GOSIPGARUT.ID — Imbas instruksi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang mengharuskan siswa di Jawa Barat masuk sekolah pukul 6:30 pagi, memaksa puluhan siswa SMP Negeri 3 Cisompet, Kabupaten Garut, berangkat dari rumah sebelum subuh.
Selain harus masuk pukul 6:30 siswa pun dilarang menggunakan kendaraan sepeda motor ke sekolah. Akibatnya siswa yang berasal dari kampung terpencil harus berjalan kaki dengan menempuh jarak puluhan kilometer agar tidak terlambat masuk sekolah.
Siswa tersebut berasal dari Kampung Cibeureum, Kampung Cikubang, Kampung Cipicung, masing-masing dari Desa Margamulya dan Sindangsari, Kecamatan Cisompet.
Mereka terpaksa menempuh jarak puluhan kilometer berjalan kaki karena SMP Negeri 3 Cisompet adalah satu-satunya sekolah negeri yang bisa dijangkau dari desa terdekat seperti Margamulya, Sindangsari, Jatisari, dan Neglasari.
Sementara jarak dari rumah ke SMPN 3 Cisompet sekitar 10 hingga 15 kilometer. Jika ditempuh berjalan kaki memakan waktu sekitar 1,5 jam. Kesulitan lain yang harus dihadapi para siswa tersebut dikarenakan kondisi jalan rusak parah. Di sekelilingnya merupakan hutan dan semak belukar.
Mereka pun terpaksa berangkat sebelum subuh agar tidak terlambat masuk kelas. Padahal sepanjang perjalanan yang mereka lalui masih berupa hutan dan semak belukar, mereka pun sering menjumpai binatang seperti babi hutan, ular, dan monyet.
Setelah diguyur hujan deras jalanan licin dan penuh kubangan lumpur. Agar sepatu tidak kotor sesampainya di kelas, mereka pun pergi ke sekolah menggunakan sendal jepit.
Salah seorang pelajar mengatakan jika tidak berangkat sebelum subuh takut terlambat tiba di sekolah, meski was-was dan takut karena jalanan masih gelap. Kendati begitu, mereka tetap bersemangat pergi ke sekolah.
“Kita berangkat bareng-bareng biar ada teman di jalan karena kondisi jalan gelap apalagi jika hujan jalan licin. Kita tidak pake sepatu dulu dan hanya pake sendal jepit karena takut sepatunya kotor. Setelah dekat sekolah kita numpang cuci kaki baru pakai sepatu,” katanya.
Deni Kurniawan, tokoh pemuda Desa Neglasari membenarkan kondisi jalan Cibeureum rusak parah dan sebagian masih berupa jalan setapak dipenuhi semak belukar. Binatang seperti babi hutan, ular, dan monyet banyak berkeliaran di sekitar lokasi tersebut sehingga mengancam keselamatan anak-anak yang berangkat sekolah sebelum matahari terbit.
“Jalannya rusak parah karena itu jalan perkebunan, begitu juga jalan setapaknya masih berupa tanah yang disekelilingnya semak belukar. Jangankan pelajar orang dewasa juga kapok melewati jalan tersebut,” ujar dia.
Deni menceritakan pengalamannya saat mengalami kejadian menakutkan, ketika melewati jalan Cibeureum tiba-tiba dihadang ular yang sangat besar.
“Saya pernah lewat jalan Cibeureum pulang acara sekitar pukul 7 malam. Sudah diingatkan untuk tidak melintas jalan itu, tapi saya paksakan karena yakin tidak terjadi apa-apa. Namun ternyata pas di tengah jalan ada ular besar melintang, sontak saya lari ketakutan dan kapok lewat jalan itu lagi,” tutur dia.
Deni berharap pemerintah Kabupaten Garut mengkaji ulang kebijakan masuk sekolah pukul 6.30 pagi mengingat kondisi wilayah di Kecamatan Cisompet masih banyak wilayah terpencil dan sarana pendidikan yang masih jarang.
“Saya berharap kebijakan tersebut dikaji ulang, dilihat kondisi wilayah seperti apa jadi bisa tahu dan keselamatan anak-anak dipertimbangkan juga. Karena jangankan anak-anak, orang dewasa juga beresiko melewati jalan itu karena ancaman binatang buas,” ujarnya.
“Kita semua berharap pemerintah Kabupaten Garut cek dulu ke lapangan, kondisinya seperti dikaji dan dipertimbangkan keselamatan anak- anaknya baru menerapkan kebijakan yang sesuai. Jangan sampai setelah ada kejadian, anak-anak diseruduk babi hutan atau dililit ular, baru ada tindakan. Intinya harus ada pencegahan dulu sebelum ada kejadian,” pungkas Deni. (Ai Karnengsih)



.png)





