Jawa Barat

32 SMK Negeri di Jawa Barat Gandeng 64 Perusahaan, Industri Jadi “Laboratorium” Siswa

×

32 SMK Negeri di Jawa Barat Gandeng 64 Perusahaan, Industri Jadi “Laboratorium” Siswa

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Jawa Barat, Purwanto, perwakilan sekolah dan mitra industri menandatangani dokumen kerja sama dalam acara penguatan pendidikan vokasi di SMKN 1 Setu, Kabupaten Bekasi, Selasa (1/9/2026).

GOSIPGARUT.ID — Sebanyak 32 Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) di Jawa Barat menggandeng 64 perusahaan dari berbagai sektor industri. Kerja sama ini menjadi upaya pemerintah mempersempit jarak antara keterampilan yang diajarkan di sekolah dan kebutuhan dunia kerja.

Perjanjian kerja sama tersebut difasilitasi Dinas Pendidikan Jawa Barat dan ditandatangani di SMKN 1 Setu, Kabupaten Bekasi, Selasa, 1 September 2026. Kemitraan mencakup sejumlah bidang keahlian, antara lain bisnis dan manajemen, pariwisata, manufaktur dan rekayasa, teknologi informasi, seni dan ekonomi kreatif, serta otomotif.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Purwanto mengatakan kolaborasi dengan industri penting karena sekolah memiliki keterbatasan fasilitas dan sumber daya. Perusahaan, kata dia, dapat menjadi tempat belajar nyata bagi siswa.

“Keterbatasan sekolah itu hanya bisa diatasi dengan kolaborasi. Saya berterima kasih kepada perusahaan-perusahaan yang bersedia menjadi living lab bagi anak-anak kita,” kata Purwanto.

Baca Juga:   Proses Perizinan Investasi di Jawa Barat Maksimal Selesai dalam 30 Menit Bisa Dilakukan

Konsep living lab membuat pembelajaran tidak berhenti di ruang kelas. Siswa dapat berhadapan langsung dengan peralatan, teknologi, prosedur, dan budaya kerja yang berlaku di industri.

Menurut Purwanto, pola tersebut menjadi bagian penting dari upaya memperkuat link and match antara pendidikan vokasi dan dunia usaha serta dunia industri (Dudika).

Ia meminta kepala SMK di Jawa Barat tidak menunggu industri datang. Sekolah harus aktif mencari dan membangun kemitraan dengan berbagai pihak.

Mitra tersebut tidak terbatas pada perusahaan besar. UMKM dan komunitas lokal juga dinilai dapat dilibatkan dalam proses pembelajaran. Praktisi industri bahkan didorong masuk ke ruang kelas untuk mengajar dan berbagi pengalaman.

Kemenperin Serahkan Mesin Bubut

Dalam agenda yang sama, SMKN juga memperoleh dukungan fasilitas praktik dari Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE).

Baca Juga:   Penduduk Miskin Jabar Turun 0,38 Persen, Kondisi Ekonomi Makro Faktor Pemicunya

Bantuan tersebut berupa mesin dan peralatan praktik, salah satunya mesin bubut atau general lathe impor asal Korea Selatan.

Purwanto menilai fasilitas praktik yang sesuai dengan standar industri menjadi kebutuhan penting pendidikan vokasi. Siswa harus terbiasa menggunakan peralatan yang mendekati kondisi sebenarnya di tempat kerja.

“Kelengkapan alat yang memadai akan membiasakan siswa dengan ritme serta standar operasional di dunia kerja yang sesungguhnya,” ujar Purwanto.

Namun, ia mengingatkan pendidikan vokasi tidak boleh hanya mengejar kemampuan teknis. Sekolah juga harus membentuk karakter siswa agar mampu mengikuti budaya kerja di perusahaan.

Disiplin, kebersihan, tanggung jawab, dan kepatuhan terhadap prosedur, menurut Purwanto, merupakan bagian dari kompetensi yang dibutuhkan industri.

Baca Juga:   11 Kepala Daerah di Jabar Tak Bisa Dilantik pada 6 Februari 2025 Lantaran Sengketa PHP di MK, Mana Saja?

“Perusahaan membutuhkan orang-orang yang disiplin dan tanggung jawab,” tegasnya.

Kerja sama antara SMK dan industri tersebut diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen. Kemitraan dituntut menghasilkan pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan lapangan.

Bagi sekolah, industri menjadi ruang untuk menguji kompetensi siswa. Bagi perusahaan, kemitraan dapat menjadi salah satu cara menyiapkan calon tenaga kerja yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan.

Dengan demikian, link and match bukan sekadar slogan. Ukurannya adalah seberapa jauh siswa SMK memperoleh pengalaman, keterampilan, dan budaya kerja yang benar-benar dibutuhkan ketika mereka masuk ke dunia industri. (Yan AS)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *