GOSIPGARUT.ID — Pimpinan Paguyuban Tunggal Rahayu yang kini menghebohkan di Kabupaten Garut mengklaim dirinya bergelar Prof. Dr. Ir. H. Cakraningrat SH. Namun dari hasil penelusuran, pimpinan paguyuban tersebut bernama Sutarman dan hanya lulusan SMP.
“Ini sudah pelecehan terhadap dunia akademisi. Dia mengklaim beberapa gelar, mulai profesor, doktor, sampai insinyur dan beberapa gelar lainnya,” kata Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Garut, Wahyudijaya, Selasa (8/9/2020).
Ia menambahkan, dari penelusuran Bakesbangpol, nama asli pimpinan Paguyunan Tunggal Rahayu adalah Sutarman yang juga menggunakan nama alias yaitu Wijaya Nata Kusuma Negara.
Menurut sejumlah orang-orang yang pernah dekat dengan Sutarman, pria ini adalah kelahiran Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut. Selepas lulus SMP di Cisewu, ia sempat melanjutkan sekolah ke Madrasah Aliyah di Cisewu namun tidak tamat.
Alamat paguyubannya pun, awalnya berpusat di Kecamatan Caringin. Tapi karena masyarakat di Caringin terganggu, mereka memindahkan aktivitas ke Cisewu. Pemerintah bersama polisi dan TNI kini tengah mengusut keberadaan paguyuban tersebut.
Sebab, tidak hanya mengubah lambang negara, Paguyuban Tunggal Rahayu juga memiliki uang tersendiri. Uang itu bahkan disebut sudah dipakai untuk transaksi antar anggota paguyuban.
Wahyu menyebut, paguyuban itu sudah membuat uang pecahan 1.000, 5.000, 10.000, dan 20.000. Malah di pecahan uang 20.000 itu, terdapat gambar pimpinan paguyuban.
“Mereka sudah mempunyai uang sendiri. Bahkan di gambar uang 20.000 itu, ada foto pimpinan paguyuban. Seperti memakai baju ala Pak Soekarno,” katanya.
Dilihat dari desain foto di uang tersebut, Wahyu menyebut jika gambar yang dipakai merupakan foto Soekarno. Namun wajah presiden pertama Indonesia itu diubah menjadi wajah Cakraningrat.
“Informasinya sudah dijadikan alat transaksi oleh anggotanya. Yang mengagetkan, dia memakai Bank Indonesia di dalam uangnya. Mungkin persoalan uang ini nanti dikaji lagi sisi hukumnya,” ucap Wahyu. (TSN)



.png)











