Budaya

Melawan Kepunahan Bahasa Sunda dari Sebuah Saung di Garut

×

Melawan Kepunahan Bahasa Sunda dari Sebuah Saung di Garut

Sebarkan artikel ini
Melawan kepunahan bahasa Sunda dari sebuah saung di Kabupaten Garut.

GOSIPGARUT.ID — Di tengah tergerusnya penggunaan bahasa daerah oleh arus modernisasi, sebuah ruang belajar sederhana di Kabupaten Garut, Jawa Barat, konsisten mematri benteng pertahanan budaya. Lahir dari keprihatinan atas merosotnya kemampuan berbahasa Sunda generasi muda, Saungkara hadir menyajikan ruang olah kata yang melampaui sekat wilayah.

​Saungkara—akronim dari saung ungkara yang bermakna tempat belajar dan mengolah kata-kata—didirikan pada 2021 oleh penggiat seni bertutur Inda Nugraha Hidayat atau Abah Inda.

Berlokasi di Perum Buana Residence Blok Nazar 1 No. 28, Kelurahan Marvawati, Garut Kota, wadah ini memfokuskan pembinaan pada anak-anak dan remaja agar cakap berbahasa serta bersastra Sunda, baik dalam komunikasi harian maupun seni pertunjukan.

​Daya jangkau komunitas ini tak sebatas lokal. Murid-murid Saungkara kini berdatangan dari berbagai daerah di Jawa Barat, seperti Kota Depok, Kota Bandung, Tasikmalaya, Ciamis, hingga Cianjur. Mereka menempa kemampuan mendongeng (ngadongéng), membaca sajak, pidato (biantara), seni komedi tunggal (borangan), hingga pemandu acara (panumbu catur).

Baca Juga:   ​Eks Kepala BGN Ditahan, GGW Desak Audit Menyeluruh Dapur Program Makan Bergizi di Garut

​”Saungkara lahir dari kegelisahan terhadap semakin berkurangnya minat dan keterampilan generasi muda dalam menggunakan bahasa Sunda, baik dengan kawan sebaya maupun orang tua,” ujar pendiri Saungkara, Abah Inda.

Berbekal pengalamannya sebagai juri Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI), keaktorannya di Studiklub Teater Bandung, serta segudang penghargaan sastra, ia menyusun kurikulum bertutur yang kontekstual dan menarik bagi anak muda.

​Upaya konsisten tersebut mulai membuahkan hasil nyata. Pada ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Kabupaten Garut 2026, jajaran peserta didik Saungkara memborong gelar juara di tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP).

Baca Juga:   297 Peserta Ikut Audisi Pasanggiri Mojang Jajaka Kabupaten Garut 2023

​Di tingkat SD, M. Zayndra Sastra G. (SD Muhammadiyah 5 Garut Kota) meraih Pinunjul 1 Maca Sajak, Reivansya Iskandar (SDN 2 Regol) menyabet Pinunjul 1 Borangan, dan M. Reynand Aqila I. (SDN 1 Sukamaju Cilawu) meraih Pinunjul 1 Ngadongéng.

Gelar juara juga disumbangkan oleh Fathan Rashiqual A., Arsyika Khansa A., Qisya Azzahra Putri, M. Rubiansyah D., Inara Nuha Kh., dan Khumaira Nurhamida.

​Dominasi berlanjut pada jenjang SMP melalui kemenangan Al Fath Daffa S. (SMPN 1 Garut) yang merengkuh Pinunjul 1 Biantara dan Dimas Putra S. (SMPN 2 Garut) sebagai Pinunjul 1 Borangan. Posisi kejuaraan lain diraih oleh Safjra Siti Sabitah, Maula Kendra El Farizi, dan Ahnaf Ann… Al Qusyairi dari SMPN 2 Garut.

Baca Juga:   Fatwa MUI: Pinjol Haram karena Riba, Mengancam dan Membuka Aib

Efektivitas pembinaan juga terbukti di luar daerah; Sabil Nuralisti dari SMP Tunas Unggul Bandung sukses menyabet Pinunjul 2 Biantara pada FTBI Kota Bandung.

​Secara berkala, Saungkara mengukuhkan perannya lewat agenda Saungkara Mitutur. Ajang ini memadukan pelatihan seni bertutur bagi guru dan mahasiswa, pasanggiri tingkat pelajar, hingga pentas seni bertutur yang melibatkan praktisi senior.

​Capaian para siswa di FTBI 2026 menegaskan bahwa pelestarian bahasa ibu tidak cukup sekadar mengandalkan wacana formal di sekolah. Pendekatan komunitas yang dinamis seperti yang diterapkan Saungkara terbukti mampu menanamkan kembali kebanggaan berbahasa Sunda pada generasi penerus di tengah gempuran zaman. (Yuyus)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *