GOSIPGARUT.ID — Bagi desa yang memiliki wilayah tidak begitu luas dan infrastruktur bagus, pendistribusian bantuan sembako (bantuan pangan non tunai/BPNT) bisa cepat dan volume bisa banyak karena tidak dipengaruhi ongkos kirim. Tapi, lain halnya bagi kelompok penerima manfaat (KPM) di Desa Garumukti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Garut.
Agen e-warung di desa itu, Asep Wahyudin, mengakui jika masalah transfortasi menjadi kendala utama dalam penyaluran bantuan sembako. Apalagi di musim hujan, selain jalan rusak berat dan menjadi genangan lumpur, juga rawan bencana alam.
“Kendala kami karena akses jalan yang rusak dan KPM yang tersebar di beberapa RW dengan jarak cukup jauh. Untuk mendistribusikan bantuan sembako ke Kampung Cileuleuy saja membutuhkan biaya sewa angkut sebesar Rp1,5 juta satu kali jalan. Sedangkan jumlah KPM di Cileuleuy berjumlah 55,” terang dia,Senin (13/4/2020).
Asep menjelaskan, meski terkendala teknis karena rusaknya infrastruktur, tidak menyurutkan agen e-warung yang bekerjasama dengan warga menyalurkan bantuan sembako tepat waktu bagi 480 KPM di Desa Garumukti. Dan, volume bantuan sembako yang diterima KPM di Desa Garumukti tentunya tidak bisa dibandingkan dengan volume KPM di wilayah perkotaan.
Penyaluran bantuan sembako pun, tambah dia, tidak semuanya dapat dilakukan di agen e-warung untuk KPM yang jaraknya jauh dan memerlukan ongkos mahal. Agen e-warung lah yang menyalurkan bantuan sembako berupa beras, telur, kacang hijau sayur, dan buah-buahan ke KPM didampingi Babinmas dan Babinsa Desa Garumukti.
“Saya berusaha semaksimal mungkin menyalurkan bantuan sembako tepat waktu. Saat pandemi Covid 19, KPM bisa mengambil sembako meski belum ada penggesekan. Tujuannya untuk membantu KPM memenuhi kebutuhan pangan agar tidak terjadi kekurangan pangan saat intruksi social distancing,” kata Asep. (Respati)



.png)















