GOSIPGARUT.ID — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Garut menegaskan komitmennya untuk turut menyelamatkan generasi muda dari berbagai persoalan sosial, mulai dari penyalahgunaan narkoba hingga krisis moral dan mental.
Komitmen tersebut disampaikan Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Garut, Dedi Hasan Bahtiar, seusai jajaran pengurus DPC melakukan kunjungan silaturahmi ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut, Senin (26/1/2026). Rombongan PDI Perjuangan diterima langsung Ketua MUI Garut, KH Rd Amin Muhyidin Maolani, di kantor MUI.
Dedi mengungkapkan, PDI Perjuangan menaruh perhatian serius terhadap kondisi generasi muda di Garut. Berdasarkan data yang dimiliki, jumlah generasi Gen Z dan milenial di Kabupaten Garut mencapai sekitar 780.000 orang, yang dinilai sangat rentan terhadap berbagai permasalahan sosial.
“Ini bukan angka kecil. Generasi muda kita rawan terhadap bahaya narkoba, degradasi moral, serta persoalan mental dan akhlak. Karena itu, tidak bisa ditangani sendiri-sendiri,” ujar Dedi.
Menurutnya, upaya penyelamatan generasi muda harus dilakukan melalui sinergi lintas sektor, termasuk partai politik, tokoh agama, lembaga pendidikan, hingga organisasi kemasyarakatan.
“Tidak ada cara lain selain mengisinya dengan ilmu dan takwa. Di sinilah peran MUI sangat strategis untuk bekerja sama dengan partai politik, perguruan tinggi, sekolah, pondok pesantren, madrasah, sampai para alumni,” kata dia.
Dedi menegaskan, persoalan yang dihadapi generasi muda saat ini menyangkut aspek fundamental, yakni akhlak dan moralitas. Karena itu, peran ulama, ustaz, guru ngaji, dan tokoh agama menjadi kunci dalam membentengi anak muda dari ancaman seks bebas, penyalahgunaan narkoba, serta perilaku kriminal.
“Ilmu menjadi penuntun, dan takwa menjadi penjaga dari perbuatan maksiat. Ini yang harus kita kuatkan bersama,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dedi menyampaikan bahwa PDI Perjuangan mendapat instruksi langsung dari partai untuk menggarap isu generasi muda secara serius. Upaya tersebut, kata dia, tidak semata-mata berkaitan dengan kepentingan politik elektoral pada 2029 atau 2030, melainkan sebagai tanggung jawab moral menyelamatkan masa depan bangsa.
“Ini jauh lebih penting daripada sekadar soal pilihan politik. Kita semua, baik lembaga politik, pemuka agama, guru, dosen, hingga pondok pesantren, harus bertanggung jawab menjaga generasi muda agar tidak terjerumus pada hal-hal yang bertentangan dengan hukum agama dan hukum negara,” tutur Dedi.
Dalam pertemuan tersebut, PDI Perjuangan juga membuka peluang kerja sama hingga tingkat bawah, mulai dari MUI kecamatan sampai MUI desa, untuk mengawal program pembinaan generasi muda.
“Kita bersilaturahmi dengan para sepuh dan ulama Garut, juga dengan ormas-ormas Islam seperti NU, Persis, Muhammadiyah, PUI, dan SI. Harapannya, sinergi ini membawa keberkahan sekaligus solusi nyata bagi masa depan generasi muda Garut,” pungkasnya. ***



.png)















