GOSIPGARUT.ID — National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI) Kabupaten Garut menerjunkan 70 atlet untuk memburu posisi sepuluh besar dalam ajang olahraga disabilitas di Kota Bandung pada 22 November 2026. Menjelang keberangkatan, kontingen Garut mendapat suntikan amunisi mental dari Kejaksaan Negeri Garut guna mematangkan kesiapan bertanding.
Penggemblengan mental dan pengarahan tersebut digelar di Aula Kejari Garut, Jalan Merdeka, Kabupaten Garut, Selasa, 6 Oktober 2026. Selain puluhan atlet, kontingen Garut memboyong 17 pelatih dan pendamping untuk mengawal perburuan medali di tingkat Jawa Barat tersebut.
Ketua NPCI Kabupaten Garut, Ujang Saepudin, menegaskan bahwa para atlet yang dikirim merupakan hasil persaringan ketat dari cabang olahraga (cabor) unggulan. Fokus kontingen dialokasikan penuh pada cabor yang sudah memiliki kesiapan teknis dan kedalaman skuad yang matang.
“Untuk yang berangkat dari Garut ada sekitar 70 atlet, kemudian pelatih dan pendamping sebanyak 17 orang,” kata Ujang Saepudin usai agenda pengarahan di Kejari Garut.
Skuad disabilitas Garut dipastikan turun di beberapa cabor andalan, meliputi para renang, para catur, para tenis meja, dan para bulutangkis. Adapun satu cabor pendukung lainnya masih berada dalam fase pematangan persiapan akhir sebelum pelepasan kontingen.
Ujang tak memungkiri bahwa Garut belum mampu mengisi seluruh cabor yang dilombakan. Keterbatasan regenerasi atlet serta belum meratanya fasilitas pembinaan daerah menjadi ganjalan utama yang masih dihadapi NPCI Garut.
“Untuk beberapa cabor lainnya belum ada atletnya. Jadi sementara yang kami ikutkan adalah cabor yang memang sudah memiliki atlet dan siap bertanding,” ujar Ujang menguraikan pemetaan kekuatan timnya.
Ajang kompetisi di Kota Bandung ini dirancang sebagai tolok ukur pembinaan berkala sekaligus panggung penguji mental bertanding. Meski dibayangi keterbatasan variasi cabor, NPCI Garut tetap mengusung target terukur untuk menembus papan atas klasemen.
“Insyaallah, kalau untuk target saat ini kami berharap bisa masuk 10 besar,” tutur Ujang optimistis.
Sinyal dukungan terhadap langkah NPCI Garut datang dari Kejaksaan Negeri Garut. Perwakilan Kejari Garut, Ayu Agung, menilai daya juang para atlet disabilitas merupakan bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk mengukir prestasi hingga level internasional.
Ayu menekankan pentingnya membuka ruang kesetaraan bagi setiap warga negara untuk berkembang. Menurutnya, pembinaan atlet disabilitas yang berjenjang dari daerah hingga pusat wajib disokong oleh pelbagai pemangku kepentingan secara konsisten.
“Semua orang punya hak dan kewajiban untuk maju. Kita semua juga punya hak untuk berprestasi, sesuai dengan kemampuan dan kapasitas masing-masing,” kata Ayu.
Ayu turut menyoroti peran sentral para pelatih yang menjadi tulang punggung di balik layar. Kesabaran, ketekunan, serta motivasi yang diberikan pelatih dinilai sebagai faktor penentu dalam membentuk mental juara para atlet.
“Kalau melihat perjuangan mereka itu luar biasa. Walaupun memiliki keterbatasan, ternyata keterbatasan itu tidak menjadi penghalang untuk berprestasi,” ujarnya.
Mengenai peluang keterlibatan atau dukungan program lanjutan dari Kejari Garut untuk NPCI ke depan, Ayu menyebut pihaknya membuka pintu koordinasi internal bersama pimpinan.
“Kalau terkait itu pastinya saya harus koordinasi dulu dengan pimpinan. Apapun kegiatannya, semuanya tentu sangat kami apresiasi,” tutur Ayu.
Suntikan motivasi dari Kejari Garut ini diharapkan memacu kesiapan kontingen Garut. Dengan sisa waktu persiapan menjelang November 2026, para atlet NPCI Garut membidik hasil maksimal demi mengamankan tempat di posisi 10 besar sekaligus membawa pulang gengsi daerah. (Yuyus)



.png)













