GOSIPGARUT.ID — Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) Kabupaten Garut memasuki babak baru. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Ardhy Firdian, terpilih secara aklamasi memimpin DPC Himpunan Alumni IPB Garut periode 2026–2030 dalam musyawarah anggota terbaru. Kepemimpinan ini menandai pergeseran fokus organisasi: tak lagi sekadar ajang reuni, melainkan difokuskan menjadi think tank dan mitra strategis pemda.
Di bawah kepengurusan keempat sejak berdiri pada 2005, organisasi ini membidik efektivitas kontribusi akademis terhadap kebijakan publik lokal. Ardhy menyebut mandat musyawarah sangat tajam untuk menggenjot peran riil di sektor pertanian daerah.
”Mandat dari anggota sangat jelas. Kami ingin komunitas ini memiliki peran nyata dan strategis bagi pembangunan Kabupaten Garut, terutama di sektor pertanian,” kata Ardhy saat dihubungi usai musyawarah.
Konsolidasi Basis Data 250 Alumnus
Potensi modal manusia organisasi ini sejatinya tak kecil. Saat ini, terdapat sekitar 250 alumnus IPB yang tercatat berkiprah di Kabupaten Garut, tersebar di instansi pemerintahan hingga korporasi swasta. Latar belakang multidisiplin para alumni dinilai linier dengan kebutuhan teknis daerah.
Namun, persoalan klasik jaringan alumni masih membayangi: belum semua lulusan terdata dalam basis data resmi. Karena itu, konsolidasi organisasi dan perekrutan ulang lulusan di wilayah Garut ditempatkan sebagai agenda mendesak pengurus baru.
Langkah ini dirancang untuk memastikan peta kepakaran (expert mapping) para alumni teridentifikasi utuh sebelum diterjunkan dalam program kemitraan daerah.
Menggeser Diskusi Menjadi Eksekusi
Forum diskusi, seminar, dan sumbang saran yang selama ini menjadi kebiasaan organisasi tetap dipertahankan. Perbedaannya terletak pada hasil akhir (output). Gagasan yang lahir dari para pakar tidak lagi dibiarkan mengendap sebagai wacana di atas kertas, melainkan ditargetkan menjadi formulasi kebijakan dan penerapan teknologi pertanian tepat guna.
Rangkap jabatan Ardhy—sebagai birokrat teknis sekaligus ketua organisasi alumni—membuka peluang pemangkasan sekat birokrasi. Transfer inovasi pertanian dari perguruan tinggi ke lapangan diharapkan berjalan lebih presisi dan cepat.
“Silaturahmi tetap penting untuk menjaga kekompakan, tetapi kami ingin kiprah organisasi ini jauh lebih besar dan berdampak. Kolaborasi antaralumni harus diperkuat agar kontribusi kita terhadap Garut semakin terasa,” tutur Ardhy.
Di tengah isu ketahanan pangan daerah yang kian krusial, keberadaan jaringan pakar yang terintegrasi menjadi aset penting. Ujian utama kepengurusan baru ini terletak pada sejauh mana kepakaran akademis para alumnus mampu menjawab persoalan nyata para petani di Garut. (Yuyus)



.png)






