TERLEPAS dari pro dan kontra. Secara objektif saya melihat akselerasi Presiden Rusia Vladimir Putin begitu cepat mengambil keputusan untuk berperang. Sistematika Putin dalam melakukan invasi pun terindikasi bercampur emosi. Akibatnya, Putin harus cepat menghentikan perang dengan cara segera meraih kemenangan dan atau terpaksa memilih opsi jalur diplomasi sebagaimna yang diserukan Amerika Serikat (AS) dan NATO, juga masyarakat internasional lainya terutama yang berhaluan netral.
Menurut pandangan saya, AS dan NATO beserta 27 negara-negara Eropa lainnya yang pro Ukraina, sebenarnya tidak terlalu berambisi untuk mengalahkan para soldadu Rusia di medan tempur. Tapi mereka lebih tertarik memikirkan cara agar Rusia dapat menghentikan invasi melalui tekanan lain. Atau mendorong Rusia agar mau mengambil jalan diplomasi lalu membuat kesepakatan
Namun demikian, AS khususnya tentu tidak mau jika perang Rusia-Ukraina berhenti begitu saja sebelum target mereka tercapai semuanya. Karena itu sangat mungkin yang mengulur waktu perdamaian adalah Amerika sendiri yang sekaligus sebagai penyulut perang Rusia-Ukraina terjadi.
Banyak yang mengetahui, bahwa meletusnya perang Rusia-Ukraina sejak awal terjadi karena intervensi Amerika sendiri terhadap negara-negra Eropa, khususnya pada negara Eropa Tengah agar menolak jalur pipa gas Nord Stream 2 dari Rusia-Jerman. Padahal jalur gas tersebut sudah selesai dibangun Rusia di tahun 2021. Amerika khawatir Eropa semakin ketergantungan energi pada Rusia. Selain itu Amerika berencana menarik Ukraina menjadi anggota NATO sekaligus menempatkan pasukan militer dan senjata di perbatasan Ukraina-Rusia. Dalam istilah persiden Putin hal ini disebut “Ancaman di halaman rumah”.
Dari dua indikasi di atas saja, sudah terlihat bahwa AS yang sejak awal memancing kemarahan Rusia agar berani melakukan langkah kekerasan. Dan rupanya sikap provokatif Amerika ini berhasil memancing “Sang Bruang Merah” keluar kandang seraya mencakar cakar umpan dari Amerika. Dan bahayanya, umpan itu adalah Ukraina sang tatangga Rusia yang cantik jelita, namun sedang dimabuk kepayang oleh rayuan gombal Amerika.
Pertanyaanya, sebenarnya target apa saja yang hendak dicapai Amerika dari perang Rusia-Ukraina?
Pertama, Amerika sadar bahwa beberapa negara sekutunya sudah mulai jaga jarak dengan Amerika atau bahkan sudah berani menjalin hubungan dengan China yang notabene merupakan musuh yang mengalahkan Amerika dalam perang dagang.
Bahkan, Beijing kini berharap dapat membentuk front baru dengan Uni Eropa untuk menghadapi berbagai “serangan dan langkah unilateral AS”. Dan jika perekonomian Cina dan Uni Eropa digabungkan, mencakup sepertiga perekonomian global dan hampir setengah perdagangan dunia. Selain itu China pun sudah mulai mendekati Uni Emirat sebagai sekutu ekonomi Amerika di Timur Tengah.
Karena itu, AS perlu menyolidkan kembali negara-negara sekutu ekonominya. Dan Presiden AS, Joe Biden, sadar untuk saat ini sulit jika hanya ditempuh dengan menggunakan imbauan-imbauan atau narasi kesejarahan dan bahkan oleh perjanjian-perjanjian.
Akhirnya, Amerika terpaksa harus menciptakan musuh baru bagi negara-negara Eropa dengan kualitas monster raksasa. Harus lebih horor dibanding Iran di Timur Tengah, Korea Utara di Asia Timur, dan Afghanistan di Asia Selatan. Serta Rusia rupanya yang terpilih menjadi monster itu, dan berhasil membuat negara Eropa takut jika melawan sendirian dan jalan satu-satunya hanya bersekutu dengan Amerika sebagai pemimpinnya.
Kedua, Amerika berharap melalui perang Rusia-Ukraina dapat menunjukan pada dunia bahwa seolah hanya dirinya yang lebih baik, lebih manusiawi, dan cinta damai. Rusia dicitrakan begitu brutal dalam menginvasi negara tetangga yang notabene sangat lemah. Rusia diposisikan “Neo Nazi” yang begitu sadis dan temperamental. Sementra dirinya seakan pelindung yang setia bagi keamanan dan perdamaian dunia.
Singkatnya, Amerika ingin membangun presepsi dunia di tengah banyak kegagalan yang telah diperbuatnya, bahwa seolah hanya dirinyalah yang pantas jadi pemimpin dunia.
Ketiga, perang Rusia-Ukraina harus sampai pada sangsi ekonomi. Selain berfungsi untuk melemahkan negara Rusia, Amerika ingin mengirimkan pesan pada dunia bahwa menjalin hubungan ekonomi selain dengan Amerika dan atau negara sekutunya itu sangatlah berisiko. Karena stabilitas politik, keaman, dan hukum sebagai instrumen lain selain ekonomi hanya terjamin seluruhnya jika itu dilakukan atas restu dirinya.
Keempat, melalui perang ini Amerika dapat menelanjangi, bahwa sesunggunya Rusia bukanlah siapa-siapa kecuali hanya sebagai suatu negara biasa saja yang tidak memiliki kapasitas menghimpun dukungan di benua Eropa apalagi dunia.
