GOSIPGARUT.ID — Sebuah masjid dengan bangunan megah berdiri kukuh menghadap Laut Selatan Jawa di Kabupaten Garut. Masjid itu bernama Al Jabbar. Konon, masjid yang dapat menampung jamaah hingga 2.000 orang itu disiapkan sebagai calon masjid agung Garut Selatan ketika terjadi pemekaran di Kabupaten Garut.
Masjid tersebut terletak di Desa Karangwangi, Kecamatan Mekarmukti, Kabupaten Garut. Lokasi masjid itu tepat berada di Jalan Lintas Garut Selatan dan menghadap ke Pantai Cicalobak. Bangunan Masjid Al Jabbar berwarna putih, dengan corak warna hijau pada bagian kubahnya. Sementara bagian menara di sampingnya berbentuk segitiga.
Masjid Al Jabbar memiliki luas sekitar 2,4 hektare. Pada bagian depan, terdapat taman yang disediakan untuk pengunjung dengan pemandangan Laut Selatan Jawa. Sementara di bagian belakang, terdapat warung-warung untuk pengunjung yang datang untuk beristirahat.
Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al Jabbar, H Shohib Abdul Hakim mengatakan, masjid itu memang sering didatangi orang-orang yang melintas di jalur selatan Jawa Barat (Jabar). Mereka datang untuk melaksanakan shalat serta beristirahat di masjid yang dibangun oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar itu.
“Kebanyakan jamaahnya memang mereka yang melintas di jalur selatan. Kadang orang yang mau ke Pangandaran atau Sukabumi, pasti berhenti di sini untuk shalat dan istirahat,” kata dia.
Shohib mengatakan, pengurus masjid memang tak memperbolehkan pengunjung tidur di dalam masjid. Namun, pengurus menyiapkan tempat untuk beristirahat pengunjung, yaitu di bagian bawah masjid berupa aula.
Masjid Al Jabbar memiliki tiga lantai yang dapat digunakan. Dua lantai digunakan untuk jamaah beribadah, sementara satu lantai bagian bawah digunakan untuk aula.
Menurut Shohib, masjid itu dapat menampung lebih dari 2.000 jamaah. Ia bahkan mengklaim, Al Jabbar merupakan masjid terbesar dan terluas di Kabupaten Garut. Tak heran, banyak orang beranggapan Al Jabbar akan dijadikan Masjid Agung jika wilayah Garut Selatan telah menjadi daerah otonomi baru (DOB). Apalagi, Kecamatan Mekarmukti juga digadang-gadang akan menjadi ibukota Kabupaten Garut Selatan.
Namun, ia tak bisa memastikan terkait rencana itu. “Saya sendiri tak tahu pasti kalau ini akan dijadikan Masjid Agung. Tapi memang ini masjid terbesar dan terluas di Garut,” kata dia.
Kendati demikian, aktivitas di Masjid Al Jabbar masih cenderung sepi. Lokasinya yang cukup jauh dari permukiman warga membuat seolah-olah masjid yang dibangun pada 2015 itu tak memiliki banyak kegiatan. Menurut Shohib, sejak dibuka untuk umum setahun yang lalu, jamaah yang datang ke Masjid Al Jabbar kebanyakan adalah pengunjung dari luar atau bukan warga sekitar.

Berdasarkan pantauan, permukiman terdekat dari Masjid Al Jabbar berjarak sekitar 300 meter. Itu pun hanya permukiman kecil, dengan rumah hanya sekitar 30 bangunan.
DKM sebenarnya tak tinggal diam. Berbagai program dibuat untuk memancing jamaah datang ke masjid. Shohib menyebutkan, terdapat tiga program rutin yang dilakukan DKM untuk memakmurkan masjid. Pertama, pengajian anak-anak yang dilakukan setiap hari selepas shalat ashar. Namun, hanya sekitar 20 anak yang datang mengaji di tempat itu.
DKM juga membuat program pengajian bulanan berupa istighatsah. Menurut dia, kegiatan itu sedikit banyak mengundang jamaah untuk datang. Tak hanya itu, DKM juga mulai merancang kegiatan triwulan berupa ceramah dengan mengundang ulama yang cukup dikenal di wilayah itu.
“Belum banyak memang. Tapi alhamdulillah untuk bulanan ada saja jamaahnya,” kata Shohib.
Ia menambahkan, DKM Al Jabbar juga mempersilakan organisasi atau kelompok mana pun untuk mengadakan kegiatan di masjid itu. Ia mencontohkan, tak jarang ada kelompok dari kampus mengadakan acara di Masjid Al Jabbar. Umumnya, tema acara yang diselenggarakan berkaitan dengan agama Islam.
“Selama ini, banyak yang datang itu pengunjung atau dari organisasi mana pun mengadakan acara di sini, kita terima. Selama untuk memakmurkan masjid, kita persilakan,” kata Shohib.
Ke depannya, ia mengatakan, DKM Al Jabbar juga berencana membuat program pendidikan atau tarbiyah, mulai dari yang formal atau nonformal, bekerja sama dengan dinas terkait. Dengan begitu, kegiatan di masjid dapat selalu hidup. (ROL)


.png)












