GOSIPGARUT.ID — Pertumbuhan pariwisata mulai mengerek ekonomi dan penerimaan daerah Kabupaten Garut. Pergerakan wisatawan pada 2025 meningkat 26,15 persen. Dampaknya terasa pada pajak perhotelan yang tumbuh 47,17 persen dan pajak makanan-minuman sebesar 35,53 persen.
Data itu dipaparkan dalam Rapat Koordinasi Optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dipimpin Bupati Garut Abdusy Syakur Amin di Ruang Rapat Sekretariat Daerah Kabupaten Garut, Kamis, 3 September 2026. Syakur mengatakan pertumbuhan sektor pariwisata harus dipertahankan agar menjadi penggerak ekonomi daerah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pariwisata Garut tumbuh 13,2 persen. Syakur menilai pertumbuhan tersebut merupakan hasil kerja pemerintah bersama pelaku usaha dalam menarik wisatawan dari luar daerah.
“Di otak kami, kalau sektor (perekonomian bagus) maka harus dijaga pertumbuhannya jangan sampai (turun lagi), susah lagi kalau bertambah,” kata Syakur.
Menurut dia, pemerintah tidak boleh hanya mengandalkan destinasi wisata. Berbagai kegiatan yang mampu mendatangkan orang ke Garut perlu diperbanyak. Event pariwisata, olahraga, budaya, hingga keagamaan dinilai dapat menjadi pemicu perputaran ekonomi.
“Menurut saya, bahwa salah satu cara yang sangat bagus untuk pertumbuhan ekonomi adalah melakukan event-event yang banyak,” ujarnya.
Kunjungan Masih Terkonsentrasi
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut Beni Yoga Gunasantika mengatakan peningkatan kunjungan wisatawan belum diikuti pemerataan. Sebagian besar wisatawan masih memilih kawasan tengah dan perkotaan.
Data Disparbud menunjukkan 70 persen kunjungan wisatawan berada di kawasan tengah dan perkotaan. Wilayah selatan mendapat sekitar 12 persen kunjungan, sedangkan wilayah utara hanya 6,7 persen.
Pemerintah berencana memperkuat kawasan yang telah menjadi kantong kunjungan sekaligus menggunakannya sebagai pintu masuk menuju destinasi lain.
“Sehingga kami melihat potensi seperti itu kita akan fokus untuk menunjang terhadap pertumbuhan untuk daya dukung di daerah tengah dan perkotaan,” kata Beni.
Salah satu proyek yang disiapkan adalah penataan pintu gerbang kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Cipanas tahun ini. Pemerintah akan membangun fondasi kawasan dengan konsep one-role service atau kawasan terpadu.
Penataan itu diharapkan tidak hanya mempercantik kawasan Cipanas. Pemerintah ingin Cipanas menjadi magnet yang mendorong wisatawan mengunjungi destinasi lain di Kabupaten Garut.
Celah Pajak Masih Terbuka
Kepala Badan Pendapatan Daerah Kabupaten Garut Ridzky Ridznurdhin mengatakan sektor akomodasi serta makanan dan minuman menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah.
Data BPS 2025 mencatat sektor akomodasi dan makanan-minuman tumbuh 13,62 persen. Angka itu menjadi pertumbuhan sektoral tertinggi di Kabupaten Garut.
Pergerakan wisatawan meningkat 26,15 persen. Mayoritas pengunjung berasal dari Bandung dan daerah sekitarnya.
“Kemudian kalau kita lihat dari sisi pertumbuhan juga luar biasa. Ini data BPS 2025, ini menunjuk pertumbuhan sektoral yang paling tinggi itu ada di akomodasi makan minum sebanyak 13,62 persen,” kata Ridzky.
Kenaikan aktivitas wisata turut mendongkrak penerimaan pajak daerah. Pajak perhotelan tumbuh 47,17 persen. Pajak makanan dan minuman naik 35,53 persen. Tingkat hunian kamar juga meningkat 6,95 persen.
Namun, pemerintah masih menghadapi persoalan lain: belum semua pelaku usaha yang tercatat memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) melalui sistem Online Single Submission (OSS) masuk dalam basis Wajib Pajak Daerah atau memiliki NPWPD.
Kesenjangan itu menjadi celah yang hendak ditutup pemerintah. Pertumbuhan usaha dan kunjungan wisatawan dinilai belum cukup jika tidak diikuti kepatuhan administrasi dan perpajakan.
Rakor optimalisasi PAD tersebut pun diarahkan untuk menghubungkan dua kepentingan: menjaga laju pariwisata sekaligus memastikan pertumbuhan ekonomi menghasilkan penerimaan daerah yang sepadan. ***



.png)
















