NAMA Garut Swiss van Java yang diberikan oleh wisatawan-wisatawan dari Eropa yang datang ke Garut sebelum Indonesia merdeka, termasuk komedian Charlie Chaplin yang hingga dua kali menghabiskan masa liburannya di Garut pada tahun 1932 dan 1936, dalam konteks saat ini tampaknya sudah jauh panggang dari api.
Di belahan Benua Eropa, Swiss salah satu negara yang dikaruniai keindahan alam yang terkenal seantero dunia hingga sejak dulu negara ini dikenal menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Benua Eropa. Di Pulau Jawa, di masa-masa penjajahan Belanda, Garut dikenal memiliki keindahan alam hingga banyak wisatawan Eropa berlibur ke Garut hingga Garut pun dijuluki Swiss-nya Pulau Jawa.
Salah satu bukti peninggalan kehadiran wisatawan Eropa ke Garut adalah keberadaan beberapa hotel di Garut yaitu di kawasan Ngamplang, Kecamatan Cilawu, dan kawasan Kamojang di Samarang.
Di kawasan Ngamplang, bangunan hotel tempat para wisatawan menginap, termasuk Charlie Chaplin masih tegak berdiri hingga saat ini dilengkapi dengan lapangan golf. Sementara, hotel di kawasan Kamojang, hanya menyisakan nama blok hutan yang dulu jadi tempat berdirinya hotel tersebut, yaitu blok hotel yang lokasinya tepat di seberang Pusat Konservasi Elang Kamojang yang ada di Blok Citepus.
Gelar Garut Swiss Van Java yang diberikan oleh para wisatawan dari Eropa di masa sebelum kemerdekaan Indonesia. Setidaknya menjadi bukti bahwa pariwisata telah dikembangkan di Garut sejak jaman penjajahan Belanda.
Namun, kemudian entah bagaimana ceritanya dunia pariwisata tenggelam hingga dua hotel tempat menginap wisatawan yang dulu ada, tak lagi beroperasi, bahkan salah satunya rata dengan tanah di kawasan hutan Kamojang dan saat ini, Pemerintah Daerah Kabupaten Garut, mencoba membangun kembali dunia pariwisata di Garut dengan mengangkat dan mengenang cerita Garut tempo dulu lewat jargon Garut Swiss Van Java.
Pemerintah daerah sepertinya lupa, Garut tempo dulu, semasa julukan Swiss van Java melekat, kondisinya jauh berbeda dengan Garut hari ini. Apalagi jika dibandingkan kondisi Swiss saat ini dengan Kota Garut saat ini. Meski penulis belum pernah menginjakan kaki di Swiss, namun penulis meyakini kondisi Swiss saat ini dan Garut sangat jauh berbeda.
Salah satu indikator yang penulis jadikan ukuran adalah, kondisi sungai yang melintasi kawasan kotanya. Mengapa sungai, karena fakta sejarah mencatat, peradaban manusia di belahan dunia manapun berkembang tidak jauh dari sungai. Karenanya, sungai menjadi wajah peradaban dan wajah kita orang-orang yang tinggal di sepanjang sungai. Sungai yang kondisinya baik, menjadi indikator bahwasanya peradaban manusia yang tinggal di sekitarnya baik.
Sekarang, mari kita bandingkan sungai yang mengalir di Kota Garut, dengan sungai yang mengalir di Kota Bern, Swiss. Kawasan kota Garut, dialiri sungai Cimanuk yang hulunya ada di pegunungan Mandalagiri di Kecamatan Cikajang dan bermuara di Laut Jawa di Kabupaten Indramayu dan memiliki panjang sungai sepanjang 180 kilometer hingga menjadi sungai terpanjang kedua di Jawa Barat.
Sementara Kota Bern, dialiri oleh Sungai Aare yang memiliki panjang 295 kilometer dan bermuara di Sungai Rhein di Jerman.
Melihat kondisi Sungai Cimanuk saat ini yang melintasi lebih dari 13 kecamatan di Kabupaten Garut mulai dari Kecamatan Cikajang yang jadi kawasan hulu hingga Malangbong di ujung utara Kabupaten Garut, sulit untuk disebut dalam kondisi baik.
