oleh

Lewat Ceramah Berbahasa Sunda, Popularitas Da’i Asal Garut Ini Bisa Mendunia

SEBAGAI murid “Santri Kalong” sekaligus ada keterikatan saudara dan sekampung halaman, selayaknya saya mengangkat seorang sosok penceramah fenomenal yang pernah ada dari Tatar Sunda.

Bahkan seorang penulis berbangsa asing dari Australia, pada tahun 2008 membuat sebuah buku unik berjudul The People`s Religion: The Sermons of A.F. Ghazali (Agama Rakyat: Ceramah-ceramah KH Totoh A.F. Ghazali) diluncurkan.

Buku tersebut merupakan hasil transkripsi dari ceramah-ceramah sang dai yang selama ini terdokumentasikan dalam bentuk rekaman kaset. Dari puluhan tema ceramah yang terrekam dalam kaset, buku yang ditulis Julian P. Millie, seorang peneliti dari Monash University Australia.

KH Totoh Gozali, mubaligh yang banyak digemari masyarakat Sunda yang berasal dari Limbangan, Garut, ini memilih bahasa Sunda sebagai medium menyampaikan pesan-pesan agama kepada audiensnya.

Pilihan tersebut disadari betul dalam konteks dirinya sebagai urang Sunda yang dibesarkan dalam rahim kebudayaan Sunda. Dan, bukankah para nabi juga menggunakan bahasa lokal atau ujaran kaumnya (billhughati qaumihim) dalam menyampaikan risalah kepada umatnya.

Strategi tersebut boleh jadi menginspirasi KH Totoh Ghazali untuk memilih bahasa Sunda sebagai pengantar dalam dakwahnya. Hasilnya, ceramah-ceramah yang disampaikannya tidak hanya menjadi tontonan di panggung dan momen pengajian, tetapi juga menjadi tuntunan yang menelisik lubuk terdalam kesadaraan para jemaahnya.

Tidak semua da’i memiliki keahlian berceramah yang memikat seperti KH Totoh Ghazali. Yang juga memiliki keahlian khusus sebagai ahli service jam tangan kala itu. Maka, dalam konteks tersebut, ceramah menjadi skill dan seni tersendiri yang tidak hanya bernilai profan (duniawi), tetapi juga berdimensi sakral (suci) bagi umat Islam.

Baca Juga:   Feodalisme Pemilu Menguji Netralitas KPU

Ceramah, dalam konteks ajaran Islam tidak lain merupakan perwujudan titah Tuhan untuk amar makruf nahi mungkar (mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran).

Akan tetapi, untuk ibadah seperti itu, tidak semua orang muslim mampu menjalankannya dengan halus, santun, bahkan jenaka seperti yang dilakukan Ghazali. Ia piawai mengemas ajaran-ajaran Islam dengan bahasa Sunda bagi khalayak sasarannya yang utama, yaitu penduduk desa di Jawa Barat.

Bahasa asli penduduk Jawa Barat adalah bahasa Sunda, yang dewasa ini digunakan oleh kurang lebih 27.000.000 orang (Julian Millie: 2008).

Bahasa Sunda termasuk bahasa lokal penduduk Indonesia yang sudah tua, namun bahasa Sunda menjadi salah satu bahasa yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman (modernitas) seperti yang dilakukan oleh bahasa nasional Indonesia.

Karena pada aktivitas sosial sehari-hari, masyarakat Sunda kontemporer lebih mengandalkan bahasa Indonesia, maka tidak heran jika beberapa ujaran dalam ceramah Ghazali, baik yang berbentuk rekaman kaset, apalagi dalam bentuk tulisan, seperti terhimpun dalam buku Agama Rakyat: Ceramah-ceramah A.F. Ghazali, banyak yang asing bagi generasi muda Sunda kontemporer.

“Verba volant, scripta manent”

Maret 2008 lalu sebuah buku unik berjudul The People`s Religion: The Sermons of A.F. Ghazali (Agama Rakyat: Ceramah-ceramah A.F. Ghazali) diluncurkan. Buku tersebut merupakan hasil transkripsi dari ceramah-ceramah sang da’i yang selama ini terdokumentasikan dalam bentuk rekaman kaset.

Dari puluhan tema ceramah yang terrekam dalam kaset, buku yang ditulis Julian P. Millie, memilih empat tema sebagai topik yang ditulis, “Ayat-ayat Allah”, “Ngabageakeun Muharam”, “Tobat”, dan “Tugas Risalah”. Hasilnya adalah satu format buku bilingual, bahasa Sunda dan bahasa Inggris.

