GOSIPGARUT.ID — Anggota Komisi IV DPRD Provinsi Jawa Barat, Ahab Sihabudin, mengingatkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi agar tidak melangkah di luar garis yang sudah disepakati para alim ulama. Menurutnya, masyarakat Jawa Barat dikenal religius dan islami, sehingga pemimpin mesti menjaga sikap agar tidak bertolak belakang dengan nilai-nilai tersebut.
“Kami berharap Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, tidak melakukan hal-hal yang bertolak belakang dengan kesepakatan para alim ulama. Islam sangat menentang hal-hal yang sifatnya khurafat, mitos, apalagi penghormatan terhadap mitos,” kata Ahab, Selasa, 19 Agustus 2025.
Ia menyinggung praktik penghormatan pada simbol-simbol mistis yang kerap muncul dalam agenda resmi pemerintah provinsi. “Pemimpin itu teladan. Masyarakat Jawa Barat religius dan islami, jadi tidak pantas jika ada pemujaan terhadap mitos, seperti sosok Nyi Roro Kidul atau kereta kencana yang selalu ditampilkan di acara-acara resmi,” ujar legislator Fraksi PKS itu.
Ahab menegaskan, para ulama di Jawa Barat sudah meneguhkan sikap menolak segala bentuk pemujaan terhadap mitos. Karena itu, ia meminta gubernur sejalan dengan kesepakatan tersebut. “Para alim ulama sudah membuat kesepakatan. Kami berharap gubernur tidak bertindak bertolak belakang dengan itu,” tandasnya.
Sejarawan: Nyi Roro Kidul Hanya Mitos
Pandangan senada disampaikan ahli sejarah Garut, Warjita. Ia menilai sosok Nyi Roro Kidul yang kerap diangkat dalam acara budaya hanyalah mitos belaka, bukan bagian dari sejarah.
“Mitos itu berbeda dengan sejarah. Sejarah didasarkan pada keilmuan yang bisa dipertanggungjawabkan, sementara mitos hanyalah kepercayaan yang berkembang sejak lama, bahkan jauh sebelum Hindu-Buddha dan Islam datang,” ucap Warjita.
Menurutnya, kepercayaan pada makhluk gaib seperti tuyul, genderuwo, atau Nyi Blorong sudah hidup di masyarakat Nusantara sejak dahulu. Namun, ia menegaskan, itu tidak bisa dicampuradukkan dengan fakta sejarah.
“Apalagi jika sosok Nyi Roro Kidul dikaitkan dengan putra Prabu Siliwangi, itu tidak pernah ada. Yang harus diluruskan, Nyi Roro Kidul hanyalah mitos,” katanya.
Warjita menekankan, dalam menyampaikan sejarah, seorang sejarawan wajib menggunakan metode yang jelas: pendekatan holistik, kritik data, interpretasi, hingga historiografi. “Ahli sejarah itu bertanggung jawab secara keilmuan. Tidak boleh mencampurkan mitos dengan sejarah,” ujarnya. (Ai Karnengsih)



.png)












T3gaskan.saja
Perbuatan KDM mempercauai Nyi Roro Kidul dan semacamnya ITU PERBUATAN SYIRIK/MUSYRIK