GOSIPGARUT.ID — Proyek fisik yang dibiayai Dana Desa di sejumlah wilayah Garut menuai sorotan. Sejumlah warga menyesalkan sikap kepala desa yang lebih memilih menggarap proyek bersama pengusaha luar ketimbang memberdayakan warga dan pelaku usaha lokal.
Bukan hanya tenaga kerja, material bangunan pun kerap diboyong dari luar desa. Akibatnya, toko bahan bangunan setempat tak kebagian rezeki. “Kasihan toko-toko di sini cuma jadi penonton. Semua dibawa dari luar,” keluh Wawan, warga Garut Selatan, Sabtu, 9 Agustus 2025.
Wawan menilai praktik itu memang tak melanggar aturan, tetapi jelas mencederai semangat Dana Desa yang salah satunya untuk menggerakkan ekonomi lokal. “Kalau kerja bakti atau kegiatan sosial, yang pertama dimintai tolong itu warga. Tapi kalau proyek yang ada uangnya, malah orang luar yang dilibatkan,” katanya.
Nada serupa diungkap Heru, warga lain. “Tugas kepala desa itu mensejahterakan warganya. Kalau yang menikmati proyek Dana Desa justru orang luar, lalu apa manfaatnya buat kami?” ujarnya.
Beberapa kepala desa yang dikonfirmasi GOSIPGARUT.ID tak membantah tudingan itu. Hanya saja, mereka enggan membeberkan alasannya. “No comment,” jawab singkat seorang kepala desa.
Sumber internal menyebut, kepala desa kerap merasa lebih nyaman menggandeng pihak luar karena dianggap lebih menguntungkan secara finansial dan minim risiko hubungan sosial. “Kalau mau kongkalikong, sama orang luar itu tidak sungkan. Kalau sama warga sendiri, suka rikuh,” ujarnya.
Bagi warga, kebijakan semacam ini membuat Dana Desa kehilangan ruhnya. “Tujuannya kan membangun desa dan warga, bukan membesarkan kantong orang luar,” kata Wawan. ***



.png)












Cek