintir orang.
Mukhtamar sudah selesai, SK Kemenkumham sudah keluar. Maka, energi seharusnya difokuskan untuk konsolidasi kader, merangkul kembali basis, dan menata langkah menuju Pemilu 2029.
PPP tidak akan pernah bangkit jika masih membiarkan Sengkuni bercokol di dalam tubuhnya. Sudah cukup. Saatnya PPP bebas dari bayang-bayang Romy. ***
Sengkuni dalam tubuh PPP



.png)



















