GOSIPGARUT.ID — Puluhan calon guru di Kabupaten Garut menawarkan solusi konkret atas mandeknya metode pembelajaran konvensional di sekolah. Sebanyak 68 mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut memamerkan berbagai produk pendidikan inovatif dalam ajang Gelar Karya 2.0 Tahun 2026 di Aula IPI Garut, Tarogong Kidul, Senin, 19 Oktober 2026.
Pameran bertema “Merajut Arah, Membangun Bangsa” tersebut menjadi panggung pembuktian para calon pendidik dalam merespons problem riil di ruang kelas. Produk yang dipamerkan tidak sekadar mengekor tren digitalisasi, melainkan merambah alat peraga berbasis media sederhana, permainan edukatif, hingga sistem informasi interaktif.
Fokusnya beragam: penguatan literasi, pelestarian kebudayaan Nusantara, keselamatan lingkungan sekolah, hingga mitigasi dan kesiapsiagaan bencana.
Rektor IPI Garut, Nizar Alam Hamdani, menegaskan bahwa pameran ini dirancang sebagai wadah eksekusi atas analisis persoalan pendidikan di lapangan. Karya yang dipajang merupakan bentuk penyederhanaan gagasan akademis menjadi alat bantu yang berdampak langsung pada murid.
“Tujuan gelar karya ini adalah menampilkan produk-produk yang dapat memberikan solusi terhadap masalah pendidikan. Pengetahuan diubah menjadi pengalaman, sementara gagasan akademik diwujudkan menjadi kebutuhan nyata dalam dunia pendidikan,” ujar Nizar, Senin, 19 Oktober 2026.
Solusi Konkret di Luar Tren Teknologi
Pendekatan para mahasiswa PPG IPI Garut ini menyoroti pergeseran fokus dalam dunia pedagogi. Inovasi pembelajaran tidak lagi diidentikkan dengan pengadaan perangkat teknologi berbiaya tinggi. Media konvensional yang dirancang tepat guna justru dinilai efektif mengurai kerumitan materi pelajaran yang kerap memicu kejenuhan siswa.
Nizar mengingatkan bahwa tolok ukur keberhasilan pendidikan tidak berhenti pada transfer pengetahuan secara bertubi-tubi. Menurut dia, inovasi yang kontekstual harus bertumpu pada analisis kebutuhan peserta didik, bukan sekadar gaya-gayaan mengikuti arus teknologi.
“Pendidikan itu bagaimana memanusiakan manusia, menuntun peserta didik agar mampu mengembangkan potensinya, membangun karakternya, dan memberikan manfaat bagi kehidupan,” kata Nizar.
Pengembangan produk dalam Gelar Karya 2.0 ini menekankan keseimbangan antara penguasaan teknologi dan penguatan nilai karakter. Mahasiswa dituntut mengawinkan materi kurikulum dengan isu-isu krusial seperti kesiapsiagaan bencana—topik yang sangat relevan dengan kondisi geografis kawasan Garut dan sekitarnya.
Tuntutan Empat Kompetensi Dasar
Gelar Karya 2.0 juga menjadi tolok ukur kesiapan para lulusan PPG sebelum terjun sepenuhnya ke institusi pendidikan resmi. Nizar menggarisbawahi pentingnya penguasaan empat kompetensi mutlak bagi pendidik profesional: pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian.
Integrasi keempat kemampuan tersebut dinilai menjadi benteng utama agar guru tidak tergerus oleh otomatisasi teknologi, melainkan mampu menggunakannya sebagai instrumen pendorong kualitas pembelajaran.
“Guru adalah pelukis masa depan. Guru profesional harus memiliki kompetensi dan mampu memanfaatkan teknologi yang ada untuk meningkatkan kualitas pendidikan serta derajat hidup bangsa,” tuturnya.
Melalui pameran inovasi ini, para calon guru IPI Garut tidak hanya memajang hasil karya akhir studi, tetapi juga menawarkan model pembelajaran adaptif yang siap direplikasi di sekolah-sekolah daerah. Langkah ini diharapkan mampu mengikis ketimpangan kualitas interaksi belajar-mengajar di tingkat tapak. (Yuyus)
























