Budaya

Tradisi Lais, Sirkus Tradisional Asal Garut yang Masih Bertahan

×

Tradisi Lais, Sirkus Tradisional Asal Garut yang Masih Bertahan

Sebarkan artikel ini
Tradisi lais. (Foto: Istimewa)

GOSIPGARUT.ID — Di Kabupaten Garut terdapat kesenian yang mirip dengan atraksi sirkus yang dilakukan secara tradisional, alias merupakan warisan budaya secara turun temurun yang diberi nama tradisi Lais.

Tradisi ini dilakukan dengan melakukan atraksi di atas ketinggian dari tali yang diikatkan dengan kedua belah batang bambu yang menjulang dan dilakukan tanpa mengenakan pengaman tubuh. Hingga kini tradisi tersebut masih bertahan dan dipertontonkan kepada masyarakat di Kabupaten Garut pada momen-momen tertentu.

Pada mulanya, tradisi lais merupakan keisengan dari seorang pemanjat kelapa bernama Laisan yang juga seorang sesepuh di Kawasan Kampung Nangka Pait, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut. Laisan merupakan seseorang yang handal dalam memanjat dan memetik buah kelapa.

Pada masa Kolonial Belanda, Laisan selalu mendapat tugas untuk memetik buah kelapa dari kalangan masyarakat sekitar maupun tentara Belanda. Selama melakukan pemetikan ia juga melakukan atraksi yang cukup berbahaya dengan bergelantungan dan berpindah dari pohon kelapa, ke pohon kelapa lainnya tanpa menyentuh tanah.

Baca Juga:   Bupati Garut Targetkan APBD 2019 Bisa Terserap Rp4,6 Triliun atau 96 Persen

Sejak saat itu, banyak masyarakat yang menantikan Laisan untuk memanjat pohon kelapa dan melakukan atraksi. Sejak saat itu juga, ketika Laisan melakukan tugasnya, masyarakat setempat memukul benda-benda bebunyian sebagai pengiring atraksi selama memanjat pohon kelapa.

Hingga saat ini tradisi lais terus dilakukan oleh masyarakat setempat sebagai bentuk penghormatan terhadap sesepuh Laisan dan menjaga tradisi turun temurun di Kawasan Kampung Nangka Pait, Kabupaten Garut.

Salah seorang pelaku tradisi lais asal Kecamatan Sukawening bernama Dadang mengungkapkan, bahwa sebenarnya filosofi dari tradisi lais adalah medium untuk melatih diri dalam memunculkan kekuatan fisik dan kemampuan menyatu dengan alam. Kemampuan tersebut dipercaya masyarakat sekitar sebagai upaya untuk bisa bersinergis dengan alam dan Tuhan.

Selain itu, menurut pria yang juga seorang pelatih lais tersebut, jika tradisi lais merupakan ajang untuk melatih keyakinan diri dalam melangkah. Dalam tradisi lais, Dadang menyebutkan bahwa jika kita merasa tidak yakin jangan memaksakannya.

Baca Juga:   Pandemi Covid-19, PPDB Jabar Tahun 2020/2021 Digelar Daring

“Kalau ragu jangan dilakukan, intinya harus yakin dulu,” ujar Ade Dadang yang juga Pimpinan Grup Panca Warna Medal Panglipur.

Menurut Wikipedia, lais merupakan kesenian yang menggabungkan dua budaya, yaitu Budaya Sunda dan Budaya Jawa Timuran. Hal tersebut dibuktikan dari banyaknya gerakan akrobatik yang serupa dengan akrobatik khas Reog Ponorogo melalui Gerakan yang dinamakan Kucingan.

Kucingan sendiri mengisahkan tentang seekor kucing yang diperankan singo barong tanpa dadak merak sedang mengejar tikus yang diperankan oleh Bujang Ganong, karena telah mengganggu tidurnya. Hanya saja di lais tidak menggunakan cerita kucingan dan seragam reog serta topengnya yang menyulitkan pandangan penari lais.

Atraksi yang diberikan mula-mula pelais memanjat bambu lalu pindah ke tambang sambil menari-nari dan berputar di udara tanpa menggunakan sabuk pengaman dengan diiringi musik reog dan terompet.

Baca Juga:   Mendulang Peluang Uang di Perkebunan PT Condong Garut Petani Bisa Sejahtera, Bagaimana Caranya?

Di era sekarang, tradisi akrobatik khas Kabupaten Garut tersebut masih dimininati dan terdapat padepokan lais yang masih terus bergerak melakukan kegiatan atraksinya, yaitu Padepokan Panca Warna Medal Panglipur. Menurut Ade Dadang selaku pimpinan, Ia terus berupaya mencari inovasi agar kesenian khas kota Garut tersebut tidak hilang.

Menurutnya, potensi tradisi lais cukup besar bagi kalangan muda, mengingat kalangan muda merupakan generasi yang masih semangat dan tertarik akan hal-hal yang bersifat tantangan.

Dadang melanjutkan, jika tradisi lais di Padepokan Panca Warna Medal Panglipur masih banyak dilirik oleh kalangan muda karena diyakini mampu mengasah keberanian dan ketangkasan, dua aspek penting dalam atraksi lais yang disukai oleh anak muda. (Mrdk)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *