Wisata

Tiket Wisata Garut Selatan Dipersoalkan: Bayar Empat, Diberi Hanya Satu

×

Tiket Wisata Garut Selatan Dipersoalkan: Bayar Empat, Diberi Hanya Satu

Sebarkan artikel ini
Penulis dengan latar belakang Pantai Sayangheulang.

GOSIPGARUT.ID — Pesona wisata Garut Selatan tak perlu banyak promosi. Pantai, bukit, dan tebing yang menghadap Samudra Hindia menjadi magnet bagi wisatawan saat libur panjang. Namun, di balik panorama itu, ada soal kecil yang patut diperiksa: transparansi pemungutan tiket masuk di sejumlah objek wisata.

Dalam penelusuran ke Pantai Sayangheulang, Pantai Karangpapak, dan Puncakguha, ditemukan pengalaman berbeda dalam pemberian tiket kepada wisatawan. Pada beberapa transaksi, jumlah tiket yang diserahkan tidak sesuai dengan jumlah orang yang membayar.

Di Pantai Sayangheulang, empat pengunjung dikenai tarif Rp15 ribu per orang. Total tiket masuk Rp60 ribu. Pengunjung kemudian membayar parkir kendaraan roda empat Rp10 ribu. Total transaksi menjadi Rp70 ribu.

Petugas loket hanya menyerahkan satu lembar tiket masuk dan satu karcis parkir.

Pertanyaan justru dilontarkan seorang anak yang ikut dalam perjalanan tersebut. “Kenapa tiketnya cuma dikasih satu lembar? Harusnya kan empat lembar sesuai jumlah orang,” katanya.

Baca Juga:   Garut Siaga Sambut Libur Nataru, dari Cipanas hingga Pantai Selatan Bersolek Jadi Surga Wisata Akhir Tahun

Pertanyaan polos itu mengarah pada persoalan yang lebih serius. Tiket bukan sekadar secarik kertas. Ia menjadi bukti bahwa uang telah dibayarkan dan transaksi telah dicatat.

Pengalaman serupa terjadi di kawasan Pantai Karangpapak. Empat pengunjung membayar Rp10 ribu per orang atau Rp40 ribu. Namun, petugas kembali hanya memberikan satu tiket senilai Rp10 ribu.

Tidak ada penjelasan mengapa jumlah tiket yang diberikan berbeda dari jumlah pengunjung yang membayar.

Situasi berubah ketika memasuki Puncakguha, Kecamatan Caringin. Tarif masuk dipatok Rp7.500 per orang. Empat orang membayar Rp30 ribu, ditambah parkir Rp5 ribu.

Awalnya petugas hanya memberikan satu lembar tiket. Setelah pengunjung mempertanyakan kekurangannya, tiga lembar tiket lain kemudian diberikan. Petugas tampak grogi saat menyerahkan tiket tambahan tersebut.

Rangkaian pengalaman ini belum cukup untuk menyimpulkan adanya penyimpangan. Tidak ada bukti yang menunjukkan ke mana selisih pencatatan atau penerimaan tersebut mengalir. Namun, praktik pemberian tiket yang tidak sesuai transaksi layak menjadi perhatian pengelola dan pemerintah daerah.

Baca Juga:   KKN Tematik Uniga: 1300 Mahasiswa Ditempatkan di Daerah Rawan Bencana

Sebab, celah administrasi sekecil apa pun dapat melahirkan kecurigaan. Jika dibiarkan, persoalannya bukan lagi soal selembar tiket, melainkan soal kepercayaan publik terhadap pengelolaan destinasi wisata.

Tiket dan Kepercayaan

Loket tiket merupakan pintu pertama wisatawan berinteraksi dengan pengelola. Dari sana, kesan tentang tata kelola sebuah destinasi terbentuk.

Pengelola objek wisata, termasuk Dinas Pariwisata dan Kelompok Sadar Wisata, perlu memastikan petugas menyerahkan tiket sesuai jumlah pembayaran. Edukasi dan pengawasan harus berjalan bersamaan.

Pemeriksaan berkala juga diperlukan. Jumlah uang yang diterima harus dapat dicocokkan dengan tiket yang dikeluarkan. Mekanisme ini penting untuk memastikan seluruh transaksi tercatat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pemerintah Kabupaten Garut juga dapat mempercepat penggunaan sistem tiket elektronik atau e-ticketing. Digitalisasi memungkinkan transaksi tercatat secara otomatis dan lebih mudah diawasi.

Baca Juga:   Genjot Ekonomi Garut Selatan, Bupati Syakur Siapkan Akselerasi Berbasis Jagung dan Peternakan Terintegrasi

Langkah itu sekaligus dapat mengurangi ketergantungan pada pencatatan manual di pintu masuk.

Alam Indah, Tata Kelola Harus Bersih

Garut Selatan memiliki modal wisata yang besar. Bukit Teletubbies menyajikan bentang perbukitan. Pantai Sayangheulang menawarkan hamparan pesisir yang luas. Pantai Karangpapak menghadirkan suasana lebih tenang. Puncakguha menawarkan tebing tinggi dengan debur ombak Samudera Hindia.

Kawasan itu layak menjadi tujuan wisata keluarga. Keindahan alam dan keramahan masyarakat menjadi alasan wisatawan datang kembali.

Tetapi pariwisata bukan hanya perkara panorama. Pengalaman wisatawan dimulai sejak membayar tiket.

Karena itu, pengelola perlu memastikan tidak ada ruang bagi kebingungan. Wisatawan berhak memperoleh bukti pembayaran sesuai uang yang dikeluarkan.

Garut Selatan sudah punya pemandangan yang indah. Yang tak kalah penting adalah memastikan tata kelolanya transparan. (Yan AS)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *