GOSIPGARUT.ID — Politikus senior Partai Keadilan Sejahtera (PKS), H. Ahab Sihabudin, melempar kritik pedas ke jantung basis utamanya: lembaga pendidikan Islam. Anggota DPRD Jawa Barat periode 2024–2029 itu menilai pondok pesantren makin berjarak dari urusan kepemimpinan politik dan cenderung bersikap pasif.
Figur yang juluki “Singa Parlemen” dari Garut ini menyayangkan sikap mental sebagian kalangan pesantren yang lantang mencela penguasa, tetapi minim ikhtiar menyiapkan kader pengganti. Sentilan itu ia sampaikan saat menggelar gerak literasi dan bedah buku karyanya, Garuda Utama, di hadapan para santri dan kiai.
”Kita tidak bisa memungkiri bahwa hari ini pondok pesantren kurang berminat untuk mencetak pemimpin,” ujar Ahab, Kamis, 15 Oktober 2026.
“Melalui bedah buku ini, saya mengajak berdialog para santri dan pimpinan pesantren tentang sosok pemimpin di masa depan,” tambahnya.
Pangkas Budaya Mencela, Siapkan Generasi “Garuda”
Bagi Ahab, retorika dan kritik keras terhadap rezim tidak akan mengubah keadaan tanpa diimbangi kesiapan merebut kekuasaan secara konstitusional. Ia mendesak elemen pesantren bangkit menempa kapabilitas kepemimpinan agar mampu bersaing secara terbuka dan bermoral.
”Setiap individu harus mempersiapkan diri, bukan hanya mengkritisi bahkan mencela pemimpin lain. Tiap diri harus ada upaya meningkatkan kualitas dan kapabilitas,” tegas politikus yang lama berkiprah di DPRD Kabupaten Garut ini.
“Setelah itu, baru merebut kepemimpinan dengan cara yang baik dan bermoral,” sambung Ahab.
Pemilihan filosofi Garuda Utama sebagai judul buku, kata Ahab, tidak lepas dari simbol idealisme berbangsa. Ia mengaitkan lambang Garuda dengan rekam jejak sejarah peradaban masa lalu sebagai kompas moral bagi para calon pimpinan nasional.
”Setiap bangsa punya lambang ideal yang ingin dicapai. Dulu Nabi Sulaiman punya lambang burung, Indonesia punya Garuda,” tutur legislator dari Daerah Pemilihan XIV (Kabupaten Garut) tersebut.
Jejak Panjang di Parlemen
Ahab Sihabudin bukan nama asing dalam peta politik Jawa Barat. Rekam jejaknya di parlemen daerah terbilang panjang, dibentuk oleh keberaniannya bersuara lantang mengawal kebijakan publik hingga dijuluki “Singa Parlemen”.
Posisinya yang akar rumput sempat mendudukkan namanya di papan atas bursa calon Bupati Garut. Namun, putra daerah ini memilih bertahan di jalur legislatif tingkat provinsi.
Bagi Ahab, membangun tatanan politik tidak cuma dilakukan lewat kursi eksekutif, melainkan juga lewat penyemaian kesadaran kepemimpinan di basis-basis tradisional seperti pesantren. (Ai Karnengsih)























