GOSIPGARUT.ID — Voice of Baceprot atau VoB tidak lahir dari Bandung. Bukan pula dari pusat keramaian Kota Garut yang memiliki akses lebih dekat dengan berbagai panggung musik. Band metal yang digawangi Marsya, Widi, dan Siti itu justru tumbuh dari Banjarwangi, kawasan pelosok di selatan Garut, Jawa Barat.
Kelahiran VoB menjadi anomali dalam peta musik Garut. Di tengah keterbatasan infrastruktur, akses panggung, serta ruang ekspresi, tiga perempuan muda dari Banjarwangi mampu membangun musik dengan karakter keras dan energi perlawanan. Sesuatu yang, secara kasat mata, justru lebih mudah tumbuh di kota dengan kultur musik underground yang telah mapan.
Pertanyaan pun muncul: mengapa VoB tidak lahir di Kota Garut? Atau Bandung, yang sejak lama dikenal memiliki ekosistem musik underground?
Jawaban paling sederhana adalah karena Banjarwangi merupakan tempat ketiga personel VoB tumbuh. Di sekolah, mereka mengikuti kegiatan ekstrakurikuler teater yang dibimbing Ezra. Dari lingkungan itulah ketiganya menemukan ruang untuk berekspresi. Musik metal kemudian menjadi medium yang mereka pilih untuk menyuarakan kebebasan di tengah berbagai batasan sosial dan budaya.
Namun, menurut Ezra, cerita VoB tidak sesederhana itu.
Ezra merupakan salah satu pendiri, sahabat, sekaligus guru bagi Marsya, Widi, dan Siti. Kepada GOSIPGARUT.ID pada Kamis, 3 September 2026, ia mengungkap adanya jejak musik underground Garut yang ikut membentuk lanskap pengetahuan musikal mereka.
Ezra mengingat pertengahan 2000-an ketika Jalan Siliwangi Garut menjadi salah satu tempat berkumpul anak-anak underground. Sejumlah band, antara lain Holocaust dan Tutab, tumbuh pada periode tersebut.
“Kala itu saya hanya nongkrong, menikmati dan menjadi penonton yang baik,” ujar Ezra.
Meski tidak menjadi musisi pada masa itu, pengalaman tersebut meninggalkan ingatan tentang bagaimana musik underground tumbuh dari ruang-ruang alternatif. Ingatan itu kemudian ia ceritakan kepada tiga personel VoB ketika band tersebut mulai dirintis.
“Di periode awal perjalanan VoB saya kerap bercerita kepada mereka tentang kemunculan musik underground Garut. Tentu saja sebatas ingatan dan pengetahuan pendek saya tentang itu,” kata dia.
Bagi Ezra, musik tidak berdiri sendiri dalam satu periode. Ada pengaruh yang bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bentuk dan karakter musik bisa berubah, tetapi keberanian untuk menciptakan ruang ekspresi dapat diwariskan.
Karena itu, ia melihat VoB bukan sebagai fenomena yang muncul tanpa akar. Band tersebut memang lahir di Banjarwangi, tetapi keberaniannya beririsan dengan sejarah panjang musik alternatif di Garut.
Paradoksnya, Garut sebenarnya memiliki modal musikal yang kuat. Menurut Ezra, daerah ini berulang kali melahirkan musisi dengan karakter dan identitas musikal yang menonjol. Persoalannya adalah ruang untuk memperkenalkan karya.
“Menurut saya Garut sering melahirkan musisi-musisi berpribadi. Memiliki watak musikal dan kepribadian yang kuat hampir di setiap periode. Hanya saja minimnya ruang-ruang kesempatan untuk menggaungkan karya-karya mereka sepertinya masih menjadi kendala,” tuturnya.
Kondisi itu membuat banyak karya berhenti di tingkat lokal. Sebagian musisi sempat muncul, tetapi kemudian tenggelam sebelum memperoleh kesempatan lebih besar.
VoB berhasil menembus situasi tersebut. Mereka justru menggunakan musik metal—genre yang identik dengan kritik, kebebasan, dan perlawanan—untuk membawa nama Banjarwangi dan Garut ke ruang yang jauh lebih luas.
Di situlah letak keunikan VoB. Mereka membantah anggapan bahwa musik dengan karakter kuat hanya dapat lahir dari kota dengan infrastruktur budaya yang lengkap.
VoB lahir dari daerah yang jauh dari pusat industri musik. Tetapi keterbatasan itu tidak otomatis mematikan kreativitas.
Ezra meyakini masih banyak karya berkarakter di Garut yang belum menemukan panggungnya.
“Karya-karya yang berpribadi suatu saat akan menemukan waktu dan tempat yang tepat untuk mengemuka,” kata dia.
VoB mungkin telah menemukan waktu dan tempat tersebut. Dari Banjarwangi, musik mereka menjadi penanda bahwa peta musik Garut tidak selalu bergerak dari pusat kota. Kadang, suara paling keras justru datang dari pelosok. (April P)



.png)















