GOSIPGARUT.ID — Puluhan hektare pohon pisang di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, kering dan mati sehingga gagal panen dan mengakibatkan petani merugi puluhan juta rupiah. Matinya pohon pisang itu diakibatkan terserang penyakit yang yang disebut Aids, dan hingga saat ini belum ada disinfektan yang bisa menanggulanginya.
Menurut keterangan Kepala Desa Sagara Alit Saripudin, penyakit yang menyerang tanaman pisang di Desa Sagara sangat misterius karena pohon pisang tiba-tiba layu dan daunnya kering. Jika sedang berbuah, pisang tersebut di dalamnya berwarna hitam. Anehnya, jika satu pohon pisang terkena Aids, tidak lama kemudian semua pohon pisang akan mengalami hal serupa.
“Petani saat ini sedang rugi, pohon pisang terkena penyakit. Anehnya, jika satu pohon terkena penyakit itu imbasnya semua pohon akan mengalami hal serupa secara misterius,” kata dia kepada GOSIPGARUT.ID, Selasa (28/6/2023).
Alit menambahkan, pisang merupakan salah satu komoditas pertanian andalan Desa Sagara. Namun sejak ada penyakit Aids petani sering rugi karena gagal panen.
“Penyakit ini ada sejak tahun 90-an dan hingga kini tidak ada obatnya. Itulah yang menyebabkan petani frustasi karena menanam pohon pisang sering kali gagal panen,” jelas dia saat menunjukkan pohon pisang yang mati karena Aids.
“Dulu sebelum ada Aids, petani semangat menanam pisang karena menguntungkan, namun sejak ada Aids banyak petani yang beralih menanam pohon karet dan albasia,” imbuh Alit.
Menurut dia, secara ekonomi pohon pisang lebih menguntungkan karena masa tanamnya singkat dan bisa dipanen secara bergantian. Sayang, sejak terkena Aids petani terus merugi.
Untuk mengantisipasi kerugian petani, kata Alit, pihak pemerintah desa terus mengedukasi masyarakat agar tetap mau bertani dengan beralih menanam kapulaga, cabai, dan pepaya, sayangnya kerugian petani belum berakhir karena tidak ada jaminan harga jual ketika panen.
Ia menjelaskan, Desa Sagara dengan luas mencapai 5000 hektare dan dihuni oleh 4600 kepala keluarga mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan menggantungkan kehidupannya dari situ.
“Persoalan mendasar minimnya sumber daya manusia karena keahlian bertani didapatkan secara turun temurun. Jika ada penyakit tidak bisa mengatasinya ditambah sebagian warga banyak yang tidak memiliki lahan untuk bertani dan hanya bekerja sebagai buruh paro, diperparah dengan langkanya pupuk dan tidak ada jaminan harga jual saat petani panen,” terang Alit.
“Dampak gagal panen ini sangat besar di antaranya petani yang punya cicilan ke bank tidak bisa membayar, mau meminjam lagi untuk modal bertani sulit karena terkendala aturan dan lainya,” sambungnya.
Alit meminta pemerintah segera turun tangan mengatasi persoalan ini agar pertanian di Desa Sagara bisa kembali bergeliat sehingga ekonomi warga bisa kembali terdongkrak. (Ai Karnengsih)



.png)











