GOSIPGARUT.ID — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan akan turun langsung menangani kondisi Siti Nur Rahayu, atlet Rugby asal Kabupaten Garut yang tengah terbaring sakit akibat pecah usus dan kesulitan mendapatkan penanganan medis karena tidak memiliki BPJS Kesehatan.
Dedi mengungkapkan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada Kamis (5/2/2026) akan membawa Siti ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang dibutuhkan. Langkah ini diambil setelah kisah pilu Siti tersiar melalui pemberitaan media nasional.
“Terima kasih kepada media, khususnya Kompas TV, yang telah menceritakan kisah pilu ini. Pemerintah Provinsi Jawa Barat hari ini juga akan turun langsung untuk membawa Siti ke rumah sakit,” kata Dedi dalam unggahan akun Tik Tok pribadinya, dilihat GOSIPGARUT.ID Kamis (5/2/2026).
Namun, Dedi juga menyampaikan permohonan maaf kepada publik lantaran pemerintah provinsi baru mengetahui kondisi Siti justru dari pemberitaan media, bukan dari laporan pemerintah daerah setempat.
“Kami mohon maaf karena baru mengetahui peristiwa ini dari Kompas TV, bukan dari pemerintah setempat,” ujarnya.
Dedi menegaskan, Pemprov Jawa Barat membuka pintu selebar-lebarnya bagi warga yang mengalami kesulitan mengakses layanan kesehatan. Ia mengajak masyarakat untuk tidak ragu melapor jika menghadapi kondisi serupa.
“Bagi siapa pun warga Jawa Barat yang sakit dan tidak memiliki akses layanan kesehatan, silakan datang ke Balai Pengaduan Lembur Pakuan atau ke Gedung Sate, Bandung. Kami terbuka untuk melayani,” tegasnya.
Sebelumnya, sejumlah media memberitakan kisah memilukan yang dialami Siti Nur Rahayu. Siti merupakan satu-satunya atlet Rugby asal Garut yang membela daerahnya pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) 2024. Namun, alih-alih menikmati hasil perjuangannya sebagai atlet, Siti kini harus berjuang melawan penyakit serius.
Siti diketahui menderita pecah usus dan membutuhkan tindakan operasi segera. Keterbatasan biaya serta ketiadaan kepesertaan BPJS Kesehatan membuat proses penanganan medisnya terkendala, hingga akhirnya ia hanya bisa terbaring lemah.
Kisah Siti pun memantik keprihatinan publik sekaligus sorotan terhadap sistem perlindungan bagi atlet daerah, terutama setelah masa pengabdian mereka di ajang olahraga nasional berakhir. ***

.png)
