Baca Juga:   Akad Mudharabah Tabungan Haji BRI Syariah (Oleh: Agnia Kurniawan))

Buku ini boleh jadi yang pertama dalam jenisnya. Menuliskan ceramah da’i kondang memang sudah banyak dilakukan. Namun, upaya tersebut biasanya dengan mengubah bahasa lisan (ceramah) menjadi bahasa tulisan. Konsekuensinya, banyak unsur dalam bahasa ujaran tersebut yang hilang karena harus tunduk pada aturan gramatika dan sense yang lazim dalam bahasa tulis.

Nah, pada konteks ini, buku tersebut menjadi berbeda. Pasalnya, buku tersebut sepenuhnya menuliskan ceramah Ghazali dalam bentuk aslinya, yaitu bahasa lisan. Tujuannya, seperti diungkap penulisnya dalam pengantar buku tersebut bahwa format seperti itu untuk menangkap norma-norma kebudayaan dan keagamaan di lingkungan sosial tertentu, yakni masyarakat Sunda.

Dengan tetap mempertahankan ungkapan aslinya, maka menuliskan ceramah dalam buku ini merupakan upaya untuk mempertahankan watak lisan dari ceramah tersebut.

Akan tetapi, cara seperti itu, mentranskrip bahasa lisan, memiliki kelemahan tersendiri. Hal demikian juga disadari oleh penulis buku ini. Maka, ketika ceramah itu menjadi tulisan, walhasil, ceramah-ceramah tersebut menjadi asing bagi pembaca.

Konvensi dan kebudayaan yang diungkapkan oleh Ghazali boleh jadi terbilang baru bagi sejumlah orang. Namun, terlepas dari hal itu, bahasa lisan memiliki koherensi dan logika yang berbeda dari yang terdapat dalam tuturan tulisan. Dalam bahasa ujaran, gagasan-gagasan tidak selalu runtut betul dan dialog-dialog yang diciptakan oleh sang da’i dengan khalayaknya tidak mudah diungkapkan dalam tulisan.

Tradisi lisan yang identik dengan masayarakat tradisional lebih banyak berbentuk dongeng, mitos, pantun, dan jampi-jampi yang diwariskan dan dikonservasi melalui ujaran dari satu generasi ke generasi penerusnya.

Baca Juga:   Romahurmuziy, Layu Sebelum Barkembang (Catatan: Imron Abdul Rajak)

Namun, sering kali tradisi tersebut punah di tengah pusaran zaman. Maka dengan itu, masyarakat tersebut tidak hanya kehilangan satu khazanah bahasa lisan, tetapi juga nilai dan episteme dari masyarakat penutur bahasa tersebut.

Ceramah bisa jadi merupakan metamorfosis tradisi lisan dalam masyarakat Sunda yang dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam. Terlebih, ceramah yang menggunakan bahasa lokal seperti bahasa Sunda adalah suatu kekayaan budaya yang menjadi identitas masyarakat Sunda itu sendiri.

Tradisi lisan merupakan cerminan identitas masyarakat atau golongan tempat mereka hidup. Tentu saja, khazanah tersebut tidak boleh hilang hanya karena sang penutur, sang da’i, meninggal dunia.

KH. A.F. Ghazali setelah wafat tahun 2001 mewariskan ceramahnya bagi jemaahnya di Tatar Sunda. Saya dan jutaan warga Jawa Barat adalah pewaris aktif (active bearers) tradisi lisan Sunda. Saya sangat apresiatif kepada Julian P. Millie, penulis buku The People`s Religion: The Sermons of A.F. Ghazali.

Karyanya akan mendokumentasikan dan menyelamatkan khazanah kebudayaan masyarakat Sunda dari ancaman kepunahan. Dengan menuliskan tradisi lisan tersebut, maka ceramah sebagai satu khazanah budaya diawetkan dan dilestarikan dalam bentuk tulisan, verba volant, scripta, mengutip tulisan Dede Syarif, peneliti dan dosen sosiologi agama UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam judul mengenang mubalig KH. Totoh Ghazali.

Di era yang semakin maju ini, ceramah KH. Rd. Totoh Ghazali masih bisa ditemukan di kanal YouTube maupun Mp3 yang tentu jauh berbeda dengan era 1970-1990 yang masih berbasis pita kaset. Semoga dari Tatar Sunda lahir kembali para mubalig sekaliber KH. Rd. Totoh Ghazali. (Aceng Ahmad Nasir)

Komentar