oleh

Layani Pembeli dari Bandung hingga Garut Selatan, Pedagang Mie Bakso Motor Ini Beromzet Rp1 Juta/Hari

GOSIPGARUT.ID — Berbagai cara dilakukan para pedagang untuk melariskan barang dagangannya. Salah satu cara yang dilakukan Mang Atep (48), pedagang mie bakso dari Kampung Cikikisik, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, ini boleh dibilang sedikit ekstrim.

Betapa tidak, jiga sebelumnya ia menjajakan barang dagangannya dengan cara dipikul dan cukup berkeliling kampung, sekarang cara berdagang Mang Atep dengan menggunakan sepeda motor. Ia bergerak melayani pembeli di atas jalan mulus dengan daya tempuh sepanjang puluhan kilometer.

“Saya melayani pembeli hingga ratusan orang tiap hari, mulai dari Pangalengan (Kabupaten Bandung) hingga Kecamatan Caringin di Garut Selatan,” kata Mang Atep, mengawali pembicaraannya ketika bersua di Kampung Sawahlega, Desa/Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Rabu (23/9/2020).

Saat itu Mang Atep dalam perjalanan dari Kecamatan Cisewu menuju Caringin. Saat diberhentikan sekira pukul 13:00 WIB, barang dagangannya masih lumayan banyak, namun katanya orang yang membeli mie baksonya sudah cukup banyak. Ia sudang mengantongi omzet penjualan sebesar Rp450 ribu.

Baca Juga:   Masak Tempe Nugget, Praktis dan Sehat Euy....!

“Tadi mulai ada yang beli di suatu tempat di Kecamatan Talegong. Cuma seorang dan hanya beli senilai Rp10 ribu. Kemudian di Desa Nyalindung, Kecamatan Cisewu (sekitar 15 kilometer dari pusat kecamatan). Lumayan di sini pembelinya agak banyak. Dan lebih banyak lagi ketika masuk Desa Mekarsewu dan Cisewu, alhamdulillah setengah barang dagangan saya sudah habis,” paparnya.

Mang Atep mengaku, barang dagangannya selalu habis setiap harinya dengan omzet Rp1 juta. Ia berangkat dari rumahnya di Kampung Cikikisik, Pangalengan, Bandung, sekira pukul 09:00 dan sapai di ujung wilayah berjualannya (Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut) sekira pukul 16:00.

Ia pun mengaku senang berdagang di atas jalan mulus sepanjang 60 kilometer itu. Alasannya, selain kondisi jalan yang enak dilalui, juga pembeli yang menggemari mie baksonya cukup banyak dan baik.

Baca Juga:   Trik Sederhana Minimalisir Makan Hidangan Lebaran Secara Berlebihan

“Para pembeli mie bakso saya paling banyak di Kecamatan Cisewu dan Caringin. Kalau di Kecamatan Talegong jarang ada yang beli, cuma satu dua orang. Makanya ketika melewati wilayah Talegong, laju sepeda motor saya pun agak kencang, dan baru diperlambat saat masuk wilayah Cisewu,” ujar ayah beranak tiga ini.

Mang Atep menambahkan, para pembeli yang hendak membeli mie baksonya sudah menunggu di pinggir jalan. Ia jarang menemui pusat-pusat keramaian atau tempat-tempat tertentu untuk menjajakan barang dagangannya. “Cara dagang yang saya lakukan semata-mata hanya bergerak di jalan provinsi Bandung — Garut Selatan, mengandalkan pembeli yang ada di pinggir jalan. Tapi walaupun demikian, dagangan saya selalu habis tiap harinya,” kata dia.

Menurut Mang Atep, para pembeli di Cisewu dan Caringin cukup baik dan ramah. Tiap mereka membeli satu porsi mie baksonya tidak kurang dari Rp10 ribu sampai Rp15 ribu. Tapi ada juga yang membeli agak royal, seporsi sampai Rp20 ribu. “Sepengetahun saya, di antara pembeli itu kebanyakannya pembeli yang sudah biasa. Pembeli barunya bisa dihitung dengan jari,” ucapnya.

Baca Juga:   Tumis Kangkung Terasi Bisa Jadi Menu Makan Malam

Mang Atep menjelaskan, terjun menjadi pedagang mie bakso sudah dijalaninya selama 10 tahun lalu. Dari kurun waktu itu, selama delapan tahun berjualan secara pikul dan keliling kampung di sekitar Cikikisik, Pangalengan, dan dalam dua tahun terakhir ia berjualan dengan sepeda motor dan bergerak di jalur Bandung – Garut Selatan.

“Saya setiap hari berjualan, tidak ada ada hentinya kecuali sakit. Dari rumah saya berangkat pukul 09:00, sampai di ujung wilayah berdagang (Desa Sukarame, Kecamatan Caringin) pada pukul 16:00. Setelah habis barang dagangan saya pun pulang, dan sampai rumah biasanya pukul 20:00,” terang Mang Atep. (A Rodiaman)

Komentar

Berita Terkait