Sebuah ekspedisi kecil yang dilakukan oleh Yayasan Tangtudibuana Garut di badan Sungai Cimanuk yang melintasi kawasan Kota Garut saja, sepanjang kurang lebih tiga kilometer mulai dari muara Sungai Cikamiri di Sungai Cimanuk yang ada di kawasan Sukapadang hingga bendungan Copong Kecamatan Garut Kota saja, menghadapi ancaman nyata dari praktek pembuangan sampah ke sungai.
Badan-badan sungai yang berdekatan dengan pemukiman padat penduduk dijadikan tempat pembuangan sampah. Satu kondisi pasti yang bisa dirasakan oleh semua masyarakat Garut yang hidup di sepanjang Sungai Cimanuk saat ini adalah soal kualitas air sungai yang terus menurun.
Secara kasat mata, warna air Sungai Cimanuk, sudah tidak lagi bening seperti kondisi air di hulu sungai Cimanuk.
Sekarang mari kita bandingan dengan Sungai Aare yang melintasi kota Bern, ibukota negara Swiss. Secara kasat mata, kondisi air Sungai Aare sangat jernih hingga sungai ini dijadikan salah satu destinasi wisata wajib untuk wisatawan yang berkunjung ke Swiss.
Nama sungai ini, sempat menjadi perhatian warga Jawa Barat setelah anak mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil hilang hingga akhirnya ditemukan meninggal dunia di sungai ini. Baiknya kondisi Sungai Aare, menandakan adanya peradaban manusia yang baik di Swiss.
United Nations Sustainable Development Solutions Network (UNSDSW) yang tiap tahun mengeluarkan daftar negara dengan penduduk paling bahagia (World Happines Report) pada tahun 2022 mencatat, Swiss menempati urutan ketiga negara dengan penduduk paling bahagia dibawah Denmark dan Finlandia. Setidaknya, hal ini menunjukan bahwa peradaban manusia di Swiss baik hingga masyarakatnya bisa hidup bahagia seperti halnya sungai-sungai yang mengalir di Swiss yang kondisinya bagus.
Sementara Indonesia, dari laporan World Happines Report (WPR) yang dikeluarkan UNSDSW pada tahun 2024 berada diurutan 80 dari 134 negara yang di survei.
Berkaca dari indikator kondisi sungai yang melintasi kawasan kotanya saja, sebenarnya Garut sudah tidak pantas lagi menyandang nama Swiss-nya Pulau Jawa (Swiss van Java). Karena, kondisinya sudah tidak sebanding lagi. Karenanya bisa dipastikan kondisi alamnya pun tidak sebanding. Gunung, hutan yang mengelilingi Kota Garut saat ini, sudah jauh terdegradasi akibat deforestasi dan eksploitasi, masyarakat sekitar sungainya pun sudah tidak lagi menganggap sungai sebagai bagian penting dari peradaban hingga tidak lagi merasa bersalah menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.
Jika jargon Swiss Van Java yang saat ini kembali dibangun pemerintah daerah untuk kepentingan pariwisata, jika tidak ingin disebut pembohongan publik, harusnya pemerintah daerah malu. Karena, bagian Garut mana yang mau disamakan dengan Swiss, yang kemudian layak dijual sebagai objek wisata, gunung, hutan, sungai di Garut, kondisinya tidak baik-baik saja. Jauh beda dengan gunung, hutan, dan sungai yang ada di Swiss. Lalu apa yang akan dijadikan sebagai Garut rasa Swiss?
Jargon Swiss Van Java, sepertinya lebih tepat dibangun kembali untuk bernostalgia masa-masa hutan, gunung dan sungai di Garut masih dalam kondisi baik-baik saja dan masyarakatnya masih someah. Mudah-mudahan, dari nostalgia ini terpantik energi baru untuk kembali mewujudkan Garut sebagai Swiss-nya Pulau Jawa, di mana gunung, hutan, dan sungai terpelihara baik dan masyarakatnya someah. ***
(Penulis: Direktur Yayasan Tangtudibuana)



.png)









