Berita

Ini Cara Pengelola SPPG Sukagalih 5 Garut Hadapi Berbagai Masalah Operasional

×

Ini Cara Pengelola SPPG Sukagalih 5 Garut Hadapi Berbagai Masalah Operasional

Sebarkan artikel ini
Rekrutmen pegawai di SPPG Sukagalih 5 diawasi Ketua RW setempat.

GOSIPGARUT.ID — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mitra dari Badan Gizi Nasional yang menyediakan makan gratis bagi siswa, Lansia, Balita dan ibu hamil, jadi tulang punggung pemerintah dalam mensukseskan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ternyata, banyak cerita dari pengelola SPPG untuk menjaga operasional SPPG tetap berjalan dan memberi manfaat bagi para penerima.

SPPG Sukagalih 5 misalnya yang beroperasi baru kurang lebih tiga bulan. SPPG ini, membuka dapur yang lokasinya sangat berdekatan dengan kantor Bupati Garut di Jalan Pembangunan dan dekat dengan pemukiman warga. Banyak dinamika harus dihadapi oleh pengelola, dari mulai keluhan warga sekitar, dilaporkan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) hingga jadi bahan pemberitaan media.

“Kita melihat itu sebagai bentuk kepedulian warga dan pihak-pihak lain atas program MBG karena mereka ingin program ini berjalan baik, makanya kita selalu responsif atas segala bentuk aspirasi dan evaluasi,” jelas Lingga Quasargraha, pengelola SPPG Sukagalih 5, Kecamatan Tarogong Kidul.

Lingga mengaku, sejak awal berdiri warga sudah melayangkan keluhan meski sebelum operasi pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada pengurus Rukun Warga (RW), Rukun Tegangga (RT) dan tokoh masyarakat sekitar. Karena menganggap keluhan warga sebagai bentuk evaluasi dan masukan agar program MBG bisa berjalan dengan baik, Lingga pun langsung mengajak warga berdiskusi mencari solusi hingga solusi yang disepakati dilakukan oleh pengelola SPPG.

Baca Juga:   Zona Hijau, Bandung dan Garut Jadi Sampel Imperma Ombudsman

“Semua bentuk masukan, kritik kita selalu sikapi dengan musyawarah, ada dari pemerintahan kelurahan yang ikut memfasilitasi, Solusi yang disepakati kita jalankan sesuai kesepakatan,” katanya.

Selain kritik masukan dari Masyarakat, menurut Lingga SPPG yang dikelolanya pun pernah dilaporkan oleh salahsatu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) terkait pengelolaan limbah yang telah diperbaiki setelah ada keluhan dari warga. Semua itu menurut Lingga diterimanya hingga Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Garut langsung melakukan peninjauan lapangan untuk memeriksa fasilitas pengolahan limbah.

“Kita selalu terbuka, Pak Sekda juga telah melihat langsung pengolahan limbah yang sempat dikeluhkan warga dan telah kita perbaiki, Alhamdulillah respon Pak Sekda baik karena kita terbuka,” jelasnya.

Dinamika pengelolaan SPPG yang terjadi, menurut Lingga juga sempat menjadi pemberitaan media. Namun, pihaknya tetap terbuka memberikan penjelasan atas apa yang jadi bahan pemberitaan media.

“Alhamdulillah, semua pemberitaan juga berimbang, kita sudah memberikan penjelasan dalam pemberitaan media,” katanya.

Baca Juga:   Terjadi Kepadatan Arus Lalulintas Kendaraan Saat Libur Iduladha di Garut, Ini yang Dilakukan Polisi

Semua dinamika tersebut, menurut Lingga menjadi bahan bagi pihaknya untuk melakukan pengelolaan SPPG sesuai dengan aturan dari BGN. Karenanya, hingga saat ini pihaknya pun terus berupaya melakukan evaluasi dan kontrol terhadap proses produksi di dapur SPPG yang dikelolanya.

“Tiga bulan pertama ini, Alhamdullillah kita banyak dapat masukan dan evaluasi dari masyarakat dan pemerintah, kita terus berupaya melakukan berbagai perbaikan, ini jadi ilmu bagi kita untuk terus melakukan yang terbaik untuk program ini,” katanya.

Sikap responsif dan kooperatif dari pengelola SPPG V Sukagalih, diakui oleh Asep Maher, tokoh masyarakat setempat yang juga dikenal sebagai tokoh budayawan di Kabupaten Garut.

Maher melihat, setiap ada keluhan dari warga, pengelola SPPG selalu mendengar dan mencarikan solusinya Bersama dengan warga. Langkah ini, menurut Maher bisa dilihat sebagai bentuk pertanggungjawaban sosial pengelola SPPG.

“Kita melihat pengelola SPPG punya rasa tanggungjawab sosial yang baik, karena selalu membuka ruang untuk berkomunikasi dan ikut mencari Solusi atas keluhan warga,” katanya.

Menurut Maher, sikap pengelola SPPG ini, perlu diapresiasi oleh semua pihak karena ini jadi komitmen pengelola SPPG untuk bisa mensukseskan program MBG dan juga memberi dampak positif bagi lingkungan.

Baca Juga:   Mulai Senin Ini, 239.821 Penerima Bansos di Garut akan Dapat Tambahan 10 Kg Beras

“Alhamdulillah tenaga kerjanya juga dari warga sekitar, minimal bisa membantu perekonomian warga sekitar,” katanya.

Maher mengakui, di awal-awal operasi memang sempat ada keluhan warga terkait pengelolaan limbah. Keluhan ini, langsung direspon oleh pengelola SPPG dengan mengajak warga berdiskusi mencari solusinya hingga dampak limbah bisa diatasi.

“Kita melihat mereka punya komitmen kuat mensukseskan program MBG dan memberi manfaat bagi masyarakt sekitar, ini hal baik yang harus diapresiasi,” tegas Maher.

Keluhan warga lainnya pun, menurut Maher disikapi secara responsive dan terbuka oleh pengelola SPPG sehingga masalah-masalah yang muncul mendapatkan solusi yang menguntungkan kedua belah pihak.

“Dapurnya kan baru jalan tiga bulan, memang banyak evaluasi, yang penting semua evaluasi dan masukan disikapi dan selalu ada solusinya, mereka mau mendengar warga sampai bersedia memberi kompensasi jika ada warga yang terdampak, itu yang penting,” katanya. (Ary)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *