GOSIPGARUT.ID — Semburan smes tajam di GOR Cikuray RAA Adiwidjaya, Tarogong Kidul, bukan sekadar penanda dimulainya perebutan piala bola voli di Kabupaten Garut. Di balik turnamen olahraga ini, Pemkab Garut menyertipkan misi yang tak kalah krusial: mengocok ulang roda perekonomian dari tingkat tapak.
Bupati Abdusy Syakur Amin resmi membuka Kompetisi Bola Voli Indoor Liga Desa Piala Bupati Garut 2026 pada Senin, 31 Agustus 2026. Perhelatan perdana skala kabupaten ini mengikutsertakan kontingen dari seluruh pelosok wilayah: 42 tim putra dari 42 kecamatan dan 38 tim putri dari 38 kecamatan. Mereka bakal bertarung maraton selama sepuluh hari hingga 9 September 2026.
Pemkab Garut sengaja menunggangi demam voli warga untuk memantik daya beli. Menurut Syakur, panggung olahraga masif adalah resep instan mendatangkan massa yang berujung pada meningkatnya transaksi belanja rumah tangga dan pedagang kecil di sekitar gelanggang.
”Sehingga yang kita dorong bagaimana kita menumbuhkan ekonomi, salah satunya yaitu belanja rumah tangga dengan memperbanyak event-event termasuk olahraga,” ujar Syakur usai seremonial pembukaan.
Bagi Syakur, lapangan voli juga berfungsi sebagai etalase potensi desa. Arus pergerakan warga antar-kecamatan selama turnamen diyakini bisa memecah isolasi promosi produk lokal unggulan yang selama ini terendap di pelosok.
”Di antara warga Garut itu bisa saling mengenal terkait desa-desanya. Nah, ini yang menjadi atensi kita untuk lebih mengenalkan potensi desa masing-masing,” kata Syakur, menegaskan harapannya agar efek domino ekonomi antar-desa bisa berputar nyata.
Dari sudut pandang pembinaan atlet, ajang ini menutup dahaga kompetisi terstruktur di tingkat desa. Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Garut, Neni Nurliana, menyebut Liga Desa Voli Indoor edisi pertama ini dirancang bukan sebagai pesta panggung satu malam, melainkan kawah candradimuka penjaringan bibit potensial secara berkala.
”Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada penyelenggaraan tahun ini saja, tetapi dapat menjadi agenda olahraga yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun,” kata Neni.
Neni menegaskan, ruang kompetisi kompetitif bagi atlet akar rumput di Garut selama ini terbilang minim. Melalui kejuaraan tahunan, Dispora Garut berambisi menyaring bakat-bakat mentah yang tersembunyi di pelosok kampung untuk diproyeksikan ke jenjang yang lebih tinggi.
”Melalui ajang ini, kami memberi ruang kepada atlet tingkat desa untuk berkompetisi, meningkatkan kemampuan, membangun sportivitas, sekaligus menjadi bagian dari proses pembinaan dan penjaringan bibit-bibit atlet bola voli potensial di Kabupaten Garut,” tutur Neni.
Kesuksesan hajatan ini turut disokong sinergi lintas instansi, mulai dari KONI Garut, Pengcab PBVSI, jajaran camat, hingga kepala desa. “Kami berharap momentum tersebut dapat semakin membangkitkan semangat masyarakat untuk berolahraga serta mendorong peningkatan prestasi olahraga di Kabupaten Garut,” ujar Neni.
Kini, uji konsistensi Pemkab Garut dipertaruhkan: apakah Liga Desa ini benar-benar menjelma menjadi mesin pencetak atlet sekaligus penopang ekonomi desa, atau sekadar euforia seremoni di penghujung Agustus. ***



.png)








