oleh

Lama Tak Terdengar, Ternyata Tokoh Garut Ini Menekuni Bisnis yang Bikin Terang

GOSIPGARUT.ID — Lama tidak terdengar bersuara dalam hiruk pikuk persoalan publik di Kabupaten Garut, ternyata tokoh masyarakat Garut Utara (Gatra), Holil Aksan Umarzen kini sedang disibukan dengan bisnis barunya, yaitu pembuatan lampu LED tenaga surya. Ia mengklaim bisnis yang dipayungi oleh perusahaan miliknya PT Abiloka Juara, berskala nasional.

Lampu LED tenaga surya dengan jangkauan sekitar 40 meter ‎itu diharapkan bisa menggantikan PJU di seluruh Jawa Barat. Bahkan karena tidak membutuhkan listrik, lampu ini pun bisa dikembangkan ke wilayah-wilayah terpencil.

‎Lampu dengan tenaga surya ini diberi nama ‘Jabar Smart Light’ dan sangat sulit untuk dicuri karena lampu ini memiliki desain yang unik. Karena biasanya baterai lampu atau alat penyerap tenaga surya berada di bawah lampu. Tetapi lampu ini memiliki bagian vital tersebut yang bersatu dengan lampu.

“Jika ingin dicuri harus dengan tiang-tiangnya, karena lampunya saya desain khusus. Belum lagi lampu ini dikembangkan dengan teknologi yang saya beri nama ‘Smart City Light’‎. Jadi lampu ini nantinya terkoneksi dengan aplikasi tersebut,” kata Holil, seperti dilansir Pikiran-rakyat.com, Kamis 14 Februari 2019.

Menurutnya, karena terkoneksi dengan aplikasi, maka lampu ini pun jika mengalami masalah langsung bisa terdeteksi. Bahkan tiap-tiap lampu memiliki pin khusus yang terkoneksi ke aplikasi tersebut. Misalnya ada suatu daerah yang sudah mulai gelap meski belum masuk waktu malam. Maka lampu bisa dikendalikan dengan mengaktivasinya melalui nomor pin khusus.

Baca Juga:   Calon Senator "Teureuh Garut": Jabar Harus Jadi 45 Kabupaten/Kota

‎Daya tahan lampu tenaga surya ini juga cukup lama. Bahkan ketahanan lampu ini bisa bertahun-tahun lamanya. “K‎ami pun beri garansi tiga tahun untuk masing-masing lampu, meski daya tahannya jauh lebih lama,” ujar Holil yang juga CEO PT Noorabika Tour & Travel ini.

Lampu tenaga surya buatan Abiloka menyala di depan kantor Noorabika Tour & Travel Perwakilan Garut, di Jalan Raya Limbangan. Lampu tersebut mampu menerangi dengan radius 30 meter per satu titik penerangan. (Foto: Istimewa)

Benderang di lokasi bencana

Hampir seluruh bagian lampu ini, kata dia, merupakan hasil pengembangan para insinyur khusus yang dia miliki. Meski demikian ada bagian yang harus diimpornya dalam memproduksi lampu tersebut. “Baterainya itu lithium dan nempel langsung dengan lampunya, nah ini yang kita belum punya. Karenanya saya ada rencana bikin pabrik baterai lithium ini,” ujar Holil.

Kapasitas energi yang dimiliki Jabar Smart Light ini pun, lanjutnya, cukup lama untuk kategori lampu tenaga surya. Karena jika tanpa ada sinar matahari pun lampu ini bisa tahan tanpa sinar matahari tersebut selama tiga hari.

“Semisal ada kejadian luar biasa, sehingga Kota Bandung ini gelap gulita selama tiga hari. Maka lampu ini masih bisa menyala selama tiga hari tersebut. Karenanya lampu ini sebenarnya juga bisa dipakai di tempat-tempat yang terdampak bencana. Apalagi pemasangannya tak butuh waktu lama,” katanya.

Holil pun menyatakan, lampu ini tidak perlu tiang untuk pemasangan pada tempat yang terdampak bencana ini. Karena yang dibutuhkan justru bagian utama lampu tersebut yang berukuran sekitar 30 cm ke 15 cm tersebut. “Jadi bisa langsung misalnya ditempelkan di pohon, atau tiang listrik yang masih tegak namun jaringannya terputusa karena bencana,” katanya.

Baca Juga:   Mungkin Ini Calon Senator Pilihan Anda, Siapakah Sapei ST?

Lampu yang dibanderol dengan harga Rp 30 juta per unit. Ini pun, kata Holil, bisa menggantikan lampu-lampu PJU yang ada. Bahkan jika telah membeli lampu ini, pemda setempat yang menggunakan lampu, tidak perlu lagi membayar biaya PJU ke PLN.

“Memang harganya dibanding lampu PJU biasa lebih mahal sedikit. Hanya saja penggunaan lampu ini dipastikan sangat bisa meningkatkan PAD daerah yang menggunakannya. Berapa banyak dana yang dikeluarkan pemda untuk bayar PLN, meski PLN telah melakukan bagi hasil atas pendapatannya dengan Pemda. Tetapi tetap saja pemda bayar ke PLN karena biaya untuk PJU ini besar,” ucapnya.

Lampu miliknya tersebut, kata Holil, juga tak perlu berdempet seperti pada umumnya PJU di jalanan umum. Hal ini dikarenakan cahaya yang dikeluarkannya dirasakan cukup maksimal. Bahkan setara lampu neon dengan watt sekitar 100-150 watt.

“Bahkan bisa disetting juga, jika semakin gelap, maka lampu bisa disetting semakin terang. Atau bahkan jika ada orang lalu lalang, maka lampu ini memiliki sensor untuk lebih meningkatkan cahaya yang dikeluarkannya,” ujarnya menambahkan.

Baca Juga:   Tokoh Garut Utara Minta Dibuat UU Antimonopoli Penguasaan Lahan Negara

Videotron tenaga surya

Holil juga menyatakan, tenaga surya ini bisa juga dipasang sebagai pelengkap iklan-iklan billboard yang ada di kota besar. Termasuk di dalamnya penggunaan videotron bertenaga surya.

Secara umum kata Holil, lampu ini sebenarnya hanya nyala saat keadaan alam sudah mulai gelap. Meski demikian bisa juga dinyalakan pada saat keadaan masih terang atau pada saat hujan besar yang mengakibatkan cahaya matahari kurang memadai.

Sebenarnya, lanjut dia, lampu yang dia miliki tersebut ingin dia kerjasamakan dengan pemerintah daerah. Baik itu tingkat kabupaten, kota maupun provinsi. Bahkan bisa juga ke tingkat Nasional. Hanya saja dia khawatir dengan proses lelang yang ada, karena dengan lelang akan banyak hal yang harus diurus.

“Saya siap jika lampu saya ini dibelinya dengan cara dicicil, semisal dalam jangka waktu 3-4 tahun. Saya bisa pastikan ke depan PAD bisa meningkat. Sesuai dengan PP No 28 yang menyatakan keterlibatan swasta demi pembangunan di Indonesia,” katanya.

Oleh karenanya Holil pun berharap lampu tenaga suryanya ini bisa menjadi solusi gelapnya jalan-jalan di Jawa Barat. Semisal di wilayah Jabar Selatan, desa-desa terpencil di Garut, Sukabumi, Cianjur atau bahkan wilayah perkotaan yang kekurangan cahaya. Contohnya wilayah Bandung Timur yang rawan kejahatan. (PR/Gun)

Komentar

Berita Terkait