Oleh: Heri Kuswara
TERDAPAT banyak teori yang menjelaskan tentang smart worker, berikut beberapa teori kami sampaikan dalam artikel singkat ini. Menurut Mondy dan Premeaux (1993:19) oleh Bambang Marsono smart worker adalah mampu bekerjasama dengan pekerja lain dan yang lebih penting lagi dengan atasannya”.
Fleet (1988:23-24) oleh Bambang Marsono menyatakan seorang smart worker adalah mampu bekerja lebih efisien dan efektif. Efisien adalah karyawan yang mampu melaksanakan pekerjaan melalui kemampuannya dalam menghemat biaya, tenaga, maupun sumber daya lainnya yang tersedia.
Sementara efektif adalah kemampuan melaksanakan pekerjaan dengan cara dan hitungan waktu yang tepat. Mc Tague (1989 :7-8) oleh Bambang Marsono menyatakan, sebagian besar produktivitas perusahaan dapat dicapai jika terdapat kerjasama yang jitu antara manajer dan karyawannya.
Empat per lima dari sukses perusahaan sangat ditentukan oleh karyawan. Philip C. Schechty (1997-38) menyatakan sebuah organisasi harus tetap memiliki mereka yang berkemampuan kompetitif, sehingga produktivitas secara fisik maupun mental tercapai. Secara satirik ia menyatakan kalau ada perusahaan yang memiliki karyawan yang tak mau memperbaiki diri alias tidak smart, sebaiknya mereka pindah ke tengah laut atau mati saja.
Ada satu teori yang membuat saya tertarik untuk menguraikannya lebih jauh, yaitu teorinya Eddy Iskandar (2008:24) menyatakan seorang pekerja cerdas adalah mereka yang mempunyai integritas, kompetensi, dan loyalitas.
1. Integritas
Integritas menurut penulis adalah seseorang yang memiliki attitude baik, jujur, dan disiplin. Contoh yang paling sederhana untuk melihat seseorang ber-attitude baik atau tidak adalah ketika siapapun di lingkungan kerja kita yang menegur duluan tanpa pandang bulu.
Dapatkah kita menegur duluan? Meskipun mungkin orang yang kita tegur lebih rendah jabatannya, bahkan junior kita, atau apapun statusnya, seberapa sering kita menyapa pramubakti, cleaning service yang setiap hari selalu membantu kita dalam menjalankan tugas institusi ini.
Terbiasakah kita sekedar say hallo kepada satpam yang dengan disiplin militernya mampu menjaga dengan aman kendaraan dan asset perusahaan kita dari pagi sampai malam tanpa lelah dan mengeluh.
Tegurlah mereka dengan kehangatan, keramahan, senyuman, dan hadirkan rasa persaudaraan, persahabatan dalam hatinya. Dengan begitu suasana saling menghormati dan menghargai akan tercipta dalam lingkungan kerja yang kondusif.
Jujur itu mudah sepertinya, namun sangat sulit mempraktekannya terutama dalam lingkungan kerja. Kadang untuk menutupi kekurangan, kesalahan, terpaksa kita harus berbohong, tak ada satu dalilpun yang membolehkan kebohongan.
Mulialah jujur dengan hal-hal yang kecil, baik jujur tentang diri maupun jujur tentang pekerjaan. Seseorang yang jujur baik dalam berucap maupun dalam berbuat akan senantiasa mendapatkan banyak kepercayaan terutama dari atasannya.
Kemudian integritas itu disiplin. Disiplin bukan hanya sekedar tepat waktu, namun disiplin dalam mentaati seluruh peraturan yang berlaku di perusahaan. Itulah terkadang peraturan yang ada sering kita langgar, padahal adanya peraturan itu bukan untuk dilanggar tapi untuk mendisiplinkan kita dalam beraktifitas.
Kompetensi adalah kemampuan yang dimiliki seseorang. Seorang smart worker tidak sekedar pintar dari sisi ilmu, pengetahuan dan keterampilan saja ((Thereshold Competency), namun harus mempunyai keunggulan (Differentiating Competencies) dalam mengimplementasikannya.
Contoh, seorang dosen tidak cukup beretorika di depan mahasiswa dengan teori yang dikuasasi, namun lebih dari itu harus mampu mentransformasikan ilmunya menjadi dimengerti dan difahami oleh mahasiswa, mampu mencurahkan keilmuannya dalam bentuk penelitian untuk menghasilkan karya ilmiah dan mampu mengabdikan ilmu pengetahuan, hasil karyanya untuk kemajuan bangsa. Itulah salah satu contoh seorang smart worker.
3. Loyalitas
Loyalitas tidak sekedar setia, taat, patuh, dan menghabiskan waktu untuk perusahaan. Makna dari loyalitas dalam kamus Oxford Thesaurus adalah:
(1) Percaya dan bisa dipercaya. Misalnya percaya atas tugas yang diembannya akan berhasil dan dapat dipercaya oleh institusi dalam mengemban tugas dan tanggung jawab tersebut.
(2) Konsisten dan stabil. Misalnya ketika kita mendapatkan sanksi atau teguran, merasa dianaktirikan oleh pimpinan, dijauhi oleh rekan kerja dll, orang yang mempunyai loyalitas tinggi tetap akan bekerja dengan semangat tinggi, memperlihatkan kinerja yang baik, tidak mengeluh, tidak mengumpat dan tetap stabil bekerja dalam berbagai kondisi.
(3) Dedikasi, mempunyai pengertian yang sangat mulia, yaitu proses pengabdian yang sangat tulus dari seorang karyawan dengan segenap kemampuan dan energi yang dimiliki tanpa melihat seberapa besar reward yang diberikan perusahaan kepada kita. Orang yang mempunyai dedikasi tidak akan pernah menghitung kontribusi yang telah diberkan kepada perusahaan.
(4) Patriotik. Jiwa patriotik tidak sekedar mempunyai rasa memiliki atau kepedulian yang tinggi terhadap perusahaan namun lebih dari itu seorang karyawan yang mempunyai jiwa patriotik akan selalu menjadi garda terdepan dalam mempertahankan dan memajukan keberlanjutan perusahaan. Membela hak-hak perusahaan dan menjadi bagian.
Dewasa ini, menjadi smart worker adalah sebuah keharusan yang tak terelakan. Seseorang akan tetap bertahan dan meraih karir terbaik jika mampu mempunyai integritas, kompetensi dan loyalitas yang tinggi terhadap perusahaan.
Denis Waitley seorang pakar motivasi dan penulis buku-buku self help mengatakan: ”Yesterday seniority signified status. Today creativity drives process”.
Jelaslah bahwa kesuksesan karir seseorang tidak lagi ditentukan oleh lamanya dia bekerja (sudah senior), namun sangat ditentukan oleh kreatifitas yang merupakan proses untuk meraih sukses. ***
Penulis adalah Motivator Karier dan Entrepreneur, Dosen Tetap Universitas BSI Jakarta, Pengurus (Pergunu, LPTNU, ISNU) Jabar, Ketua Gema Asgar Jakarta, Wakil Ketua APMI Pusat



.png)





