GOSIPGARUT.ID — Petani di Kampung Ciawitali, Desa Girimukti, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, saat ini tengah memanen padi yang ditanam sejak empat bulan lalu. Menurut mereka, panen tersebut adalah merupakan panen terakhir di tahun ini, ketika lahan tadah hujan yang diolahnya tak bisa ditanami lagi karena tidak ada air.
“Pada bulan Juni ini saat memasuki musim kemarau. Di lahan pesawahan Kampung Ciawitali tidak bisa ditanami apa-apa ketika musim kemarau datang. Pasalnya, di musim itu seluruh lahan pesawahan di sini kering kerontang. Yang bisa kami lakukan, terpaksa membiarkan lahan pertanian jadi arena bermain anak-anak,” kata Ilan, salah seorang petani di Kampung Ciawitali.
Ia menambahkan, tidak ada tanaman yang bisa ditanami di lahan ratusan hektare itu saat musim kemarau, kecuali rumput liar yang tumbuh dengan sendirinya. Kondisi demikian sudah berlangsung sejak dulu. Karena, meskipun Kampung Ciawitali berada di bawah pegunungan, namun di sana tidak ada sumber air.
“Sawah dan kebun di sini hanya mengandalkan hujan dalam sistim pengairannya. Jadi tidak aneh kalau kami hanya bisa menanam padi selama musim hujan berlangsung, atau hanya dua kali tanam dalam setahun,” terang Ilan.

Ia dan petani lainnya berharap ada bantuan dari pemerintah berupa pembuatan saluran air atau irigasi. Sebab jika ada sistem pengairan yang memadai di sana, mungkin pada musim kemarau pun mereka masih bisa mengolah lahan pertaniannya untuk bercocok tanam.
“Jika airnya normal, saat musim kemarau itu kami ingin menanam jagung atau kacang-kacangan di lahan bekas ditanami padi ini. Namun, karena tidak ada air, terpaksa lahan dibiarkan untuk jadi tempat bermain anak-anak,” ujar Ilan. (Galih Pawarti)



.png)












