GOSIPGARUT.ID — Vokalis sekaligus gitaris Voice of Baceprot (VOB), Firda Marsya Kurnia atau Marsya, menyoroti buruknya kondisi jalan Banjarwangi-Singajaya di Garut Selatan, Jawa Barat. Sorotan itu muncul hanya beberapa hari sebelum band metal asal Garut tersebut merilis lagu terbaru berjudul “Garong”.
Marsya menyampaikan kritik tersebut melalui akun media sosial pribadinya. Unggahan itu kemudian dipublikasikan kembali melalui akun resmi VOB. Jalan yang rusak di wilayah tempat Marsya lahir dan tumbuh itu kembali menjadi perhatian publik.
Menurut Marsya, persoalan infrastruktur jalan di sejumlah wilayah Garut bukan perkara baru. Kerusakan jalan telah berlangsung lama dan berdampak langsung terhadap mobilitas serta akses masyarakat.
“Jalan yang baik adalah hak dasar warga, karena akan mempengaruhi akses terhadap pertanian, pendidikan dan kesehatan. Harusnya, hal itu segera diselesaikan,” kata Marsya.
Ia menilai jalan yang buruk bukan sekadar mengganggu perjalanan. Kondisi tersebut dapat membatasi kesempatan warga untuk memperoleh pendidikan, mengangkut hasil pertanian, maupun mendapatkan layanan kesehatan.
Risiko keselamatan juga menjadi perhatian. Pengguna jalan, kata dia, harus menghadapi kecemasan setiap hari karena jalan berlubang dan rusak dapat memicu kecelakaan.
Marsya bahkan menyoroti risiko yang dapat dialami perempuan dan kelompok rentan ketika harus melintasi jalan tersebut. Ia menggambarkan bagaimana kondisi jalan yang buruk dapat menjadi persoalan serius bagi ibu hamil yang membutuhkan perjalanan menuju fasilitas kesehatan.
Sorotan Marsya datang ketika Pemerintah Kabupaten Garut tengah mengubah strategi pembiayaan untuk penanganan ruas Banjarwangi-Singajaya.
Wakil Bupati Garut Putri Karlina mengatakan pemerintah daerah tidak lagi sepenuhnya mengandalkan anggaran kabupaten. Pemkab Garut mengubah skema pembiayaan dari sekitar Rp20 miliar menjadi pengajuan dukungan pemerintah pusat melalui program Instruksi Jalan Daerah atau IJD.
Pemkab, kata Putri, kini menyiapkan sekitar Rp5 miliar. Anggaran tersebut diarahkan untuk menangani bekas longsoran dan melakukan pelebaran di sejumlah titik sebagai bagian dari persyaratan pengajuan IJD.
“Pemkab Garut kini hanya menyiapkan sekitar Rp5 miliar untuk menangani bekas longsoran dan pelebaran di sejumlah titik sebagai bagian dari persyaratan pengajuan IJD,” ujar Putri.
Skema tersebut menunjukkan bahwa perbaikan ruas Banjarwangi-Singajaya tidak semata bergantung pada kemampuan fiskal pemerintah daerah. Dukungan pemerintah pusat menjadi salah satu opsi untuk mempercepat penanganan jalan yang menjadi jalur penting bagi masyarakat di Garut Selatan.
Namun, sorotan VOB membuat persoalan itu memiliki panggung yang lebih luas. Band yang digawangi Marsya, Siti Aisyah dan Euis Siti Aisyah itu telah tampil di berbagai festival musik nasional dan internasional. Lagu mereka, termasuk “God, Allow Me (Please) to Play Music”, telah dikenal luas.
Di luar panggung, Marsya juga kerap menyuarakan persoalan masyarakat di wilayah pinggiran serta isu kesetaraan gender. Kiprahnya membuat namanya tidak hanya dikenal sebagai musisi.
Marsya bahkan masuk dalam daftar 100 perempuan berpengaruh versi BBC.
Karena itu, ketika “Garong” resmi dirilis, perhatian publik kemungkinan tidak hanya tertuju pada musik VOB. Jalan Banjarwangi-Singajaya yang disorot dari kampung halaman Marsya juga berpotensi tetap menjadi bagian dari perbincangan.
Persoalan berikutnya berada di tangan pemerintah: apakah kritik dari seorang musisi asal Garut itu akan berujung pada percepatan perbaikan jalan, atau kembali menjadi sorotan yang berlalu bersama waktu. (April P)



.png)



























