GOSIPGARUT.ID — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kampung Cigendut, Desa Cikarang, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, menyatakan siap beroperasi penuh. Fasilitas yang ditujukan untuk menyokong program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini telah mencapai tingkat kesiapan 100 persen, termasuk dalam hal penyerapan tenaga kerja lokal.
Meski seluruh sarana dan prasarana telah rampung sejak 15 Juni 2026, fasilitas yang berada di wilayah selatan Garut ini masih menunggu lampu hijau dari pemerintah untuk mulai menyalurkan bantuan gizi. Padahal, kebutuhan masyarakat di wilayah terpencil tersebut dinilai sudah sangat mendesak.
Pendiri Yayasan Retno Mulya Abadi sekaligus pembangun SPPG Cikarang, H. Tatang Suhendi, mengungkapkan bahwa masyarakat di wilayahnya sangat menantikan realisasi program MBG. SPPG yang berdiri di atas lahan seluas 300 meter persegi ini diproyeksikan untuk melayani sekitar 1.800 penerima manfaat.
Sasaran tersebut mencakup siswa dari 18 sekolah serta kelompok B3 (ibu hamil, ibu menyusui, dan balita) di wilayah Desa Cikarang.
“Kesiapan dapur sudah 100 persen. Pembangunan telah selesai dan seluruh peralatan, termasuk kendaraan operasional, sudah lengkap. Kami juga sudah merekrut 47 tenaga kerja lokal untuk mendukung operasional,” ujar Tatang saat dihubungi, Minggu (21/6/2026).
Tatang menekankan pentingnya percepatan operasional mengingat kondisi geografis Desa Cikarang yang ekstrem. Akses menuju lokasi harus melewati jalan terjal berbatu dengan kontur pegunungan yang curam, jauh dari pusat kota maupun kecamatan.
Kondisi sosiogeografis inilah yang membuat kelompok rentan di desa tersebut membutuhkan perhatian ekstra agar tidak tertinggal dari program pemerintah.
“Daerah ini sangat terpencil. Untuk mencapai lokasi harus melalui jalan berbatu dan medan pegunungan. Sementara masyarakat, khususnya ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, sampai saat ini belum terjangkau program MBG,” katanya lagi.
Bukan Cari Untung, Desak Prioritas dari Badan Gizi Nasional
Melihat urgensi di lapangan, Tatang berharap Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan prioritas kepada SPPG Cikarang agar penugasan operasional bisa segera diturunkan. Ia menegaskan, investasi infrastruktur dan SDM yang sudah matang ini harus segera dimanfaatkan demi kemanusiaan.
“Saya membangun dapur ini bukan hanya untuk berbisnis, tetapi karena rasa kemanusiaan dan keadilan agar masyarakat di daerah terpencil juga mendapatkan manfaat program MBG seperti halnya masyarakat di perkotaan,” tegas Tatang.
Tantangan dan kesiapan serupa ternyata tidak hanya terjadi di Cisewu. SPPG yang berlokasi di Desa Panyindangan, Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, juga menghadapi situasi yang sama. Berada di kawasan pegunungan selatan Garut, SPPG Cisompet kini dalam posisi siap tempur namun masih tertahan operasionalnya.
Keberadaan dua SPPG di pelosok Garut ini dinilai menjadi momentum emas bagi pemerintah untuk membuktikan pemerataan program MBG hingga ke wilayah yang sulit dijangkau (hard-to-reach areas).
Dengan infrastruktur yang komplet dan puluhan tenaga kerja yang siap bergerak, warga di wilayah selatan Garut kini hanya bisa berharap birokrasi dapat berjalan lebih cepat, sehingga ribuan anak dan ibu hamil di sana bisa segera menikmati asupan gizi yang layak. ***

























