GOSIPGARUT.ID — Di balik perbukitan hijau yang membingkai langit selatan Kabupaten Garut, aroma wangi nasi tutug oncom mengepul dari dapur-dapur sederhana. Desa-desa seperti Cisewu, Pameungpeuk, Bungbulang, dan Cikelet menyimpan kekayaan rasa yang tak banyak dibicarakan, namun meninggalkan kesan mendalam bagi siapa pun yang menjelajahinya.
Di sini, makanan bukan sekadar pangan. Ia adalah warisan.
Nasi tutug oncom daun jengkol: Sarapan warga lereng
Pagi hari di Desa Sukajaya, Cisewu. Asap dari pembakaran oncom dan kayu bakar membubung pelan. Di sebuah warung sederhana milik Ibu Imih, tampak piring-piring anyaman berisi nasi yang ditumbuk bersama oncom, dibungkus daun jengkol muda.
“Kalau belum makan ini, belum kerja,” ujar seorang petani yang singgah sambil menggulung sarungnya.
Rasa gurih pedas dari tutug oncom dipadukan dengan sambal dadak dan ikan asin menciptakan harmoni sederhana yang tak pernah lekang oleh waktu. Aroma khas daun jengkol menambah keunikan yang tidak ditemukan di daerah lain.
Ares dari Pameungpeuk: Menyulap limbah menjadi cita rasa
Di wilayah pesisir Pameungpeuk, tradisi masak “ares” masih hidup. Terbuat dari pelepah pisang muda yang dipotong halus dan dimasak dalam santan dengan rempah ringan. Makanan ini dulunya dikenal sebagai “sayur darurat” di masa paceklik.
Kini, ares justru menjadi kuliner nostalgia yang banyak dicari wisatawan domestik. Di setiap suapan, tersimpan cerita ketangguhan masyarakat pesisir yang terbiasa menyulap apa yang ada menjadi sesuatu yang bernilai.
Daun picung, picu selera Bungbulang
Bergeser ke Bungbulang, nasi liwet daun picung menjadi sajian istimewa dalam setiap kenduri dan syukuran. Daun picung, yang secara alami mengandung senyawa toksik, terlebih dahulu diolah melalui perendaman dan perebusan berjam-jam untuk menghilangkan racun.
Setelah itu, daun ini dimasak bersama nasi, santan, dan rempah-rempah, menciptakan rasa getir-manis yang khas. Seperti masyarakatnya, makanan ini mengajarkan bahwa segala sesuatu yang keras pun bisa dilunakkan dengan proses dan kesabaran.
Kadedemes dan cimplung: Rasa dari akar rumput
Di sudut-sudut warung kampung, kadedemes — tumis kulit singkong muda dengan cabai — disajikan hangat-hangat. Makanan ini bukan sekadar lauk, tapi simbol semangat bertahan masyarakat tani.
Sementara itu, cimplung (singkong rebus gula aren) kerap disajikan sebagai camilan sore. Sederhana, murah, namun dalam satu gigitan, menghadirkan kehangatan rumah dan kebersamaan.
“Kadedemes itu makanan dari jaman perjuangan. Tidak banyak, tapi mengenyangkan dan penuh rasa,” tutur Kang Dodo, seorang petani di Cihurip.
Lautan cita rasa di pesisir Cikelet
Tak lengkap rasanya bicara kuliner Garut Selatan tanpa menyebut hasil laut dari Cikelet dan Mekarmukti. Di pantai-pantai seperti Sayangheulang dan Santolo, kita bisa menikmati cumi bakar kecap, ikan jambal roti goreng, hingga sambal kencur yang pedas menggigit.
Kelezatan itu makin sempurna bila disantap sambil memandang cakrawala laut selatan yang luas dan liar.
Menjaga tradisi lewat rasa
Makanan di Garut Selatan belum tersentuh industrialisasi. Semuanya masih dikerjakan dengan tangan, dengan resep yang diwariskan secara lisan dari ibu ke anak. Di balik kesederhanaan penyajian, tersimpan filosofi hidup, nilai gotong royong, dan cara pandang masyarakat terhadap alam.
“Makanan ini bukan hanya untuk perut, tapi untuk ingatan,” ujar Ujang Rahmat, pengelola homestay di Bungbulang.
Ketika kota-kota besar berlomba dengan inovasi fusion food dan plating mewah, Garut Selatan justru meneguhkan dirinya lewat kejujuran rasa. Ia tidak berusaha tampil modern, tapi justru memikat karena kesahajaannya.
Dan di setiap suapannya, kita bukan hanya mencicipi makanan — tapi mengenal budaya, sejarah, dan keteguhan hati masyarakatnya. “Garut Selatan punya rasa yang tak bisa dipalsukan. Rasa yang dibentuk dari tanah, peluh, dan doa.” ***



.png)















