Hiburan

Voice of Baceprot Rilis “Garong”, Lagu Protes dari Garut tentang Korupsi

×

Voice of Baceprot Rilis “Garong”, Lagu Protes dari Garut tentang Korupsi

Sebarkan artikel ini
Band metal asal Garut, <i>Voice of Baceprot (VoB) dalam sebuah show musik.

GOSIPGARUT.ID — Band metal asal Garut, Voice of Baceprot (VoB), merilis lagu terbaru berjudul “Garong” pada 16 Agustus 2026. Lagu ini menjadi suara kritik terhadap korupsi yang dinilai semakin dianggap biasa oleh masyarakat karena terlalu sering terjadi dan terus berulang.

Lagu tersebut kini tersedia di berbagai platform musik digital. Kepada GOSIPGARUT.ID, gitaris sekaligus vokalis VoB, Marsya, menjelaskan latar belakang lahirnya “Garong” dalam wawancara pada Selasa, 18 Agustus 2026.

Marsya menulis sendiri lirik lagu itu. Musiknya digarap bersama dua personel VoB lainnya, Siti dan Widi. Gagasan awalnya muncul dari rasa frustrasi Marsya ketika setiap hari melihat pemberitaan tentang korupsi.

Menurut dia, persoalannya bukan hanya besarnya uang yang dikorupsi. Yang lebih mengkhawatirkan adalah perubahan sikap publik terhadap kasus-kasus tersebut.

“Ketika berita-berita itu naik, komentar orang-orang sudah kayak biasa saja. Marah ya marah, tapi ya sudah saja. Perlahan jadi membentuk satu pertanyaan, kapan terakhir kali kita kaget sama kasus korupsi atau nominalnya?” kata Marsya.

Baca Juga:   MUI Desak Program TV Pesbukers Ramadhan Harus Dihentikan, Ini Sebabnya

Ia menilai angka korupsi yang terus muncul membuat nominal Rp5 triliun atau Rp3 triliun seolah tidak lagi mengejutkan. Apalagi pernah muncul kasus dengan nilai kerugian yang jauh lebih besar.

Bagi VoB, kondisi tersebut menunjukkan ada persoalan yang lebih mendasar. “Dengan terus naiknya angka korupsi, nominal maupun jumlah kasus, itu membuktikan bahwa memang ada yang salah dengan sistem kita dan hukum gagal menyelesaikan itu,” ujar Marsya.

Judul “Garong” dipilih bukan tanpa alasan. Marsya menggunakan istilah tersebut untuk menyebut orang yang mengambil hak masyarakat. Yang dirampas, menurut dia, bukan sekadar uang, melainkan juga potensi, kesempatan, dan hak memperoleh kehidupan yang layak.

Istilah “garong” juga dianggap lebih dekat dengan bahasa masyarakat. Marsya menilai kata itu lebih lugas dibandingkan istilah seperti koruptor atau maling yang terdengar lebih halus dan cenderung elitis.

Kemarahan itu, kata Marsya, dirasakan bersama oleh tiga personel VoB. Mereka melihat masih banyak masyarakat, terutama di daerah pelosok, yang belum memperoleh hak dasar secara layak.

Baca Juga:   Lama Tak Tampil, Agung Hercules Dikabarkan Idap Kanker Otak

Hak tersebut mencakup pembangunan yang merata, akses pendidikan, kesehatan, hingga rasa aman. Di sisi lain, masyarakat tetap membayar pajak.

“Masyarakat bayar pajak tetap tak berhenti, namun semua isu itu belum juga diatasi dengan serius. Jadi pajak yang selama ini berasal dari banyak hal itu ke mana?” kata dia.

Marsya juga menyoroti gaya hidup pejabat yang menurut dia semakin terlihat mewah di tengah berbagai persoalan publik. Karena itu, masyarakat dinilai berhak mempertanyakan, mengkritik, dan mengingatkan janji politik yang disampaikan ketika pemilu.

Melalui “Garong”, VoB berharap kritik terhadap korupsi tidak berhenti sebagai kemarahan di media sosial. Lagu itu diharapkan mendorong kesadaran bahwa suara masyarakat memiliki konsekuensi politik.

Marsya mengingatkan masyarakat agar tidak merasa suaranya tidak berarti hanya karena bukan tokoh atau pejabat. Setiap lima tahun, suara tersebut justru dicari hingga ke pelosok desa.

Baca Juga:   Mayat Bayi Ditemukan Pemulung di TPA Pasirbajing Garut

“Bahkan hingga ke desa-desa pelosok yang sekolahnya mau roboh atau jalannya super jelek. Itu artinya satu suara kita bisa menentukan ke mana arah bangsa ini akan dibawa,” ujarnya.

Bagi Marsya, kritik juga merupakan bagian dari kontrol masyarakat setelah pemilu. Ketika orang yang dipilih mulai sulit dipahami arah kebijakannya atau dianggap membelokkan mandat untuk kepentingan sempit, masyarakat berhak mengingatkan.

“Jadi kritik itu bukan bentuk kebencian atau ingin menghasut, tapi tanda kita peduli dan cinta pada tempat di mana kita lahir, tumbuh dan mencari makan,” kata Marsya.

Lewat “Garong”, VoB kembali menggunakan musik metal sebagai medium untuk menyuarakan kegelisahan sosial. Dari Garut, kritik itu diarahkan bukan hanya kepada pelaku korupsi, tetapi juga kepada sikap publik yang perlahan kehilangan rasa terkejut terhadap kejahatan yang terus berulang. (April P)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *