oleh

Sepatu Asela Garut Berusaha Bertahan di Masa Pandemi Covid-19

GOSIPGARUT.ID — Pandemi Covid-19 berdampak signifikan pada sektor perekonomian. Pengusaha sepatu asal Desa Mekarwangi, Kecamatan Tarogong Kaler, ini merasakan dampak dari masa pandemi tersebut dengan penurunan omzet penjualan sepatu yang cukup drastis.

Padahal usaha yang telah dijalani pengusaha sepatu merk Asela itu sudah cukup lama. Lela (44) menjalankan usahanya sejak tahun 2011 silam dengan jenis sepatu yang dijualnya adalah sepatu bola, kets, dan pantofel.

Menurut Lela, merk Asela diambil dari singkatan nama pemiliknya yaitu Asep dan Lela. Awal pembuatan sepatu Asela ini, dengan membeli bahan-bahan seperti sol, alas sepatu, dan bahan lainnya lalu dirangkai menjadi sepatu.

Baca Juga:   "Kabayan Milenial Bersinar" Kisahkan Bertahan Hidup di Tengah Pandemi Covid-19

“Awal pembuatannya dari beli ini sol, terus bahan kayak gini (alas sepatu) dan ini dibeli terus dibikin,” ujar Lela saat dihubungi di tokonya yang berlokasi di Kampung Cisancakaler, Desa Mekarwangi, Kecamatan Tarogong Kaler, Kamis (28/1/2021).

Motivasi Lela dalam mendirikan toko sepatu ini adalah karena banyak pengangguran di tempat tinggalnya, sehingga hatinya tergerak untuk menciptakan sebuah lapangan pekerjaan agar warga sekitar bisa mempunyai mata pencaharian.

“Pertama mah lihat itu pengangguran banyak yah di kampung gitu, jadi kita bikin usaha buat mereka biar nggak banyak kelentengan begitu. Biar ada pencaharian gitu,” ucapnya.

Baca Juga:   Ini Kali ke-17, Masjid Al Usman dan Desa Cihuni Santuni Kaum Duafa

Pada awalnya, Lela memiliki pekerja sebanyak 40 orang. Namun, akibat dampak dari pandemi Covid-19 yang melanda, maka pekerja berkurang menjadi 12 orang.

“Kalau dulu mah ada 40 sekarang mah cuman ada 12, banyak yang keluar ya karena gak bikin. 12 orang itu juga ada yang kerja ada yang tidak,” ungkap Lela.

Tak hanya pekerja yang berkurang, lanjut dia, penjualan sepatu pun terjadi penurunan sampai 80 %. “70-80% lah berkurang ada. Sangat berkurang karena dulu mah bisa order kemana-mana sekarang mah cuma di toko aja,” lanjutnya.

Baca Juga:   Daya Tarik Tulisan "Garut" di Simpang Lima Dirusak dengan Aksi Vandalisme

Menurut Lela, daya beli pelanggan turun drastis dari yang biasanya dalam seminggu terjual 40 sampai 50 kodi, sekarang hanya bisa terjual 11 sampai 8 kodi.

“Dulu mah seminggu teh dapat 40 sampai 50 kodi, sekarang mah seminggu cuman 11 sampai 8 kodi,” terang dia.

Lela berharap agar kondisi cepat normal kembali sehingga omzet dari penjualannya bisa naik kembali.

“Harapannya pengen normal kayak biasa, kalau sekolah maju ya pasti jalan lagi (usahanya). Kan sekarang nggak sekolah (ditutup) jadi ya sudah (penjualan sulit),” ujarnya. (Yan AS)

Komentar

Berita Terkait