GOSIPGARUT.ID — Jumlah tenaga pengajar di SDN 02 Pamulihan, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, sangat tidak memadai sehingga menghambat proses belajar mengajar (KBM) di sekolah tersebut.
Hal itulah yang kemudian mengetuk nurani sejumlah mahasiswa Universitas Garut (Uniga) untuk jadi pengajar di sana selama sebulan.
Keinginan tersebut muncul ketika kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Uniga yang tengah melaksanakan KKN di Kecamatan Cisurupan mengunjungi SDN 02 Pamulihan. Mereka menerima curhatan dari para siswa bahwa di sekolahnya kekurangan guru.
“Para siswa di SD Pamulihan sangat membutuhkan guru pokok, terutama untuk kelas satu dan dua,” kata Yuda Yudia Prasetia, salah seorang mahasiswa KKN Uniga.
Ia menambahkan, ketika para mahasiswa datang dan menyatakan siap jadi tenaga pengajar, siswa-siswa SDN 02 Pamulihan tampak antusias dan gembira.
“Hasil observasi kami ke sekolah, kebanyakan siswa belajar secara mandiri tapi tidak efektif karena tanpa didampingi oleh guru mengingat kurangnya tenaga pengajar,” tegas Yuda.
Ia berharap, dengan adanya KKN mahasiswa Uniga ini dapat membantu mengatasi keterbatasan SDM (sumber daya manusia) di bidang pendidikan. Ia juga berharap pemerintah lebih memperhatikan SDN 02 Pamulihan demi tercapainya tujuan dalam pendidikan.
Kepala SDN 02 Pamulihan, Wati, membenarkan jika sekolahnya sangat membutuhkan tenaga pengajar. Dengan jumlah siswa cukup banyak di enam kelas, sekolahnya hanya memiliki lima orang guru.
“Guru tersebut terdiri dari satu guru PNS dan empat guru honorer. Untuk membagi jadwal belajarnya, satu guru honorer memegang dua kelas sekaligus yaitu kelas I dan kelas II,” ujar dia.
Wati menambahkan, karena kekurangan tenaga pengajar, KBM di sekolahnya pun dibagi dua sift. Untuk kelas satu belajar pada waktu pagi, dan kelas dua pada siang hari. (Anisa/Fuji/Yuyus)



.png)











