GOSIPGARUT.ID — Suhu politik internal DPD Partai Golkar Kabupaten Garut memanas menjelang Musyawarah Daerah (Musda). Penundaan agenda yang semula dijadwalkan pada 27 Agustus 2026 justru memperuncing persaingan antar-faksi. Dua figur utama, Abdusy Syakur Amin dan Aris Munandar, kini berada di pusaran perebutan kursi ketua.
Dinamika di tingkat DPD Partai Golkar Jawa Barat hingga DPP berhembus kencang memengaruhi peta kontestasi di daerah. Ruang jeda akibat penundaan Musda dimanfaatkan para kandidat untuk menggalang basis massa, khususnya di tingkat Pengurus Kecamatan (PK).
Perebutan basis dukungan di level bawah berlangsung sengit. Salah satu kandidat dikabarkan telah mengantongi surat dukungan dari mayoritas PK, memborong sekitar 28 kecamatan. Meski begitu, rivalnya dinilai masih memiliki modal politik dan jaringan akar rumput yang solid, membuat persaingan tetap terbuka.
Mekanisme penentuan kepemimpinan kelak diperkirakan berlangsung amat dinamis. Musda berpotensi menjadi arena voting ketat, atau berakhir pada kompromi politik sebelum forum resmi dibuka. Penundaan jadwal memberi kesempatan bagi elite partai untuk merumuskan formulasi kepemimpinan tanpa memicu keretakan organisasi.
Di tengah tarik-ulur tersebut, muncul wacana pembagian peran antara kekuatan eksekutif dan legislatif. Skenario ini dipandang sebagai jalan tengah untuk menjaga keseimbangan power-sharing dan menjamin soliditas Golkar Garut menghadapi agenda politik mendatang.
Kendati pergerakan di tingkat bawah riuh, keputusan akhir tetap berada di tangan struktur atas. DPD Golkar Jawa Barat dan DPP Golkar memegang kendali penuh untuk menentukan apakah pemilihan dilakukan melalui pemungutan suara langsung atau diarahkan menuju aklamasi.
Kini, seluruh faksi di internal Golkar Garut berada dalam posisi menanti kepastian tanggal pelaksanaan Musda. Keputusan jadwal dari tingkat provinsi akan menjadi peluit start bagi penentuan arah kepemimpinan baru partai berlambang beringin tersebut. (Yuyus/Fj)



.png)





