GOSIPGARUT.ID — Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengklaim keberhasilan menekan angka kemiskinan dan pengangguran sepanjang 2025, didorong oleh serangkaian program intervensi sosial dan ekonomi yang dinilai tepat sasaran.
Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kemiskinan di Jawa Barat pada 2025 turun menjadi 6,78 persen atau sekitar 3,55 juta jiwa. Angka ini lebih rendah dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar 7,08 persen.
“Penurunan ini merupakan hasil kerja bersama melalui strategi yang dilakukan secara simultan, mulai dari pengendalian kerawanan pangan hingga peningkatan pendapatan masyarakat,” ujar Erwan dalam keterangannya, Selasa (7/4/2026).
Menurut dia, salah satu kebijakan yang berkontribusi signifikan adalah pembiayaan iuran jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin oleh pemerintah daerah. Langkah ini dinilai efektif dalam mengurangi beban pengeluaran rumah tangga kelompok rentan.
Selain itu, Pemprov Jabar juga memperluas akses energi dengan menyediakan 76.123 sambungan listrik gratis di 1.367 desa. Upaya menjaga daya beli masyarakat dilakukan melalui Gerakan Pangan Murah yang digelar sebanyak 1.874 kali sepanjang 2025 lewat operasi pasar bersubsidi.
Di sektor ketenagakerjaan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Jawa Barat juga menunjukkan tren penurunan. Pada 2025, angka TPT tercatat sebesar 6,66 persen, melampaui target pemerintah yang ditetapkan sebesar 6,99 persen.
Erwan menjelaskan, penurunan pengangguran didorong oleh meningkatnya serapan tenaga kerja di berbagai sektor. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tercatat menyerap sekitar 0,10 juta tenaga kerja, disusul sektor pendidikan dan akomodasi.
Selain itu, pemerintah daerah menyalurkan bantuan modal usaha kepada 57 Kelompok Usaha Bersama (KUBE) guna mendorong peningkatan pendapatan masyarakat miskin.
Data hingga November 2025 menunjukkan, sektor reparasi mobil dan sepeda motor menjadi kontributor terbesar dalam penyerapan tenaga kerja di Jawa Barat dengan porsi 22,44 persen. Sementara itu, industri pengolahan menyusul dengan kontribusi sebesar 18,61 persen.
Erwan menilai, sinergi berbagai program lintas sektor tersebut menjadi kunci dalam menjaga stabilitas ekonomi masyarakat Jawa Barat di tengah dinamika tantangan pembangunan daerah. ***



.png)




























