GOSIPGARUT.ID — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut mempercepat rencana pembangunan koridor jalan Pamalayan–Cikarang (Kecamatan Cisewu)–Cimahi (Kecamatan Caringin) sebagai jalur penghubung baru antara wilayah utara dan selatan Garut. Proyek ini diproyeksikan memangkas jarak tempuh hingga 10–15 kilometer dan menghemat waktu perjalanan sekitar satu jam, sekaligus membuka akses menuju kawasan yang selama ini masih relatif terisolasi.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Garut Agus Ismail mengatakan, koridor tersebut akan menghubungkan Jalan Provinsi Jawa Barat di kawasan Talegong–Cisewu dengan Jalan Nasional Pantai Lintas Selatan (Pansela). Konektivitas baru ini diharapkan menjadi salah satu tulang punggung pengembangan wilayah selatan Garut.
“Jalan Pamalayan–Cikarang–Cimahi merupakan salah satu koridor utama untuk membuka akses ke wilayah selatan. Koridor ini akan menghubungkan jalan provinsi dengan jalan nasional di Pansela sehingga jarak dan waktu tempuh akan jauh lebih efisien,” ujar Agus.
Menurut Agus, pembangunan koridor tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah daerah mendukung kebijakan pemerintah pusat dalam mempercepat pemerataan pembangunan melalui penguatan konektivitas antarwilayah. Infrastruktur jalan dinilai menjadi fondasi penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, memperluas akses pelayanan publik, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ia menjelaskan, keberadaan koridor Pamalayan–Cikarang–Cimahi tidak hanya berfungsi sebagai jalur transportasi baru, tetapi juga menjadi penghubung kawasan strategis yang mampu memperlancar distribusi hasil pertanian, memperkuat ketahanan pangan, mendukung swasembada energi, hingga membuka peluang investasi di wilayah Garut Selatan.
Selain koridor tersebut, Pemkab Garut juga telah menyiapkan sejumlah rencana pembukaan koridor jalan baru di kawasan selatan. Di antaranya jalur Puncakkamerang–Karangsewu–Samudrajaya, koridor Banjarwangi–Pamengpeuk–Banjarwangi–Singajaya hingga Cibalong, serta satu koridor tambahan di wilayah Cisompet.
“Dengan semakin banyak koridor yang dibuka, potensi pengembangan wilayah akan semakin besar, baik untuk sektor pertanian, ketahanan pangan maupun destinasi wisata baru,” kata Agus.
Untuk mendukung realisasi program tersebut, pemerintah daerah mulai menangani sejumlah ruas jalan melalui pendanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Garut. Di sisi lain, koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pemerintah pusat terus dilakukan guna memperoleh dukungan pembiayaan tambahan.
Salah satu sumber pendanaan yang tengah diupayakan berasal dari skema Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 11 Tahun 2025 tentang percepatan pembangunan infrastruktur. Skema ini diharapkan dapat mempercepat pelaksanaan proyek-proyek strategis yang membutuhkan investasi besar sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat.
Apabila seluruh rencana tersebut terealisasi, akses menuju Garut Selatan diperkirakan menjadi jauh lebih singkat. Efisiensi jarak dan waktu tempuh tidak hanya akan memudahkan mobilitas masyarakat, tetapi juga menekan biaya distribusi barang dan jasa sehingga dapat meningkatkan daya saing ekonomi daerah.
Agus menambahkan, peningkatan konektivitas diyakini akan menjadi katalis bagi pengembangan sektor pariwisata. Selama ini wisatawan lebih banyak mengenal Pantai Rancabuaya sebagai tujuan utama di Garut Selatan, padahal masih banyak destinasi lain yang memiliki potensi besar namun belum berkembang optimal karena keterbatasan akses jalan.
“Ketika akses baru terbuka, bukan hanya Rancabuaya yang akan berkembang, tetapi juga akan muncul destinasi-destinasi wisata baru yang selama ini belum tergarap secara optimal,” pungkas Agus. (Yuyus)



.png)



















