Oleh: Imron Abdul Rajak
ADA dua kejadian viral pada Kamis 11 April 2019. Ada surat suara yang sudah dicoblos di Selangor, Malaysia, dan wawancara eksklusif Prabowo Subianto dengan Ustadz Abdul Somad (UAS). Wawancara ini disiarkan di TV One.
Untuk kejadian yang kedua, UAS menunjukkan sikapnya yang khas sebagai seorang alim-penceramah yang bertugas menyampaikan nasihat kepada umat, salah satunya kepada elite dan pemimpin. Jauh dari kesan inferiority complex dan tersubordinasi. Sebaliknya, UAS dengan jelas dan tegas tanpa rasa canggung tetapi tetap dengan menjaga etika, memberikan nasihat dan pesan-pesannya jika Prabowo terpilih menjadi pemimpin nanti.
Ada dua pesan utama UAS untuk Prabowo jika terpilih nanti. Yaitu, tunaikan amanat dan tegakkan keadilan.
“Bapak letakkan amanah ini, yang pisau bapak beri ke anak-anak muda, karena mereka akan pergi ke hutan berburu. Yang buah, bapak berikan ke anak-anak, agar mereka makan buah supaya fresh. Yang bunga bapak berikan kepada anak gadis, agar mereka berikan kepada suaminya yang sudah menikah. Sedangkan pena bapak berikan kepada ‘ulama supaya menulis,” pesan UAS.
Selain itu, UAS juga menyampaikan nasihat bahwa kedudukan pemimpin itu sangat penting. Jika seseorang bertekad untuk menjadi pemimpin dalam upaya memperjuangkan menunaikan amanat dan menegakkan keadilan merupakan sebuah jihad besar. Karena itu, katanya, harus diperjuangkan dengan penuh kesabaran. Selebihnya, adalah tawakal kepada Allah SWT.
Terakhir, UAS menyampaikan permintaan jika Prabowo terpilih menjadi presiden. Jangan ia undang ke istana dan jangan kasih jabatan.
“Kalau Bapak memang duduk nanti menjadi Presiden. Terkait dengan saya pribadi, dua saja. Pertama, jangan Bapak undang saya ke Istana. Biarkan saya berdakwah masuk ke dalam hutan. Karena, memang saya dari awal dari sana. Saya orang kampung. Saya masuk hutan ke hutan. Yang kedua, jangan bapak beri saya jabatan. Apa pun. Saya diantara 40 cucu mbah kakek saya, dia bilang; “cucuku yang ini, satu ini hanya sekolah agama untuk mendidik umat”. Sudah. Selesai. Makanya tak pernah sekolah umum. Jadi biarkanlah saya terbang sejauh mata memandang, saya ceramah.”
Wawancara Prabowo dengan UAS mengingatkan saya kepada KH. Muhsin Wahab, Sukahideung, Tasikmalaya. Menurut salah satu keponakannya, Asep Barhia, ketika ada ajudan salah satu Gubernur Jawa Barat meminta beliau datang ke Gedung Sate, beliau mengatakan kepada ajudan, ”Sampaikan kepada Pak Gubernur. Yang butuh itu Pak Gubernur atau saya. Kalau butuh kepada saya, Pak Gubernur datang ke sini.”
Beliau menjaga jarak dengan penguasa karena tidak mau tersubordinasi oleh kekuasaan.
Meskipun demikian, bukan sesuatu yang buruk jika kiai atau ulama dekat dengan penguasa. Yang penting kedekatannya tidak membuat kiai atau ulama tersubordinasi dan hanya menjadi penyambung lidah penguasa.
Imam Malik adalah satu ulama yang sangat dekat dengan penguasa dan beliau mendapatkan hadiah darinya. Tetapi beliau tetap menjaga integritasnya dan independensinya. Meskipun pada akhirnya, karena nasihatnya yang keras kepada penguasa, beliau akhirnya mendaptakan hukuman cambuk dari penguasa karena fitnah yang menimpanya.
Masih banyak kiai dan ulama yang bisa menjadi teladan kita. Semoga kita mengambil pelajaran dan pengetahuan guru-guru kita semua. Pilihan politik bukan alasan untuk tidak menghormati kiai dan ulama. (Penulis adalah redaktur khusus Gosip Garut Online)



.png)





