Berita

Soal Proyek Geothermal Kamojang, Bupati Garut Diminta Hitung Dampak dan Risiko Secara Menyeluruh

×

Soal Proyek Geothermal Kamojang, Bupati Garut Diminta Hitung Dampak dan Risiko Secara Menyeluruh

Sebarkan artikel ini
U Ebit Mulyana.

GOSIPGARUT.ID — Rencana pengembangan proyek energi panas bumi (geothermal) di kawasan Kamojang, Kabupaten Garut, menuai sorotan. Bupati Garut, Abdusy Syakur Amien, diminta tidak hanya berfokus pada potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD), tetapi juga menghitung secara cermat dampak dan risiko jangka panjang dari proyek tersebut.

Ketua Yayasan Tangtudibuana, Usep Ebit Mulyana, menilai sebagai akademisi, bupati seharusnya mampu melakukan kalkulasi menyeluruh terkait keuntungan dan kerugian proyek geothermal.

“Harusnya berhitung ketat, jangan hanya melihat PAD dan CSR saja,” ujar Ebit, Minggu (26/4/2026).

Menurut Ebit, evaluasi terhadap proyek panas bumi di Garut relatif mudah dilakukan. Ia menyebut terdapat tiga lapangan panas bumi yang telah beroperasi di wilayah Garut dan sekitarnya yang bisa dijadikan rujukan untuk menilai dampak nyata proyek serupa.

Baca Juga:   Pastikan Penerima BLT Tak Terima Bantuan Lain, Camat Cisewu Berani Kasih Uang Rp300 Ribu

“Dari tiga lokasi itu bisa dilihat langsung dampaknya, baik saat ini maupun ke depan. Semua bisa diukur sebagai bahan evaluasi,” katanya.

Ebit mengaku kecewa karena pendekatan pemerintah daerah dinilai masih berorientasi pada peningkatan pendapatan tanpa mempertimbangkan potensi kerugian, seperti kerusakan lingkungan, dampak sosial budaya, hingga konflik kepentingan di masyarakat.

Ia menilai, dalam banyak proyek investasi skala besar, porsi keuntungan lebih besar dinikmati investor, sementara masyarakat lokal justru menanggung dampak negatif. “Selama ini masyarakat hanya mendapat bagian kecil, padahal mereka yang merasakan dampak langsung di lapangan,” ucap Ebit.

Baca Juga:   Bupati Garut Ancam Akan Basmi Konsultan "Si Kukut" di Dinas PUPR

Lebih lanjut, Ebit mencontohkan potensi kerusakan lingkungan di kawasan panas bumi yang dapat memicu bencana dan berdampak pada infrastruktur. Ia mengingatkan bahwa kerugian akibat bencana tersebut bisa melampaui nilai PAD yang dihasilkan dari proyek geothermal.

Selain itu, perubahan fungsi kawasan hutan dinilai berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang terhadap ekosistem dan kehidupan masyarakat sekitar.

“Kalau ingin mengejar PAD, sebaiknya kaji ulang dulu proyek geothermal. Bandingkan dengan sektor ekonomi lain, hitung untung ruginya secara menyeluruh,” kata Ebit.

Baca Juga:   Barnas Adjidin Bangga Pemkab Garut Mampu Menjaga Kualitas Tata Kelola Keuangan

Ia juga mengkritisi wacana menjadikan Garut sebagai lumbung energi listrik berbasis panas bumi. Menurut Ebit, listrik bukan komoditas yang dapat diekspor secara langsung seperti produk lainnya.

Ia menyinggung sejumlah proyek pembangkit listrik yang tidak berjalan optimal meski infrastruktur telah dibangun, seperti di Waduk Jatigede dan Bendungan Leuwi Keris.

“Kami khawatir ada praktik yang hanya berorientasi menarik investasi tanpa memperhitungkan dampak jangka panjang bagi daerah,” ujar Ebit. (Ary)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *