GOSIPGARUT.ID — Perebutan kursi Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Garut memasuki babak krusial. Sebanyak sembilan nama resmi masuk radar Komisi Talenta. Di tengah persaingan ketat figur-figur birokrat senior, nama Kepala Dinas PUPR Garut, Agus Ismail, menyeruak sebagai kandidat dengan peluang paling solid untuk memegang tongkat komando birokrasi Garut.
Pergantian kepemimpinan birokrasi Garut kali ini tak lagi menggunakan pola seleksi terbuka (open bidding) konvensional. Mantan birokrat Kabupaten Garut, Wahyudijaya, membeberkan bahwa mekanisme baru kini bertumpu pada penilaian kualitatif Komisi Talenta yang dipimpin Sekda. Aspek rekam jejak, portofolio karier, dan capaian kinerja menjadi penyaring utama.
Hasilnya, sembilan figur lolos masuk nominasi. Selain Agus Ismail, muncul nama-nama seperti Ridzky Ridznurdin, Bambang Hafidz, hingga Kepala Dinas Kesehatan dr. Leli Yuliani. Namun, dari deretan nama tersebut, kualifikasi Agus Ismail dinilai paling menonjol dan presisi dengan kebutuhan tata kelola Garut ke depan.
”Kalau melihat komposisi calon yang masuk nominasi sembilan orang, peluang terbesar ada di Agus Ismail,” ujar Wahyudijaya, Senin 5 Oktober 2026.
Modal Utama: Jam Terbang Perencanaan dan Keuangan Daerah
Penilaian terhadap keunggulan Agus Ismail bukan tanpa alasan. Pengalamannya menahkodai instansi strategis—mulai dari Dinas Pengelola Keuangan Daerah (DPKD) hingga Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda)—menjadi kartu truf utama.
Kombinasi rekam jejak ini membekali Agus dengan pemahaman menyeluruh mengenai arsitektur anggaran sekaligus pemetaan pembangunan daerah secara integratif.
”Seorang Sekda tak sekadar mengurus administrasi meja. Jam terbang Agus di DPKD dan Bappeda memberikan dasar kuat dalam mengonsolidasikan perencanaan dan mengeksekusi anggaran pembangunan Garut secara komprehensif,” tandas Wahyudijaya.
Di ranah eksekutif lokal, Sekda memegang peran kunci sebagai penerjemah visi-misi politik Bupati dan Wakil Bupati ke dalam bahasa program dan anggaran teknis. Pengalaman teknis Agus Ismail di sektor perencanaan menjadikannya figur paling siap untuk langsung mengendalikan mesin birokrasi tanpa memerlukan waktu adaptasi yang panjang.
Menguji Independensi di Komisi Suksesi
Ujian berikutnya bagi para kandidat adalah Komisi Suksesi—tahapan penilaian ketat yang melibatkan unsur pemerintah pusat, pemerintah provinsi, hingga akademisi. Melalui evaluasi kualitatif dan wawancara mendalam, komisi ini akan menyaring sembilan kandidat menjadi tiga besar sebelum diserahkan kepada Bupati Garut sebagai pemegang keputusan akhir.
Wahyudijaya menekankan bahwa mekanisme anyar ini dirancang untuk memagari jabatan Sekda dari manuver politik praktis. Sekda terpilih harus berdiri tegak di atas kepentingan profesionalisme, bukan hasil transaksi politik yang berpotensi menyandera jalannya pemerintahan.
”Kalau Sekda lahir dari bargaining politik, pemerintahan Garut akan tersandera. Tetapi jika independensinya terjaga, ia memiliki keleluasaan penuh untuk mentransformasikan gagasan besar kepala daerah,” kata Wahyudijaya.
Meski jadwal penetapan akhir masih menunggu perampungan evaluasi di Komisi Suksesi, modal pengalaman anggaran, penguasaan peta masalah daerah, serta rekam jejak di Bappeda menempatkan Agus Ismail pada posisi paling strategis untuk memimpin jajaran ASN Kabupaten Garut. (Yuyus)



.png)







