GOSIPGARUT.ID — Kebakaran di Kabupaten Garut sepanjang 2026 melonjak tajam. Hingga 13 Agustus, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) mencatat 327 kejadian, naik 45,3 persen dibandingkan seluruh kasus sepanjang 2025 yang berjumlah 225 kejadian.
Kenaikan itu terutama didorong kebakaran lahan. Jumlahnya mencapai 155 kasus atau melonjak sekitar 638,1 persen dibandingkan 21 kejadian sepanjang 2025. Dalam dua bulan terakhir, kebakaran lahan menjadi ancaman paling menonjol di tengah kondisi cuaca dan aktivitas masyarakat di area terbuka.
Kepala Disdamkarmat Kabupaten Garut, Usep Basuki Eko, mengatakan kebakaran lahan menjadi perhatian serius karena peningkatannya terjadi dalam waktu relatif singkat.
“Berdasarkan data penanganan kami hingga 13 Agustus 2026, dari total 327 kejadian, sebanyak 155 merupakan kebakaran lahan dan 172 lainnya adalah kebakaran nonlahan,” kata Usep dalam rilisnya, Jumat, 14 Agustus 2026.
Data Disdamkarmat menunjukkan lonjakan itu tidak terjadi secara merata sepanjang tahun. Kebakaran lahan mulai meningkat tajam pada pertengahan tahun. Pada Juli saja, petugas mencatat 81 kejadian. Sedangkan pada 1 hingga 13 Agustus, sudah terjadi 58 kebakaran lahan.
Jika dibandingkan dengan 2025, peningkatannya mencolok. Dalam setahun penuh, hanya 21 kebakaran lahan yang tercatat. Tahun ini, jumlah tersebut sudah berlipat lebih dari tujuh kali lipat hanya dalam waktu kurang dari delapan bulan.
“Peningkatan risiko kebakaran lahan ini sangat signifikan, khususnya pada periode pertengahan tahun. Faktor cuaca dan aktivitas di area terbuka menjadi fokus mitigasi kami,” ujar Usep.
Kebakaran Bangunan Juga Mengintai
Kebakaran nonlahan—yang mencakup permukiman dan bangunan—juga belum menunjukkan tanda mereda. Hingga 13 Agustus, tercatat 172 kejadian.
Jumlah itu sudah mencapai 84,3 persen dari total kebakaran nonlahan sepanjang 2025 yang mencapai 204 kasus. Dengan tahun berjalan masih menyisakan waktu lebih dari empat bulan, Disdamkarmat memperkirakan angka tersebut masih dapat bertambah dan bahkan melampaui capaian tahun lalu.
Kebakaran nonlahan terbanyak terjadi pada Juli dengan 35 kejadian. Februari berada di posisi berikutnya dengan 27 kasus, disusul Maret sebanyak 24 kejadian.
Kondisi ini membuat ancaman kebakaran di Garut tidak lagi hanya bertumpu pada satu sektor. Lahan kering menjadi titik rawan baru, sementara kebakaran permukiman dan bangunan tetap menjadi persoalan yang harus diantisipasi.
Disdamkarmat memperkuat kesiapan personel dan armada untuk merespons laporan kebakaran. Namun, Usep menilai pencegahan tetap menjadi langkah utama.
“Kami terus meningkatkan kesiapsiagaan personel, terutama dalam menghadapi potensi kebakaran lahan yang rawan di pertengahan tahun ini,” katanya.
Ia meminta warga tidak membakar sampah atau lahan secara sembarangan. Aktivitas yang melibatkan api di area terbuka perlu diawasi agar tidak berubah menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan.
Masyarakat juga diminta memeriksa instalasi listrik dan kompor di rumah. Dua sumber tersebut menjadi bagian dari faktor yang perlu diwaspadai untuk mencegah kebakaran nonlahan.
Lonjakan kasus pada 2026 menjadi peringatan bagi Garut. Dalam delapan bulan, jumlah seluruh kebakaran telah melampaui kasus sepanjang tahun sebelumnya. Jika tren kebakaran lahan dan nonlahan terus berlangsung, angka itu berpotensi kembali meningkat hingga akhir tahun. (Yan AS)



.png)



























