GOSIPGARUT.ID — Berawal dari kesamaan emosi dan kegemaran dalam mengenakan aksesoris yang berbau budaya Sunda, 18 anak muda di Garut Selatan ini membentuk komunitas budaya yang memiliki idealisme untuk melestarikan budaya Sunda di kalangan generasi muda.
Komunitas ini juga sengaja dibentuk untuk merekatkan tali silaturahmi di antara mereka, di samping tentunya menyatukan kreatifitas masing-masing personel dalam berkesenian.
“Komunitas yang kami bentuk bernama ‘Sunda Mahiwal’. Artinya, sebuah komunitas budaya Sunda yang lain dari yang lain atau unik,” kata Ketua Komunitas “Sunda Mahiwal”, Eka Yuswanto, di markasnya Jalan Purwabakti, Desa/Kecamatan Cisewu, Senin (28/10/2019).
Ia menjelaskan, komunitas yang berpersonel terdiri dari Eka Yuswanto, Arif Ozan, Galuh Wiwitan, Cep Sandi, Yadi Supriyadi, Egis Sugestian, Dik Dik Gunardi, Heri Obos, Ade S, Crismawan, Taufik, Wim Boyke, Alex, Atuk RC, Mardiansyah, Yasir, dan Hikam ini, berdiri pada April 2017.
“Saat itu kondisi grup seni dan budaya tradisional di Garut Selatan, khususnya di Kecamatan Cisewu, banyak yang bubar. Maka, kehadiran ‘Sunda Mahiwal’ semata-mata untuk menyelamatkan grup seni dan budaya tradisonal Sunda dari kepunahan,” terang Eka.

Kaitannya dengan ancaman kepunahan, ditambahkan personel “Sunda Mahiwal”, Galuh Wiwitan, bahwa dengan banyaknya kelompok seni dan budaya Sunda di Garut Selatan yang bubar, pihaknya merasa prihatin. Sebab dengan begitu etika dan moral kesundaan di kalangan anak muda pun terancam hilang.
“Lebih prihatin lagi, di tengah terjadinya dekadensi moral dan etika kesundaan di kalangan anak muda, perhatian pemerintah untuk membangkitkan lagi budaya Sunda, sangat minim. Berangkat dari situlah, kami ingin sekali komunitas ‘Sunda Mahiwal’ benar-benar menjadi oase di tengah kegersangan perhatian terhadap budaya Sunda itu,” ujar dia.
Galuh menegaskan, setelah berdirinya “Sunda Mahiwal” ternyata ancaman hilangnya kepedulian anak muda terhadap seni dan budaya Sunda itu dapat dienyahkan. Karena faktanya, simpati warga terhadap kiprah kelompok ini cukup besar.
“Terlebih setelah kami memiliki grup seni yang mampu mengkolaborasikan sejumlah alat seni tradisional Sunda (saron, gambang, suling, gitar, kendang, karinding, keyboard, dan kazon), animo masyarakat Garut Selatan untuk mementaskan grup seni ‘Sunda Mahiwal’ cukup besar,” ujarnya.

Menurut Galuh, banyak event kebudayaan yang digelar di sejumlah kecamatan di Garut Selatan yang melibatkan komunitas “Sunda Mahiwal”. Bahkan tidak hanya di Garut Selatan, pada sejumlah event seni budaya yang berlangsung di Kabupaten Bandung pun komunitas “Sunda Mahiwal” sering dilibatkan.
“Event-event itu cukup beragam. Ada yang diselenggarakan oleh lembaga pemerintah, swasta, maupun yang dilangsungkan oleh pribadi. Seperti halnya dalam pesta perikahan, tidak sedikit yang meminta kami untuk menggelar hiburan,” ucap dia. ***



.png)