Sekaligus suatu teror bagi negara-negara lainya, jika berani menantang Amerika artinya sedang berhadapan dengan grombolan (dorna) sekutunya.
Kelima, jika AS dapat mencapai semua target ini, tentu sedikit banyak akan memulihkan citra dirinya setelah jadi pecundang di perang dagang dengan China.
Kembali pada tema di atas, soal apa cara Amerika untuk menghentikan invansi Rusia ke Ukraina? Sebelum menjawab pertanyaan, penting diketahui terlebih dahulu, bahwa kenapa invasi Rusia itu akhirnya harus dihentikan. Karena jika berlanjut pada perang dunia III dan atau perang nuklir sungguh sangat tidak diharapkan semua negara termasuk Amerika. Amerika pasti ingin perang ini berhenti dan cukup negara umpan (Ukraina) yang jadi korban. Dan jika semua target telah tercapai perang pun wajib segera selesai.
Maka cara Amerika jika ingin menghentikan invasi Rusia pada Ukraina sebagai berikut :
1. Seruan dari masyarakat dunia internasional juga masyarakat Rusia sendiri yang menolak perang, akan digunakan Amerika untuk menekan psikologis Vladimir Putin agar perang segera dihentikan.
2. Menilai estimasi biaya yang lumayan boros. Pola perang “Blitzkreig” yang populer digunakan Wehrmacht 1942 yang disinyalir diadopsi Putin dalam perang saat ini, rupanya membuat Rusia harus mengeluarkan biaya 20 miliar dolar AS atau setara Rp287 triliun per hari. Padahal harga invasi AS ke Afghanistan sebesar 2,26 triliun dolar sejak 11/9/01, atau hanya Rp4,3 triliun per hari selama 2 dekade.
Serangan mahal dalam satu pekan itu ternyata masih langkah awal yang kebanyakan artileri. Biaya akan makin boros jika serangan udara sudah full digunakan. Sekedar gambaran sederhana, Rusia memilki 4.100 pesawat, dengan 772 pesawat yang paling populer adalah SU-35 dan yang terbaru SUKHOI SU 57 yang jauh lebih mahal baik harga pesawatnya, biaya terbang per jamnya dan amunisi yang dibawanya.
Mungkin bagi Rusia akan sedikit lebih hemat dibanding Ukraina sebab beberapa alat militernya adalah diproduksi sendiri. Menghitung BEP perang ini, saya jadi tertarik ngasih saran. Mr Putin sebaiknya memperluas target daerah yang harus dicaplok bukan hanya Belarus dan Krimea, tapi harus seluruh Ukraina.
Kembali pada bahasan, mahalnya perang ini akan membuat pihak Amerika dan NATO melihat hal ini bisa jadi jalan untuk hentikan invasi. Andai saja tentara Ukraina mampu menahan Rusia selama 7 pekan saja atas bantuan Amerika, presiden Putin bisa saja terpaksa melakukan opsi negosiasi karena mereka sudah kehabisan biaya dan sumber daya.
3. Konsekwensi invasi berupa sangsi ekonomi internasional yang berakibat pada buruknya ekonomi nasional Rusia, hal ini akan ditargetkan Amerika agar menjadi tekanan tersendiri bagi presiden Putin untuk melanjutkan perang lebih lama.
Konsekwensi terdekat yang diharapkan AS akan membuat para pengusaha di dalam negeri Beruang Putih itu menekan presidennya agar mau mabanting setir kendali untuk berbelok ke jalur negosiasi.
4. Sudah menjadi pengetahuan umum di dunia militer, resiko pola perang “Blitzreig” adalah jika ada keterlambatan waktu dalam mencapai target kemenangan atau dalam istilah militer zaman dulu disebut tidak mencapai “Vernichtungsschlacht” sesuai schedule. Konsekwensinya, selain biaya yang boros, sedikit banyak akan berdampak pada melemahnya kegigihan para prajurit di medan perang. Sekali lagi, solusi negosiasi akan terus ditawarkan AS pada Rusia daripada harus menelan resiko yang lebih besar lagi.
5. Sesungguhnya kekuatan militer Rusia jauh di atas kertas jika harus dibandingkan Ukraina. Dan kemenangan dalam perang militer ini sudah banyak diprediksi jika Rusia yang akan jadi pemenang. Bahkan tidak sedikit yang menilai kemenangannya akan telak.
Tapi, kemenangan militer ini akan sangat “kacau” jika tidak berefek sistemik pada kemengan politik dan ekonomi. Artinya, Amerika akan mengirimkan para tukang sihir yang membisikkan pada telinga Putin: “Apa guna kemengan militer bagimu Mr Putin, kalau terancam terguling secara politik karena antipati masyarakat sendiri yang sebabnya merasa rugi secara ekonomi. Begitupun dari masyarkat Eropa karena terganggu keamanan hidupnya akibat kebijakan perang ini.”
Tentu saja setelah mendengar bisikan itu, Putin gengsi jika harus kalah, tapi besar kemungkinan akhirnya terpaksa mengalah mengambil jalur negosiasi karena sadar akan bumerang yang akan terjadi.
Putin pun akan bicara dengan bahasa diplomasinya. Semisal “Saya sebagai presiden Rusia tetap tidak mau mengakhiri perang sebelum total menang. Tapi saya hanya memutakhiri langkah dengan cara ambil opsi negosiasi karena tidak tega jika terus mengorbankan jiwa dan materi orang-orang yang tak berdosa.”
Inilah akhir cerita yang diharapkan nafsu AS dan NATO. Apakah semua akan terjadi atau hanya sebagian saja? Mari kita saksikan bersama! ***



.png)





