GOSIPGARUT.ID — Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Slamet Garut mengalami krisis kapasitas. Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang sejatinya dirancang menampung 47 tempat tidur kini harus berdesakan memproses hingga 90 pasien setiap hari. Kondisi darurat ini memicu gelombang keluhan warga sekaligus memicu inspeksi mendadak dari Komisi IV DPRD Kabupaten Garut pada Senin, 28 September 2026.
Ketimpangan fasilitas medis di daerah tersebut kian nyata: dari kebutuhan ideal 2.900 tempat tidur di seluruh Garut, RSUD dr. Slamet sebagai benteng rujukan utama hanya sanggup menyediakan 383 unit.
Kenyamanan Anjlok, Pelayanan Medis Diklaim Tetap Berjalan
Ketua Komisi IV DPRD Garut, Asep Rahmat, menegaskan bahwa penumpukan pasien yang drastis berdampak langsung pada kenyamanan ruang rawat, meski ia mengklaim standar tindakan medis darurat tidak dikurangi.
”Kapasitas yang dimiliki memang terbatas. Di UGD, kapasitasnya 47 tempat tidur, namun kenyataannya pasien mencapai 90-an orang,” ujar Asep usai berdiskusi dengan manajemen rumah sakit.
“Saya pastikan pelayanan tidak berkurang, cuma kenyamanan yang terganggu karena fasilitas yang ada sedang diusahakan penambahannya,” tambahnya.
Anggota Komisi IV DPRD Garut, Yudha Puja Turnawan, menilai kondisi ini menunjukkan ketimpangan sistemik antara kebutuhan layanan kesehatan warga dan ketersediaan infrastruktur medis di Garut. Walau Kementerian Kesehatan telah merencanakan alokasi tambahan 80 tempat tidur hingga total menjadi 463 unit, eksekusinya terhambat oleh keterbatasan ruang fisik bangunan RS.
Jurus Darurat Manajemen: Siasati Bed Turnover
Direktur RSUD dr. Slamet Garut, dr. Inge Andriani Heriawan, mengungkapkan bahwa gelombang pasien tak hanya memadati RSUD dr. Slamet, melainkan merata di berbagai fasilitas kesehatan di Garut. Karena penambahan gedung memerlukan izin operasional yang memakan waktu, manajemen mengambil langkah terobosan dengan mempercepat perputaran tempat tidur (bed turnover).
Tiga taktik utama diterapkan guna mencegah penolakan pasien:
Ruang Transisi: Tempat penampungan darurat bagi pasien baru sebelum dipindahkan ke ruang rawat inap. Tindakan medis dan terapi obat dari dokter spesialis tetap diberikan secara langsung.
Percepatan Visite Dokter: Jadwal pemeriksaan dokter spesialis digeser ke pagi hari agar pasien yang sudah pulih dapat segera dipulangkan.
Ruang Transit Pulang: Pasien yang telah diizinkan pulang dipindahkan ke ruang khusus sembari menunggu penjemputan atau resep obat, sehingga ranjang rawat inap bisa langsung diisi pasien baru.
”Kami berusaha keras tidak menolak pasien. Karena menambah ruangan tidak bisa serta-merta, fokus kami adalah mempercepat perputaran pasien,” tutur dr. Inge.
Desakan Anggaran APBD dan Pembelian Cath Lab
Melihat krisis yang terus berulang, DPRD Garut mendesak Pemerintah Kabupaten Garut turun tangan mengintervensi anggaran. Yudha Puja Turnawan meminta Bupati Garut mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) maupun Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) untuk melengkapi fasilitas penanganan penyakit kritis.
Salah satu fokus utamanya adalah pengadaan Catheterization Laboratory (Cath Lab) untuk penanganan serangan jantung. ”Banyak pasien serangan jantung dari Garut yang harus dirujuk ke Bandung karena kita belum punya fasilitas pemasangan ring jantung. Jika ada Cath Lab, rujukan keluar bisa diminimalisir dan pendapatan RS bertambah,” tegas Yudha.
Selain dorongan fisik, perbaikan internal juga menyasar sumber daya manusia. RSUD dr. Slamet akan menggelar pelatihan Service Excellent bagi tenaga medis guna memperbaiki pola komunikasi dan gestur pelayanan, sekaligus membuka jalur pengaduan langsung bagi warga yang merasa dirugikan. (Yuyus)



.png)






